“Puncak dan Ambisi”

Refleksi Pendakian Gunung Sindoro Part II

Oleh: Fr. Henrikus Prasojo, OMI (Sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Menengah Yuniorat OMI Beato Mario Borzaga, Cilacap)

Minggu pukul 11.00 WIB rombongan kami tiba di pos 3 – jalur pendakian Gunung Sindoro di ketinggian 2370 mdpl. Perjalanan selama kurang lebih 5 jam dari basecamp mengharuskan kami mengistirahatkan tubuh kami sementara. Berkat bimbingan Mas Awil dan Mbak Hani yang menjadi guide kami, rombongan kami dapat sampai di pos 3 ini dengan selamat. Tenda didirikan, dan kami masing-masing masuk ke dalam tenda yang bisa diisi 4-5 orang ini untuk menghangatkan tubuh. Hujan yang membasahi sekujur tubuh kami membuat kami merasakan dinginnya udara malam di Gunung Sindoro. Meskipun mantel hujan melindungi kami dari basah yang tak terkontrol, tetap ada beberapa bagian tubuh kami menjadi basah dan merasa dingin. Kehangatan di dalam tenda seakan tidak terganti.

Perjalanan belum berakhir, pukul 04.00 WIB kami memulai kembali perjalanan kami untuk menjumpai puncak Gunung Sindoro di ketinggian 3153 mdpl. Perjalanan mendaki di jalan yang terjal dan berbatu membuat kami lupa dengan rasa dingin yang menyelimuti tubuh kami. Masing-masing masih bersemangat dengan impian masing-masing untuk menikmati keindahan alam di atas puncak Gunung Sindoro.

Setiap manusia memilki ambisi di dalam dirinya, sebuah ambisi untuk mencapai sesuatu yang disebut “puncak eksistensi/aktualisasi diri”. Lewat perjalanan mendaki ini saya merenungkan tentang Puncak dan Ambisi. Apakah ambisi itu salah? Sekurang-kurangnya, saya berpandangan bahwa ambisi tidaklah melulu salah. Ambisi mendorong semangat seseorang untuk memaksimalkan segenap potensi di dalam diri untuk mencapai aneka ragam prestasi. Ambisi juga memberikan kreativitas dan kemampuan berpikir yang luar biasa dalam diri seseorang.

Perjalanan yang berat dari Pos 3 menuju puncak tidak bisa saya pungkiri lagi. Keterbatasan fisik menggoda saya untuk menyerah dan kembali turun. Jalur pendakian ini tidak memberi “bonus” sedikitpun sampai di puncak. Bermodalkan semangat yang tak redup dan hasrat yang berkobar-kobar, saya berusaha mengimbangi perjalanan teman-teman Yuniores yang masih sangat-sangat bersemangat.

Bersama Mas Awil Guide Gunung Sindoro

Setiap pendaki mempunyai keinginan untuk mencapai puncak dengan segera dan melihat keindahan alam dari atas puncak gunung. Agaknya saya percaya bahwa setiap pendaki melahirkan ambisi tersebut di dalam mereka yaitu agar mereka bisa segera sampai puncak dan memanjakan mata dengan melihat pemandangan indah yang ditawarkan di sana. Saya pun tahu bahwa teman-teman Yuniores sangat ingin segera sampai di puncak dan mengalami sendiri apa yang mereka lihat melalui konten digital zaman modern ini.

Di tengah-tengah perjalanan yang cukup berat itu, saya mengatakan kepada teman-teman Yuniores yang nampaknya masih sangat bersemangat, “Jika kalian mau segera naik, naik saja duluan, nanti saya akan menyusul belakangan, saya sudah mulai kelelahan. Saya mungkin akan memperlambat perjalanan kalian.” Dengan suara yang sudah saya tegarkan itu, saya merelakan impian saya untuk bisa segera sampai ke puncak, dan berkata dalam hati toh kalaupun nanti saya tidak sampai puncak tidak apa-apa. Seakan meyakinkan pilihan tersebut, saya mengatakan dalam diri saya, bahwa untuk sekedar bisa mengantar mereka ke Gunung Sindoro dan membiarkan mereka melihat pemandangan yang indah di sana saya sudah senang. Saya meyakinkan diri saya karena saya tidak ingin menjadi penghambat dari “mimpi bersama” teman-teman Yuniores ini. Dan saya sudah siap apabila mereka pun mengatakan, “Baik ter, kami duluan ya kami ingin sampai ke puncak.” Saya sudah menyiapkan diri saya untuk menyemangati diri sendiri dari kekecewaan yang muncul karena keterbatasan fisik yang sungguh-sungguh menggodaku untuk menyerah ini.

Namun ada yang berbeda dari kelompok ini. Teman-teman Yuniores angkatan ke-3 ini cukup membuat saya terkejut: Gerald, Hergi, Fero, Mario, Edo, Fibo dan Aven; tidak ada sedikitpun niat dalam diri mereka untuk pergi sendiri ke atas. Mereka tetap saling menunggu, dan berkata kepada saya, “Tidak apa-apa ter, kita naik sama-sama saja. Berangkat sama-sama, naik sama-sama, dan tiba di atas pun sama-sama.” Dua kalimat yang singkat namun sangat menyentuh saya dan tiba-tiba mendorong kembali semangat saya. Tiba-tiba saya tidak memperdulikan kaki kanan saya yang seharian saya gunakan untuk menyetir mobil, juga rasa lelah yang berkepanjangan pun menjadi hilang. Ketika saya melihat mereka yang sudah ada di barisan paling depan bersama guide kami sedang berdiri menunggu saya dengan setia, saya yakin bahwa mereka sudah mengesampingkan mimpi pribadi mereka masing-masing untuk bisa mewujudkan impian bersama yaitu “mendaki puncak Sindoro bersama-sama”.

