SANTO EUGENIUS DE MAZENOD ( 1782 – 1861 )

USKUP MARSEILLE – PERANCIS
BAPA PENDIRI
KONGREGASI OBLAT MARIA IMAKULATA (O.M.I)

Oleh: Rm. Antonius Widiatmoko, OMI (Rektor Seminari Tinggi OMI Wisma de Mazenod, Yogyakarta)

Lahir : Aix (Prancis), 01 Agustus 1782
Pengalaman Spiritual Jumat Agung: Aix (Prancis), 1807
Tahbisan Imam : Amiens (Prancis), 21 Desember 1811
Tahbisan Uskup : Marseille (Prancis), 06 Juli 1823
Meninggal : Marseille (Prancis), 21 Mei 1862
Dinyatakan Beato oleh Paus Paulus VI : 19 Oktober 1975
Dinyatakan Santo oleh Paus Yohanes Paulus II : 03 Desember 1995

DI ANTARA KALIAN, HAYATILAH CINTAKASIH, CINTAKASIH, CINTAKASIH… DAN DI LUAR, KESELAMATAN JIWA-JIWA…

(Kata-kata Wasiat St. Eugenius de Mazenod, 1862)

Siapakah Eugenius de Mazenod

Ia anak dari keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Charles Antoine de Mazenod (bangsawan miskin), Ibunya Marie Rose Joannis (rakyat kaya). Kedua orangtuanya menikah tanggal 03 Februari 1778, pertama-tama bukan karena alasan cinta namun motif sosial ekonomi. Pada akhirnya nanti, perkawinan yang tidak didasarkan oleh cinta ini kandas berakhir dengan perceraian sipil (1802).

Masa hidup Eugenius ada di sekitar situasi Revolusi Perancis (1789). Masa kecilnya diwarnai dengan banyak mengungsi, karena kedudukan ayahnya yang bangsawan dan situasi politik pasca Revolusi Perancis itu. Dari Aix (Prancis), Eugenius kecil mengungsi ke Nice (Italia, 1791), kemudian ke Turin, terakhir ke Venice. Saat situasi politik di Prancis sudah mereda dan tenang, ibunya Eugenius kembali ke Aix Prancis namun ayahnya tidak ikut. Sejak saat itu, kedua orangtuanya tidak pernah bersatu lagi sebagai sebuah keluarga. Di situasi macam ini, sebenarnya Eugenius merasa “kesepian, ditinggalkan, sendirian” dalam lubuk hati terdalamnya.

Masa Kecil Eugenius de Mazenod

Awal ketertarikannya menjadi seorang imam terjadi saat di Venice karena perjumpannya dengan Rm. Don Bartolo Zinelli, SJ. Benih panggilan imamat dalam hatinya ini tetap ia pegang teguh dan ia pelihara meskipun ia mendapatkan tantangan besar dari keluarga (pamannya). Eugenius kecil (12 thn) menjawab keberatan pamannya, “Lalu apa paman? Bukankah suatu kehormatan besar bagi keluarga kita jika silsilah keluarga kita berakhir dengan hadirnya seorang imam?

Sesudah mengalami 11 tahun masa pengungsian, saat umur 20 thn Eugenius kembali ke Aix, Perancis. Ia sungguh mengalami kebosanan hidup. Sudah tak terpikirkan lagi keinginannya untuk menjadi imam. Ia bertunangan, namun rencana menikahnya pun kandas. Ia berniat untuk hidup berkarier, namun gagal juga. Maka ia berencana mau meninggalkan Perancis saja, hendak pergi ke Sisilia, namun juga gagal untuk mendapatkan paspor yang dibutuhkan.

Pengalaman Rohani : Peristiwa Jumat Agung 1807

Peristiwa Jumat Agung 1807 adalah peristiwa yang sangat penting bagi Eugenius. Kegagalan demi kegagalan, juga perceraian kedua orangtuanya, telah membuat Eugenius frustasi dan mengalami krisis spiritual. Ia merasa diri sangat tidak berarti. Teman-teman yang semula ada di sekitar dia, meninggalkannya seiring dengan berkurangnya uang yang Eugenius miliki. Ia merasakan dunia yang cintanya sungguh penuh dengan syarat.

