Sejarah OMI Provinsi Indonesia

OMI Provinsi Indonesia berdiri sejak 21 Mei 1993.Awalnya terdiri atas tiga Delegasi dari tiga Provinsi yang berbeda. Delegasi OMI yang berkarya di P Jawa sejak tahun 1971 berasal dari Provinsi Australia, Delegasi OMI yang berkarya di Kalimantan Barat sejak tahun 1977 dari Provinsi Perancis dan Delegasi OMI yang berkarya di Kalimantan Timur sejak 1977 berasal dari Provinsi Itali. Proses penyatuan ketiga  Delegasi melalui beberapa pertemuan yang dimulai sejak tahun 1982

Delegasi  Jawa

Proses mengambil keputusan

Bapak Uskup Schoemacher MSC pada tahun 1960an menjajagi apakah ada kemungkinan Provinsi OMI Australia ,  mengutus beberapa Missionarisnya  untuk bekarya di Keuskupan Purwokerto- Jawa Tengah. Menanggapi undangan tersebut, Rm Bill Cagney – Provinsial waktu itu mengundang para Oblat untuk mengadakan Kongres Provinsi. Dalam Konggres Provinsi tersebut dibicarakan, apakah Provinsi Australia siap membuka misi  Luar Negeri ?. Jika siap,  ada dua pilihan misi luar negeri : Papua New Guinea atau ke Jawa Tengah- Keuskupan Purwokerto.

Melalui doa dan diskresi yang panjang, Kongres Provinsi memilih Keuskupan Purwokerto sebagai daerah misi pertama di Asia. Inilah misi pertama bagi Provinsi Australia.  Mereka  mendapat dukungan baik materil maupun moril. Konkritnya, mereka  mendapat kunjungan rutin dari Oblat Australia dan kelompok awam yang peduli dan terlibat dalam karya misi ( MAMMI)- memberi bantuan keuangan . Tiga Kolese OMI di Australia (Mazenod College Perth, Mazenod College Melbourne dan IONA College Brisbane) juga mengunjungi mereka secara rutin. Bagi para siswa dan staf Kolese OMI. Kunjungan ini merupakan kesempatan mengenal daerah misi dan mengalami semangat misionaris. Salah satu siswa dari kolese tersebut ada  yang kemudian menjadi Oblat misalnya Greg Watson, Michael Twigg, Cristian Fini.

Misi Awal Di Jawa

Pada akhir tahun 1970, empat  imam pertama yang akan diutus: Pat Moroney, David Shelton, Pat Slatery dan John Kevin Casey. Sambil menunggu visa, tahun 1971 mereka mengikuti kursus bahasa Indonesia Di Australia. Mereka mengalami masa penantian yang melelahkan. Visa baru diperoleh pada bulan Oktober 1971, sehingga ketrampilan berbahasa Indonesia mereka ”hilang” karena tidak dipraktekan dalam waktu lama.

Kedatangan mereka di Jakarta pada tahun 1971 disambut  secara hangat oleh Rm Hardjasoemarta, Provinsial MSC di bandara Kemayoran (mewakili Uskup Purwokerto ?). Selama di Jakarta, mereka tinggal di biara Bruder Budi Mulia, dekat Monas. Hari berikutnya, pagi-pagi benar mereka dikejutkan oleh  pengalaman ”menarik”  karena dibangunkan oleh suara azan dari masjid. Mereka keheranan mengapa hal ini bisa terjadi?.

Hari berikutnya, Uskup Purwokerto Mgr Schoemaker dan sekretarisnya Rm Veegers MSC, menjemput  dan menemani mereka ke Purwokerto. Perjalanan panjang dan melelahkan dari Jakarta ke Purwokerto pada waktu itu sempat memunculkan keraguan dalam diri mereka ’apakah mereka akan sampai tujuan?’. Bisa dibayangankan bagaimana keadaan jalan antara Jakarta-Purwokerto pada tahun 1971: berdebu, kemacetan dan klakson yang berbunyi keras dan berulang-ulang. Setelah mengalami berbagai pengalaman, akhirnya mereka sampai di Purwokerto. Hal ini diyakini sebagai perlindungan dan penyelenggaraan Illahi.

Setelah melengkapi persyaratan Imigrasi di Kantor Imigrasi Cilacap, mereka berempat pergi ke Yogyakarta untuk belajar bahasa Indonesia- menyegarkan kembali kemampuan mereka. Selama di Yogya, mereka tinggal di Bruderan Charitas, Nandan. Setelah menyelesaikan kursus bahasa Indonesia, mereka berkarya di Paroki St. Yosep Purwokerto Timur dan Paroki St. Stephanus Cilacap.

