Para Misionaris OMI Indonesia di Tengah Wabah Virus Corona

Oleh :  Fr. Bryan Evan Pabubung, OMI*

Covid-19, sebuah wabah yang telah memberikan warna tersendiri dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Akhir-akhir ini muncul berbagai macam permasalahan sekaligus pertanyaan di kalangan masyarakat dunia tentang apa yang sesungguhnya terjadi serta bagaimana melihat, memahami dan memaknai pandemi Covid-19 ini. Pertanyaan-pertanyaan menjadi tak mudah dijawab karena segala sendi kehidupan terdalam manusia pun tak luput dari serangan virus corona. Komunitas Seminari Tinggi OMI dan seluruh Oblat Provinsi Indonesia mencoba menanggapi masa khusus ini dan ikut ambil bagian di dalamnya.

Pengaruh Covid-19 di beberapa Aspek

Komunitas Seminari Tinggi OMI menyumbangkan masker bedah dan masker N95

Dampak paling pertama yang dirasakan adalah pada sektor ekonomi. Keputusan pemerintah untuk melarang perkumpulan dalam skala besar, membuat beberapa perusahaan harus tutup dan tidak melakukan produksi. Hal ini memberatkan para buruh dari perusahaan tersebut, apalagi mereka yang bergantung pada penghasilan harian. Begitu juga dengan usaha-usaha lain pun merasakan dampaknya seperti daerah wisata, hotel, UKM, ojek daring, dan banyak usaha pertanian dan peternakan. Bagaimana menanggapi ini?

Kekhawatiran akan kondisi ekonomi global dan negara terjadi ketika nilai mata uang rupiah melemah sampai ke level Rp 16.644,30. Apakah krisis ekonomi akan terjadi? Dalam perkembangan selanjutnya, hari demi hari mata uang rupiah terus menguat dan mencoba kembali ke level sebelum corona menyerang secara global. Pemerintah Indonesia juga mengupayakan beberapa seperti Bantuan Sosial Tunai (BST) kepada sembilan juta warga Indonesia yang masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), serta penundaan pembayaran cicilan bagi UKM serta para ojol. Apakah bantuan itu cukup?

Pendidikan juga tidak lepas dari corona. Semua sekolah dan perguruan tinggi melakukan proses belajar mengajar secara daring. Para frater dan bruder OMI pun mengalami hal yang sama. Mereka pada setiap pagi mulai pukul 08.00 hingga 12.00 berkumpul di ruang komputer untuk melakukan studi. Hal ini sebagai bentuk pertanggungjawaban akan tugas studi di masa skolastikat. Komunitas WDM bisa dikatakan aman dalam hal ini, lalu bagaimana dengan mereka para mahasiswa perantauan? Mereka terpaksa tidak pulang dan memilih menetap di kos mereka. Muncul pertanyaan lanjutan, bagaimana bagi mereka yang orang tuanya tidak mendapatkan penghasilan harian atau terkena PHK karena virus corona?

Kehidupan sosial masyarakat berubah secara drastis. Masyarakat Indonesia harus terbiasa menjaga jarak. Social/physical distancing yang diterapkan pemerintah membuat masyarakat Indonesia tidak bisa “kumpul-kumpul” lagi. Menetap dan berdiam di rumah menjadi pilihan pertama agar tidak terpapar virus ini. Beberapa perumahan atau pemukiman penduduk melakukan lockdown mandiri dan ada pula yang secara bergotong royong membantu keluarga yang harus menjalankan karantina mandiri di rumah mereka. Hal ini sebagai suatu kesadaran sosial yang sangat baik.

Mereka yang ditolak karena virus ini pun tidak sedikit. Penderitaan menghantui mereka yang terinfeksi corona, PDP, ODP, petugas medis dan anggota keluarga mereka. Dalam beberapa kejadian, mereka ditolak oleh lingkungan masyarakat yang takut akan terkena virus ini. Bahkan jenazah yang hendak dikuburkan pun ditolak secara terang-terangan. Nilai kemanusiaan menjadi sangat rendah dalam beberapa kejadian penolakan tersebut. Semua orang perlu terlibat untuk membuang stereotip yang mengatakan bahwa mereka sebagai pembawa penyakit. Justru saat-saat inilah seharusnya seluruh elemen bangsa terlibat bukan menolak.

Komunitas Seminari Tinggi OMI mengumpulkan Sembako untuk keluarga yang membutuhkan.