Eugenius de Mazenod sebagai seorang bangsawan muda

Di tengah situasi batin yang merana tersebut, Eugenius (25 thn) datang ke Gereja di Aix dan merasa sangat tersentuh oleh kasih tanpa syarat yang diberikan oleh pribadi Yesus kepadanya. Bahkan sebelum ia mengenal siapa Yesus, Yesus telah lebih dulu memberikan segala-galanya bahkan hidupNya bagi dia. Hati Eugenius menjadi sangat tersentuh melihat salib saat kain selubungnya satu per satu dibuka pada perayaan Jumat Agung itu. Ia merasa begitu dicintai, merasa berharga karena Yesus. Eugenius sampai menangis tersedu-sedu di tengah banyak umat yang saat itu hadir di gereja.

“Dapatkah aku melupakan tetes-tetes air mata dukacita saat salib disingkapkan di depan mataku pada Jumat Agung itu? Air mata itu mengalir dari lubuk hatiku yang terdalam, sama sekali aku tidak mampu menahannya. Sedemikian deras mengalir, sampai aku tidak mampu menyembunyikannya dari hadapan umat yang hadir pada perayaan yang amat mengesankan itu. Belum pernah jiwaku merasa sedemikian bahagia seperti saat ini. Jiwaku yang haus selama air mataku berderai, telah meraih tujuan finalnya yakni Allah yang adalah Kebaikan. Betapa hatiku dihibur olehNya!”

Mulai dari Jumat Agung 1807 ini, pertobatan hidup Eugenius dimulai. Sejak saat itu, Yesus Tersalib, Yesus Sang Penyelamat menjadi perhatian utama Eugenius, dan selanjutnya menjadi elemen pokok dalam
spiritualitas Eugenius de Mazenod (dan juga para Misionaris Oblat Maria Imakulata yang ia dirikan). Itu sebabnya para Oblat menandai dirinya dengan Salib Yesus, untuk mengenangkan selalu dalam hidup mereka bahwa hidup mereka sudah dikasihi dan diselamatkan oleh Tuhan, dan sekarang pada gilirannya diutus untuk mewartakan Kabar Keselamatan, Kabar Kasih itu kepada yang lain, dengan semangat berkobar, jangan sampai ada seorangpun yang tidak mendengar warta keselamatan ini. Inilah semangat yang diwariskan oleh St. Eugenius de Mazenod, dan yang kemudian menjadi motto OMI, melayani yang tak terlayani, leave nothing undared!!

Eugenius sebagai imam muda yang baru ditahbiskan

Peristiwa rohani Jumat Agung 1807 ini mengingatkan Eugenius kembali kepada panggilan imamat yang telah bersuara dalam hatinya sejak perjumpaannya dengan Rm. Don Bartolo Zinelli waktu itu. Pada tanggal 12 Oktober 1808, Eugenius masuk Seminari Saint Sulpice untuk melanjutkan cita-citanya sebagai seorang imam.

Pewarta Injil yang Sungguh Mencintai Orang Miskin

Eugenius ditahbiskan imam pada tanggal 21 Desember 1811 di Amiens oleh Uskup Demandolx. Sesudah tahbisannya, sebenarnya ia ditawari jabatan Vikjen namun ia menolak karena merasa masih sangat muda, kemudian ia ditugaskan menjadi Direktur Seminari Saint Sulpice selama 1 tahun. Selanjutnya atas izin Uskup Agung Aix, ia kembali ke Aix untuk bisa merasul di antara orang-orang miskin dan terlantar di sana.

Pada tahun-tahun pertama imamatnya ini, semangat misioner dalam dirinya tumbuh dan berkembang. Ia melihat dan menilai bahwa kehadiran Gereja pada saat itu sudah tidak lagi berpihak untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan banyak orang, melainkan untuk kepentingan orang-orang kaya dan bangsawan saja. Keprihatinan dan arah kerasulannya menjadi semakin matang dan menemukan bentuknya yaitu: pelayanan kepada yang miskin dan terlantar.