Jika mereka mau, mereka yang berada di barisan depan tentu akan terus melaju sampai ke puncak lebih dulu meninggalkan saya, dan saya yakin mereka masih punya banyak tenaga untuk melakukan itu. Tetapi nyatanya mereka berdiri menunggu dan meneriakkan kata-kata semangat untuk saya. Akhirnya rombongan kami tiba di puncak Latar Ombo Gunung Sindoro 3153 Mdpl bersama-sama pada pukul 08.30 WIB. Perjalanan empat setengah jam yang sangat menantang, melelahkan tetapi penuh kebersamaan ini sangat mengesan bagi saya. Masing-masing mengesampingkan impian pribadi mereka untuk sekedar “sampai di puncak” dan kembali mengingat impian bersama yaitu “mendaki bersama-sama.”

Puncak sering menggoda orang untuk menjadi ambisius dan bersemangat tetapi melupakan kebersamaan dengan orang lain. Puncak kesuksesan pun demikian menggiurkan untuk diraih secara pribadi sehingga mendorong individualisme dan egoisme menguasai diri sendiri. Setiap orang bisa saja mengembangkan amibisi pribadinya untuk mencapai puncak yang diinginkan sendiri, tetapi dari perjalanan ini saya belajar bahwa ada yang lebih berharga daripada sekedar mencapai puncak sukses pribadi, yaitu “Puncak Bersama” atau yang sering dikenal sebagai “impian bersama.”

Tim Borzaga di Puncak Gunung Sindoro

Mencapai puncak bersama-sama dengan ambisi dan semangat yang sama adalah sebuah keindahan sendiri karena dalam impian ini berlaku kalimat, “Tidak pernah ada yang merasa ditinggalkan.” Saya termenung dengan doa Yesus di taman Getsemani, “Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku.” (Yoh 17, 24) sebuah doa yang secara khusus dipanjatkan Tuhan Yesus bagi para murid-murid-Nya. Teladan kegembalaan yang ingin membuat semua murid-Nya merasakan ‘Kemuliaan Allah’ membuat saya yakin dan percaya bahwa untuk inilah saya terpanggil.

Pengalaman bersama teman-teman Yuniores mengingatkan saya tentang kasih Tuhan yang selalu menyapa, dan memberikan semangat serta setia menanti kedatangan putra-putra terkasih-Nya. Yesus tidak pernah meninggalkan murid-Nya, bahkan ketika para murid-Nya meninggalkan Yesus di Jalan Salib-Nya, Yesus tetap mencari dan menyapa para murid-Nya paska kebangkitan.

Pengalaman “Mencapai puncak bersama-sama” meneguhkan panggilan saya sebagai seorang misionaris Oblat untuk bisa menjangkau setiap orang yang membutuhkan keselamatan jiwa-jiwa. Teman-teman Yuniores telah menjadi gambaran nyata Allah yang setia menunggu dan menanti kedatangan anak-anak-Nya, dan mau mengangkat setiap anak-anak-Nya pada ‘Puncak Kemuliaan-Nya’ tanpa ada satu pun yang ‘merasa ditinggalkan’. Pengalaman ini juga mengingatkan saya pada tulisan St. Eugenius de Mazenod pada draft konstitusi 1818 yang bunyinya,

Kita saling mendukung satu sama lain, dengan penuh kelembutan dan kesabaran, dan berlomba-lomba dalam berbuat baik dan dalam mempraktekkan cintakasih yang gembira. Setiap anggota akan menghindarkan segala sesuatu yang dapat melukai hati saudara-saudaranya, dan dengan rela hati mengalah kepada kehendak yang lain, sehingga damai Allah dan kasih Kristus diam di antara kita. Kita saling mengasihi dan menghormati satu sama lain serta dan menunjukkan rasa hormat dan sopan satu kepada yang lain.

(St. Eugenius de Mazenod, 1818)

Ah indahnya Puncak Gunung Sindoro, ketinggian 3153 mdpl bukan hanya pemandangannya, tetapi setiap pengalaman rohani yang bisa saya temukan. Perjumpaan antara ambisi pribadi, mimpi bersama dan penyelenggaraan Ilahi yang hadir dalam pengalaman pendakian ini sungguh-sungguh menyegarkan hidup panggilan saya. Selagi setiap orang masih setia berjuang, dan selalu ada rasa saling mendukung, maka Tuhan tidak menutup mata-Nya dan menghadirkan berkat-Nya bagi kita setiap hari untuk bisa menikmati “Puncak Kemuliaan” yang ia tawarkan bagi kita entah apa pun itu bentuknya.

Puncak Sindoro, 12 April 2021

+Hari Senin Pekan II Paskah+

Fr. Henrikus Prasojo, OMI