Usaha untuk mencari keuntungan dalam masa sulit ini pun terjadi. Ketika pemerintah mengkonfirmasi ada dua warga Depok yang positif, kasus, penimbunan segala hal yang berhubungan dengan pencegahan penularan virus corona terjadi. Masker, hand sanitizer¸ APD menjadi sangat langka dan dijual dengan harga yang sangat tinggi. Panic buying juga dilakukan oleh beberapa masyarakat guna mempunyai persediaan yang cukup bagi mereka sendiri. Sekali lagi mereka yang memperoleh penghasilan harian hanya dapat menonton dan meratapi keadaan karena kehabisan barang-barang pokok.

            Hari demi hari informasi tentang virus ini terus di­-update. Berdasarkan data dari https://covid19.go.id/ pada Selasa, 5 Mei 2020, di Indonesia terdapat 12.071 kasus: 9.002 orang dalam perawatan, 2.197 orang sembuh, dan 872 orang meninggal dunia. Jika kita mengikuti perkembangan data, jumlah kasus dan jumlah mereka yang meninggal dunia pun terus bertambah hari demi hari. Tapi banyak juga yang sembuh dari virus ini, ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia masih mau berjuang untuk mengatasi wabah ini bersama-sama hingga selesai.

Gereja dan Pastoral di tengah Wabah Corona

Komunitas OMI mendonorkan darah kepada PMI yang kekurangan stok darah

Menghadapi permasalahan baru ini, apa yang dapat Gereja lakukan? Secara khusus Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah menjadi tantangan Gereja Indonesia dalam berpastoral. Ekaristi di gereja paroki atau di mana pun tidak dapat dilakukan seperti biasa dengan kehadiran umat secara fisik. Seluruh Uskup di setiap Keuskupan di Indonesia mengeluarkan anjuran bahkan perintah untuk tidak melakukan kegiatan di gereja atau kegiatan doa di lingkungan umat. Pelayanan sakramen-sakramen pun menjadi sangat dibatasi karena kondisi ini.

Ekaristi disiarkan secara online adalah terobosan pastoral yang baru bagi Gereja. Imam harus merayakan Ekaristi tanpa dihadiri oleh umat. Umat pun mengikuti Ekaristi dari balik layar televisi, smartphone, atau laptop tanpa menerima tubuh Kristus. Tidak sedikit umat yang terguncang karena mengalami pengalaman ini untuk pertama kali. Rasa rindu untuk hadir dalam Ekaristi dan menyambut tubuh Kristus harus ditahan sebagai bentuk solidaritas sosial. Pertanyaan lain pun timbul dengan kenyataan ini, yakni bagaimana Gereja dapat melayani umat yang berada di stasi-stasi yang tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan untuk mengikuti Ekaristi secara online? Belum lagi persoalan bagaimana paroki menjawab kerinduan hati umat yang ingin merayakan Ekaristi bersama gembala parokinya.

            Kehadiran Gereja pun tidak boleh hanya berfokus pada sakramen-sakramen belaka. Gereja harus hadir secara nyata. Jangan sampai umat yang sungguh memerlukan bantuan merasa berjuang sendirian, sampai akhirnya mereka bersifat apatis terhadap Gereja karena Gereja tidak menyapa mereka pada saat susah. Pastoral kreatif dengan melibatkan segala jenis disiplin ilmu sungguh diperlukan untuk dapat membantu umat yang sungguh perlu dibantu. Dalam situasi seperti ini, hati seorang gembala diuji dan kreativitas pastoralnya ditantang. Kepada siapa dan untuk apa dia mengisi jam-jam hidupnya? Apakah dia masih setia memprioritaskan pelayanannya untuk kaum miskin yang paling kena dampak dari wabah ini? Apakah pilihan pastoralnya tersebut berbasis data?

Bantuan sembako kepada para mahasiswa perantau oleh Rm. Niko Ola, OMI

Pastoral Kreatif oleh OMI Provinsi Indonesia

            Misionaris Oblat Maria Imakulata Provinsi Indonesia yang merupakan bagian Gereja Universal tentu tidak diam saja disemangati oleh semangat St. Eugenius de Mazenod ‘Evangelizare Pauperibus Misit Me’. Tindakan pertama yang dilakukan oleh para Oblat di setiap karya mengikuti anjuran Keuskupan di mana karya itu berada. Lalu bagaimana cara memaknai social dan physical distancing?