Perkembangan Selanjutnya

Petrus John Mc Laughlin (akhir tahun 1973) dan Charlie Patrick Burrows (9 September 1973) bergabung dengan 4 Misionaris yang telah datang sebelumnya. Sebagai persiapan, mereka belajar bahasa di Universitas Monash, Australia. Mereka membawa dua kendaraan dari Australia untuk melengkapi karya misi yang telah dimulai.

Menyadari kebutuhan akan Imam di Keuskupan Agung Jakarta dan perlunya variasi karya apostolik dimasa mendatang serta pusat OMI di Ibu kota, maka tahun 1975 dibuka Paroki Trinitas, Cengkareng oleh Rm Pat Moroney OMI. Namun dalam perjalanan waktu, mereka mengalami kesulitan untuk  melanjutkan karya misi di Jawa khususnya masalah kesehatan. Pastor Yohanes terkena penyakit Hepatitis yang memerlukan istirahat beberapa bulan dan Pastor Pat Moroney harus pulang ke Australia karena sakit pada tulang punggungnya.

Agar misi tetap berjalan, dikirim beberapa pastor. Pastor Pat Mac Annally (sebagai pastor muda) datang ke Indonesia tahun 1978. Pastor John O’Doherty pada September 1982 (dia sudah lama ingin diutus ke Indonesia). Sedangkan pastor Peter Stoll datang di Indonesia pada Juli 1983 (setelah menunggu Visa 3 tahun lebih) untuk menemani Pastor Yohanes di Seminari Tinggi OMI (Wisma De Mazenod). Pastor Peter tidak belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu di Australia sehingga sempat mengalami kesulitan berkomunikasi .

Awal 1983 pastor David Selton kembali ke Australia. Tahun 1986 Pastor Paul Costelo menjadi Staf Novisiat OMI. Ia kembali ke Australia (hanya beberapa bulan di Novisiat) karena alasan kesehatan dan diganti oleh Pastor Paul Gwynne. Tahun 1987 Paul Gwynne kembali ke Australia dan digantikan Romo John O’Regan. Ia menjadi misionaris Staf Formasi ketika berumur 65 tahun

Panggilan dan Formasi

Salah satu ciri Delegasi Jawa (dari Provinsi Australia) sejak awal mereka mencari calon pribumi. Tahun 1975 ada 2 simpatisan yaitu Thomas Sudiyono dan Cleophas Tintri Hadi Sumarto. Mereka mengenal OMI lewat Rm Patrick Moroney OMI yang berkarya  di Paroki St. Yosep, Purwokerto Timur.  Thomas dan Cleo belajar filsafat terlebih dahulu di Universitas Parahyangan dan tinggal di Seminari Tinggi Bandung sebelum masuk Novisiat.

Pada 15 Januari 1977 dibuka Novisiat pertama di Cilacap (Komunitas Pastoran Cilacap). Pastor Peter John MC Laughlin sebagai Magisternya serta Rm Carolus sebagai Socius. Novis pertama Cleophas Tintri Hadi Sumarto hanya bertahan selama 5 bulan (Mei 1977) dan tak ada Novis  lagi hingga tahun 1981. Pada tahun 1980 ada 8 calon OMI :

  1. Basir Karimanto
  2. Yosep Nugroho
  3. Rumiyanto GS
  4. Estu Pratomo
  5. Sudirman
  6. Dominicus Dawi
  7. Edi Warsadi
  8. Nicolaus Setija Widjaja

Mereka tiggal dan studi di Seminari Tinggi St Paulus, Kentungan, Jogjakarta sebelum memiliki Rumah sendiri. Mereka studi Filsafat sebelum menjadi Novis.

Pada tahun 1981 disepakati untuk mendirikan Rumah Pendidikan di Yogjakarta. Maka dimulailah segala persiapan untuk mendirikan rumah untuk Pendidikan. Setelah memperoleh tanah seluas 600 m2 di dusun Dero, Kelurahan Condongcatur, dimulailah pembangunanya dengan peletakan batu pertama pada Januari 1982. Dalam proses pembangunanya pada tahap awal diprioritaskan pada bangunan pokok: Kamar-kamar, Dapur dan Ruang Cuci.

