TAHUN BARU : MERAYAKAN HARAPAN, MELANGKAH KE PEMBARUAN

Penulis : Rm. Antonius Widiatmoko, OMI / Rektor Seminari Tinggi OMI – Yogyakarta

Bagi kebanyakan orang, peristiwa Malam Tahun Baru merupakan peristiwa yang istimewa. Biasanya lalu dirayakan dengan macam-macam kegiatan yang berciri kemeriahan, seperti: tiup terompet, nyalakan kembang api dan petasan, tak jarang kemudian dilanjutkan dengan convoy kendaraan oleh orang-orang muda. Begitulah biasanya, kecuali pada tahun baru 2021 ini selain karena alasan pandemi covid-19 juga karena turunnya hujan (menurut ramalan BMKG). 

Pertanyaannya, mengapa setiap pergantian tahun terasa istimewa? Apa yang membuat penyambutan tanggal 1 Januari menjadi lebih istimewa dibandingkan tanggal-tanggal lainnya? Bukankah sebenarnya setiap tanggal adalah juga pergantian hari yang dapat dirayakan?

Para frater bakar sate, ritual tahun baru

Hal yang membuatnya istimewa sebenarnya adalah harapan. Orang-orang mengharapkan sesuatu dari apa yang akan datang, yang sebenarnya masih bersifat misteri. Harapan itu sudah ada dalam hati dan pikiran setiap orang. Biasanya yang diharapkan akan terjadi adalah sesuatu yang sifatnya lebih baik daripada sebelumnya. Harapan ini adalah kekayaan hidup setiap insan. Justru karena yang diharapkan ini belum terlihat secara gamblang di depan mata, itulah yang membuat pergantian tahun menjadi menarik, istimewa. 

Berbahagialah orang yang masih berani berpengharapan dalam hidupnya! Harapan inilah api yang membuat orang dapat bertahan dalam kesulitan, melangkah dalam ketidakpastian. Harapan inilah yang membuat orang tetap hidup. Asalkan orang masih berani berpengharapan, hidupnya masih akan terus berlangsung. Dan ingatlah, oleh karena untuk berpengharapan sama sekali tidak dikenai biaya apapun alias gratis, maka terasa amat menyedihkanlah hidup orang yang tidak berpengharapan dan kemudian malah memilih jalan pintas dengan bunuh diri.

Pengharapan itu adalah sikap iman. Di atas semua harapan yang bisa kita impikan, yang paling utama pengharapan itu didasarkan pada Tuhan sendiri yang kesetiaan cintaNya tanpa batas kepada kita. Dalam Dialah kita mempercayakan jiwa dan perjalanan hidup kita. Inilah pengharapan tertinggi dari sikap seorang beriman. Hal-hal lain yang diimpikan bisa jadi belum jelas, namun satu hal yang pasti tidak pernah akan meleset yaitu bahwa cinta Tuhan itu setia dan tak bersyarat.

Misa rutin bulanan untuk Umat Berkebutuhan Khusus
di kapel Seminari Tinggi OMI Yogyakarta

Kepercayaan akan penyertaan kasih Tuhan inilah yang sekaligus memberanikan orang beriman untuk memohon ampun atas segala salah-kelalaian-dan kekurangannya, mensyukuri perjalanan yang telah dilaluinya di tahun terdahulu, dan memperbarui dirinya di tahun yang baru. Pengharapan dan keyakinan bahwa berkat pertolongan rahmat Allah dirinya akan mampu melangkahkan kaki menjadi pribadi lebih baik. Terkait soal ini, yang terpenting kiranya bukan seberapa jauh lompatan ke depan yang kita buat, namun sudahkah kita mengayunkan kaki untuk berpindah dari titik semula ke titik berikutnya. Biarpun jaraknya pendek saja, tidak apa-apa. Yang penting sudah melangkah ke depan. Itulah kesucian!!

Menjadi suci, kiranya bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Bagi beberapa orang, seperti misalnya St. Paulus atau St. Fransiskus, menjadi suci itu sepertinya tiba-tiba.  Namun bagi kebanyakan orang seperti kita, menjadi suci itu suatu proses terus-menerus dalam diri seseorang yang memerlukan suatu disiplin diri untuk melaksanakan pembenahan diri demi pembenahan diri. Melaksanakan pembaruan diri terus-menerus yang didasarkan pada semangat pertobatan kiranya sudah merupakan kesucian itu sendiri. Pada akhirnya yang akan bersaksi apakah hidup kita berbuah baik atau tidak adalah mereka yang ada di sekitar kita, terutama orang-orang kecil dan sederhana.

Akhirnya, kita ucapkan syukur dan terimakasih untuk Tahun 2020 dengan segala pengalamannya, dan selamat datang untuk Tahun 2021. Mari kita rayakan api pengharapan yang sudah ada dalam diri kita masing-masing, dan dengan rendah hati kita mohonkan berkat Tuhan agar harapan tersebut pada akhirnya membuahkan kesucian yang ditandai oleh langkah-langkah konkret pembaruan diri terus-menerus setiap hari, bukan lagi setahun sekali. 

Kegiatan rutin para frater mendonorkan darah, kerjasama dengan PMI Sleman