Komunitas Seminari Tinggi OMI  Wisma de Mazenod, Yogyakarta menggunakan saat ini sebagai kesempatan berharga untuk ‘masuk ke dalam’ hati guna berjumpa dengan Tuhan, mengenali kehendak-Nya dengan lebih baik, dan mengalami pembaruan diri. Kesempatan itu juga digunakan Komunitas WdM untuk menemukan terobosan-terobosan pastoral yang dapat dilakukan dalam masa ini.

Rm. Radjabana, OMI sebagai pastor kepala Paroki Santa Maria Imakulata Kalideres, Jakarta menyapa serta menguatkan umatnya dengan membuat video harian yang sudah lebih tiga puluh hari dilakukan beliau. Video-video itu disebarkan ke grup-grup media sosial sekolah dan perguruan serta para karyawan pabrik. Produksi tampilan-tampilan inspiratif dan sapaan juga dilakukan Komunitas WdM Seluruh anggota komunitas dibantu oleh tim Design Komunikasi Visual (DKV) WdM memproduksi lagu, kata-kata inspiratif, dan hasil permenungan yang dibagikan kepada umat melalui media sosial.

Pastor Antonius Radjabana, OMI

Rm. Domi Pareta, OMI di Paroki Malinau Kalimantan Utara melakukan pelayanan dengan membawa komuni kudus untuk umat di stasi-stasi yang tidak dapat mengikuti misa live streaming. Demikian juga Paroki Santo Stefanus Cilacap melaksanakan misa live streaming paroki sehingga umat Cilacap tetap dapat merasakan sapaan Romo Paroki. Usaha-usaha yang dilakukan ini sebagai bentuk sapaan kepada umat dan meneguhkan iman mereka.

Selanjutnya bantuan-bantuan di luar sakramen juga diberikan. Bantuan bahan-bahan pokok harian dan kebutuhan untuk mencegah corona juga diusahakan oleh para Oblat. Pembagian sembako kepada mereka yang membutuhkan (mahasiswa/i dari luar Jawa, masyarakat miskin, mereka yang kehilangan pekerjaan, UBK) serta membagikan perlengkapan medis seperti masker, APD, dan cairan untuk mencuci tangan di Rumah Sakit, Puskesmas, Lembaga Pemasyarakatan, klinik serta di beberapa Panti Jompo dan Panti Asuhan. Bantuan tersebut masing-masing dilakukan oleh para Oblat di Paroki Banyumas, Paroki Trinitas Cengkareng dan Paroki Malinau.

Pastoral kreatif juga hadir dalam masa pandemi ini. Rm. Damianus, OMI bersama Rm. Eko Saktio, OMI dan Br. Jojo, OMI yang berada di Kaliori melalui proyek peternakan setiap harinya bisa memberikan makan dan pekerjaan kepada lebih dari lima puluh keluarga miskin serta tetap aktif berkatekese di jalur digital melalui fanpage Gua Maria Kaliori.

Pastor Yohanes Damianus OMI

Rm. Yoyon, OMI membantu umat Sebakung untuk menjual beras panenan. Komunitas WdM pun memilih melakukan pastoral donor darah ketika mengetahui bahwa persediaan darah di PMI sangat kurang karena pandemi corona dan kami juga melakukan pastoral ‘penyambung lidah’. Kami berusaha menyuarakan kebutuhan bantuan untuk yang terdampak Covid-19 kepada umat yang bersedia menjadi donator dan menyalurkannya kepada yang membutuhkan.

Pastor A. Wiyono, OMI

‘Melayani yang tak terlayani’ adalah semangat yang dibawa oleh setiap Oblat dalam menjalankan perutusan mereka. ‘Mereka yang tak terlayani’ menjadi lebih tampak pada saat-saat krisis seperti ini. Diperlukan cara-cara berpastoral yang lebih kreatif supaya ajakan ‘dari altar turun ke pasar’ menjadi riil. Setiap komunitas karya mempunyai cara masing-masing dalam mewartakan kabar sukacita. Saling membagikan pengalaman adalah kesempatan yang sangat baik sehingga dapat saling meneguhkan dan memperkaya satu sama lain. Semoga semangat pelayanan para Oblat tetap berkobar pada keadaan yang cenderung normal atau pada keadaan khusus seperti menghadapi corona saat ini. Tuhan Yesus memberkati, Bunda Maria Imakulata melindungi.

*penulis adalah seorang frater skolastik OMI tahun pertama tinggal di Seminari Tinggi OMI.