Tuntaskan Skripsi Demi Misi

Oleh Fr. Henrikus Prasojo, OMI

Skripsi sering kali menjadi beban berat bagi mahasiswa/i yang menjalani tahun terakhir program studi sarjana. Tidak jarang mahasiswa/i tertunda dalam hal kelulusannya karena tidak menyelesaikan tugas akhir yang sangat spesial ini. Saya pribadi merasa resah dan khawatir ketika akhirnya memulai semester VII. Muncul keresahan dan kegelisahan untuk menghadapi tugas akhir menulis skripsi ini. Terkadang muncul pertanyaan dalam diri sendiri apakah saya bisa menyelesaikannya dengan baik? Nanti bisa lancar atau tidak ya mengerjakannya? Nanti bisa selesai tepat waktu tidak ya? Kegelisahan itu cukup mengganggu dan mengusik saya secara pribadi, namun saya sadar bahwa tinggal dalam kegelisahan saja tidak akan membuat diri saya maju dan berkembang. Di tengah kegelisahan itu saya terkesan dengan pesan Santo Eugenius kepada Pastor Mille yang berkarya di Paroki Billens, “Satu hal saja kuminta dari padamu, semoga kamu tidak merasa menderita karena studi.” Dalam suratnya itu, Santo Eugenius de Mazenod berpesan agar setiap oblatnya setia mengembangkan diri dalam studi. Begitu pula ketika harus menghadapi tugas akhir ini, saya belajar untuk menanam kesetiaan dibandingkan rasa gelisah yang tak menentu.

Pergulatan batin saat di awal ternyata bukanlah satu-satunya persoalan yang saya hadapi. Ketika mulai berproses, saya semakin sadar bahwa ini bukan tugas paper biasa. Mengerjakan skripsi membuat saya meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca aneka buku, dan ternyata tidak mudah untuk menggabungkan aneka gagasan yang sudah saya baca sehingga menjadi suatu kerangka pikir yang khas berasal dari saya sebagai penulis skripsi.

Yang lebih unik lagi, Fakultas Teologi Wedabhakti adalah fakultas khusus pendidikan calon imam di mana pendidikan tidak berakhir di Semester VII atau Semester VIII. Di beberapa fakultas lain, para mahasiswa/i yang mengerjakan skripsi tidak punya tanggungan SKS yang cukup besar di semester VII dan VIII, sedangkan bagi para mahasiswa FTW, masih ada tanggungan SKS untuk diselesaikan sampai ke Semester XI nanti.

Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dibuat sebagai “daftar beban” atau “daftar kesulitan” yang bisa saya sebutkan bagi para frater yang mengerjakan skripsi, tetapi saya sadar bahwa saya tidak mau fokus pada setiap kesulitan yang ada. Saya merasa, apabila saya terlalu berfokus pada kesulitan yang saya hadapi, saya tidak akan bisa maju, selalu mengeluh bahkan cenderung terbebani dengan pengerjaan skripsi ini. Di saat-saat seperti inilah saya teringat pesan St. Eugenius de Mazenod seperti yang sudah saya ungkapkan di atas bahwa “Semoga kamu tidak menderita karena studi.” Tanpa menjadikannya terlalu santai tanpa ada tanggung-jawab, saya tidak mau menjadikan skripsi ini sebagai sebuah beban, atau seakan-akan menjadi frater paling menderita di komunitas karena ada tuntutan yang amat berat dan seterusnya. Saya lebih memilih mengerjakannya dengan tenang, sambil memupuk kesetiaan, memupuk rasa tanggung-jawab sehingga bisa merasa lebih rileks dalam pengerjaan.

Untuk mendukung suasana seperti itu, saya tetap mengambil beberapa kegiatan pastoral komunitas dan juga kegiatan-kegiatan lainnya. Biasanya frater yang sedang mengerjakan skripsi mendapatkan dispensasi di dalam komunitas untuk fokus hanya mengerjakan skripsi, tetapi saya tidak terlalu banyak menggunakan dispensasi itu supaya saya bisa lebih rileks dalam mengerjakan skripsi. Hal ini saya pilih karena saya sadar bahwa ketika saya terlalu memusatkan perhatian hanya pada ‘satu’ hal saja, resiko terhadap tingkat stress saya akan makin tinggi. Setiap sabtu saya bersama Fr. Togar, Fr. Rico melakukan pelayanan rohani di Lapas Wirogunan, Rutan Bantul, dan Lapas Pakem. Pastoral bersama teman-teman warga binaan di Pakem membantu saya untuk menyegarkan pemikiran saya dan selalu membawa inspirasi baru untuk kembali melanjutkan skripsi saya.

Dengan tetap mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas, saya merasakan adanya dukungan dan semangat dari anggota komunitas yang lain. Saya sendiri merasakan manfaat yaitu pikiran saya menjadi segar dan ringan. Dengan pikiran yang segar itu semakin memudahkan saya untuk berkonsentrasi saat mengerjakan skripsi. Hal lainnya yang membantu saya adalah saat-saat doa pribadi. Dalam doa pribadi saya menemukan ketenangan dan juga kekuatan dari Tuhan. Hal itu sangat memberi daya dorong besar untuk menyelesaikan skripsi ini dengan penuh rasa tanggung-jawab.

“Tuntaskan skripsi demi misi”. Tulisan ini yang ada di desktop komputer yang saya gunakan untuk mengerjakan skripsi. Tulisan ini selalu membantu saya untuk memotivasi diri, bahwa menyelesaikan studi bukanlah semata-mata untuk kepentingan diri saya sendiri. Menyelesaikan skripsi sendiri sudah merupakan misi, dan setelah misi ini selesai, tentu sudah ada misi berikutnya yang menunggu saya. Semangat seperti itulah yang juga menggerakkan dan mendorong saya untuk setia dalam pengerjaan skripsi ini.

Perjalanan mengerjakan skripsi guna menuntaskan studi S1 bukanlah semata-mata untuk diri sendiri. Banyak umat dan kenalan memberikan dukungan moril dan semangat selama mengerjakan skripsi ini. Di balik itu ada banyak harapan umat yang menantikan kehadiran gembala-gembala bagi Gereja. Di balik skripsi atau studi (secara lebih luas), ada harapan umat akan terjawabnya misi-misi Gereja masa kini. Menyelesaikan skripsi dalam kerangka studi juga begitu, yaitu merupakan misi untuk menjawab misi-misi berikutnya.

Perjalanan ini pun belum berakhir, mengingat bahwa studi adalah proses seumur hidup. Orang tidak akan pernah berhenti belajar dalam hidupnya. Bahwa saya telah menyelesaikan “salah satu” dari tahapan studi adalah benar, tetapi saya mencoba untuk tidak berpuas diri dan berhenti sampai di sini. Masih banyak hal yang perlu saya siapkan untuk menjawab misi-misi berikutnya. Berpegang teguh pada apa yang disampaikan oleh Santo Eugenius de Mazenod, saya percaya bahwa studi bukanlah beban dan penderitaan, melainkan sarana menjalankan misi secara lebih baik di kemudian hari. Semoga kita semua bersemangat dalam proses studi seumur hidup, dan tidak menderita karenanya. Terpujilah Yesus Kristus.

.