Pengalaman pahit yang pernah ia alami saat dulu mengungsi, membuat Eugenius mengerti dari dalam hatinya kerinduan hati orang-orang kecil. Ia menaruh kepedulian tinggi kepada yang miskin dan lemah, justru karena ia sendiri telah merasakan hausnya kasih persaudaraan, kerinduan untuk diterima, dimengerti dan dicintai dalam suatu keluarga.

Sebagai imam muda, dengan penuh semangat ia memilih untuk melayani para narapidana sampai ia sendiri hampir mati karena penyakit typus yang diderita oleh para napi. Perhatiannya yang sangat besar kepada orang-orang kecil menggerakkan Eugenius untuk menujukan khotbahnya bagi para buruh, nelayan, pembantu rumahtangga, para pengemis. Ia berkhotbah dengan menggunakan bahasa harian orang-orang sederhana kelas bawah, bukan dengan bahasa yang indah-indah dan tinggi sebagaimana lazim digunakan oleh para pengkhotbah saat itu.

“Hai kalian para tukang! Bagaimanakah dunia memandang kalian? Di mata dunia, kalian adalah sekelompok orang yang mencurahkan seluruh daya hidupnya dengan bekerja keras membanting tulang, ada dalam posisi yang tidak menentu, yang mencabut kemerdekaanmu dan menjadikan kalian tergantung sepenuhnya pada siapa kalian mencari pekerjaan. Kalian para pembantu! Hai kalian para buruh dan petani miskin… Datanglah.. Pelajarilah siapakah kalian di mata Allah? Kalian adalah orang-orang miskin kepunyaan Yesus Kristus, kamu yang menderita, yang tidak beruntung, penuh kedukaan, kaum lemah, didera penyakit dan dipenuhi borok, kamu yang tertimpa duka derita yang mendalam… saudara-saudaraku, saudaraku yang amat kukasihi, saudaraku yang kumuliakan, dengarkanlah aku. Kalian adalah anak-anak Allah, saudara-saudari Yesus Kristus, pewaris Kerajaan kekalnya, dimasukkan pula dalam harta warisanNya” (khotbah Eugenius).

Demikianlah pada tahun-tahun awal karya kerasulannya sebagai imam muda di Aix, Eugenius mencurahkan perhatiannya terutama bagi yang miskin dan menderita, yang tersingkir dalam masyarakat. Pengalaman tersebut sangat berarti bagi dasar pemikirannya saat Eugenius mendirikan Kongregasi OMI.

Mendirikan Kongregasi Misionari OMI

Dulunya, sebelum akhirnya dikenal sebagai Misionaris Oblat Maria Imakulata, nama kelompok yang didirikan oleh Eugenius de Mazenod adalah kelompok Misionaris Provence, yang terdiri dari beberapa imam projo dari berbagai keuskupan di Perancis. Disebut sebagai Misionaris Provence karena kelompok imam ini berkarya di daerah Provence. Karya pelayanan kepada kaum miskin yang dijalankan oleh kelompok imam ini semakin mapan sampai akhirnya terpikir untuk membentuk suatu Kongregasi yang bersifat internasional.

Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah selesai menyusun Konstitusi dan Aturan Hidup, Eugenius berangkat ke Roma pada tanggal 30 Oktober 1825, untuk memohon agar Paus berkenan mengesahkan
pendirian Kongregasinya. Permohonannya dikabulkan Paus Leo XII, dan pada tanggal 17 Februari 1826 disahkan berdirinya Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI). Saat ini OMI berkarya di 68 negara, dengan jumlah anggota hampir 4.000 orang.