29 Juli 1982 merupakan tonggak sejarah bagi Rumah Pendidikan yang diberi nama Wisma De Mazenod. Pada waktu itu, terjadilah perpindahan:

  • 8 Calon Oblat pindah dari Seminari Tinggi St.Paulus, Kentungan, Jogja
  • 4 Orang calon baru dari Seminari Menengah Mertoyudan.
  • Rm Yohanes Kevin Casey OMI pindah dari Paroki St. Yosep Purwokerto Timur.
  • Pengangkutan berbagai perlengkapan- misalnya sepeda – dari Cilacap.

Mereka yang pertama menempati Wisma De Mazenod:

  1. Gregorius Basir Karimanto
  2. Yosep Nugroho
  3. Fransiskus Asisi Rumiyanto Goa Seputra
  4. Estu Pratomo
  5. Fransiskus Xaverius Sudirman
  6. Dominicus Dawi – Calon dari Delegasi Itali
  7. Albertus Edi Warsadi
  8. Nicolaus Setija Widjaja
  9. Damianus Mulargono
  10. Wahyu Widodo
  11. Trias Dwi Nugroho
  12. Kuswondo
  13. Rm Yohanes Kevin Casey OMI.

Pada waktu itu Kapel, Ruang Makan dan Garasi Sepeda belum selesai sehingga 2 Kamar digunakan sebagai Ruang Makan dan Kapel. Sepeda di simpan di dalam kamar masing-masing. Bahkan selama beberapa hari mereka harus mandi di Sungai di belakang Wisma De Mazenod. Pemberkatan Wisma De Mazenod  baru dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1983 – Peringatan St. Laurentius Martir – oleh Pastor Austin Cooper OMI, Provinsial Provinsi Australia.

Yoseph Nugroho dan Gregorius Basir Karimanto setelah menyelesaikan Filsafat di Institut Filsafat Teologi, Kentungan, menjalani Novisiat di Philipina Mei 1981 – Mei 1982. Tahun berikutnya Mei 1982 –Mei 1983 Fransiskus Asisi Rumiyanto Goa Seputra menjalani tahun Novisiat di Philipina. Sedangkan Estu Pratomo setelah menyelesaikan Filsafatnya menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Trinitas, Cengkareng  pada tahun 1982.

Bulan Juli 1983 penghuni Wisma De Mazenod bertambah 8 orang:

  1. Gatot Woto Seputra – mantan guru SD ( selama 4 tahun ).
  2. Andreas Darmanto – Lulusan Akademi Kateketik Madiun.
  3. Blasius Sukarjo – Seminari Stela Maris, Bogor.
  4. Bambang Bismo Pranoto – Seminaris Stela Maris, Bogor.
  5. Petrus Pehan Pureklolong – Seminari St Dominggus, Hokeng NTT.
  6. Vincentius Sanam – Seminari Lalian Timor
  7. Heribertus Budi Prihatno – Seminari Petrus Canisius, Mertoyudan.
  8. Ignatius Yulianto – Seminari Petrus Canisius, Mertoyudan

Pada bulan Juli 1984 Wisma De Mazenod bertambah 9 orang lagi:

  1. Nikolaus Ola Paukuma – Asal Flores, Calon dari Delegasi Itali.
  2. Vinsentius Kaya Watun – Asal Flores,Calon dari Delegasi Itali.
  3. Dominikus Pareta- Seminari St. Dominggo, Hokeng, Flores.
  4. Yapi Taum- Seminari St. Dominggo, Hokeng, Flores.
  5. Martinus Suripto- Seminari Petrus Canisius Mertoyudan.
  6. Robertus Enang Raharjanto-Seminari Petrus Canisius Mertoyudan.
  7. Catur Budi Hantoro-Seminari Petrus Canisius Mertoyudan
  8. Lukas Laga Hingin-Mahasiswa STKAT Yogyakarta.
  9. Gustav Sinuor.

Mereka masuk program Pra Novisiat selama satu tahun dengan Magisternya Rm Peter K. Stoll. Mereka juga  kuliah di IFT tetapi sebagai Pendengar dan hanya mengambil beberapa mata pelajaran.

Seiring berkembanganya jumlah calon OMI, diperlukan penambahan fasilitas pendidikan. Tahun 1982 mulai dibangun sebuah Kapel. Gedung ini multi fungsi: untuk Kapel, Perpustakaan dan Ruang kelas. Akhir tahun 1984 dibangun Gedung Pastoran sehingga mereka membentuk komunitas sendiri. Tahun 1985 dibangun Gedung untuk Novisiat (Unit C) setelah mendapat izin dari Keuskupan Agung Semarang pada 23 April 1985 dengan SK N0108/B/III/a- 8/85

Pada 15 Juli 1985 dimulailah Novisiat OMI di Indionesia . Novisiat ini merupakan Novisiat yang ke II (dua).