Pengesahan Kongregasi OMI Oleh Paus Leo XII

Prinsip Hidup Santo Eugenius de Mazenod

Meneladan semangat Eugenius de Mazenod, sebagai suatu kongregasi misi yang menjadi ciri khas para misionaris OMI adalah hidup merasul bersama Kristus. Berhadapan dengan dunia termasuk Gereja yang memprihatinkan saat itu, Eugenius ingin agar para misionarisnya melibatkan diri sepenuhnya, tidak mudah berkompromi, dan sekali-kali jangan bersikap suam-suam kuku:

“Hendaklah semua Oblat dikaruniai kesadaran yang jelas tentang apa yang diharapkan Gereja dari mereka. Mempraktekkan kebajikan-kebajikan setengah-setengah tidaklah cukup… Mereka dipanggil untuk menghayati kesucian yang lain sama sekali.. Hendaklah mereka berjalan terus dalam naungan Tuhan dan dengan demikian menjadi alat-alat belaskasihNya” (Surat Eugenius kepada Mouchette, 02 Januari 1854).

Demikianlah Eugenius mengharapkan dari para pengikutnya, hidup yang penuh ‘kebebasan dalam Roh’, suatu keadaan jiwa yang memampukan Eugenius sendiri dan para anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sesama akan keselamatan, siap melayani semua orang terutama ‘kaum miskin dengan berbagai macam wajah mereka’ secara kreatif, dan berani ‘hidup sangat dekat dengan mereka’. Pendek kata, para misionaris Oblat dan pengikut semangat hidup Santo Eugenius adalah “manusia apostolik yang, dengan teladan Bunda Maria, menghayati bakti dirinya kepada Yesus Kristus, dalam kesetiaan yang selalu kreatif dan yang mengabdikan diri seluruhnya kepada Gereja dan Kerajaan Allah” (Konst. 46).

Salib Oblat dan Konstitusi OMI

Eugenius menghayati dirinya sebagai rasul Kristus dengan penuh rasa syukur. Tiga alasan pokok yang mendorongnya menghidupi semangat misionernya, yaitu: demi kemuliaan Allah, demi keselamatan jiwa-jiwa, dan demi kebaikan Gereja. Ketiga hal ini sekaligus menjadi “Kriteria Pemurnian Motivasi Tindakan” kepada kesucian hidup ala St. Eugenius de Mazenod. Jika suatu tindakan memenuhi kriteria ini, maka laksanakan. Jika tidak memenuhi, maka jangan lakukan sebab hanya akan berhenti pada egoisme pribadi, mewartakan diri sendiri dan bukan mewartakan Kristus.

Semangat misioner yang diwariskan St. Eugenius de Mazenod adalah wujud partisipasi dalam perutusan Yesus Kristus untuk mewartakan Kabar Baik keselamatan Allah. Misi ini dijalankan bersama-sama dalam suatu komunitas, ditujukan kepada mereka yang paling miskin, dilaksanakan sesuai kebutuhan Gereja dan dunia yang paling mendesak pada zamannya, dan dilaksanakan demi kemuliaan Allah, pengabdian kepada Gereja, dan keselamatan jiwa-jiwa.

St. Eugenius mengajar agar kita melihat dunia -khususnya kaum miskin- seturut pandangan penuh kasih Yesus Kristus yang Tersalib. Dengan inilah, kita semua bertindak sebagai Pewarta Sabda Kasih Allah yang bertugas membantu orang-orang untuk mengalami diri mereka dikasihi dan diselamatkan oleh Allah dalam Kristus. Sebagai pewaris semangat St. Eugenius, kita diajak untuk terus memperbarui semangat untuk mewartakan Injil, melalui pilihan-pilihan prioritas karya guna menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah dunia terutama kepada dan di tengah kaum miskin dan terlantar, kepada mereka yang paling jarang dijangkau oleh Gereja. Pewartaan Kabar Gembira ini meliputi perjuangan keadilan dan keutuhan ciptaan (JPIC) dan media sosial digital sebagai cara-cara baru pewartaan Injil.

“JADIKANLAH PERTAMA-TAMA MEREKA MANUSIAWI,
KEMUDIAN KRISTIANI, DAN AKHIRNYA SUCI….”

(St. Eugenius de Mazenod, 1826)