“Oase”

Refleksi Pengalaman Probasi Kerja

Oleh: Felix Opi Efaluvion (Sedang menjalani formasi sebagai Pra-Novis OMI di Pranovisiat Beato Joseph Cebula, Yogyakarta)

Orang bilang tanah kita tanah surga,

tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Ada benarnya juga lirik lagu tersebut, ku mulai dapat merasakan artinya setelah menjalani masa probasi kerja . Tak pernah terbayangkan dalam benakku bila tanah yang begitu rimbun, serta lebat oleh rumput liar mampu menjadi sebuah ladang yang berguna bagi kelangsungan hidup masyarakat di sekitarnya, sungguh relasi alam dan manusia yang terlihat jelas serta nyata dalam saling menjaga dan memberi kehidupan. Selama masa probasi banyak kharisma awal yang kutemukan di sebuah tempat yang berdiam di tengah rimbunnya bukit kaliori, “De Mazenod Farm.” Aksara itu terpampang di sudut bangunan tua. Terdapat sebuah perternakan sapi serta kebun yang cukup luas, dihiasi dengan beberapa pohon merica serta pohon jambu yang menandakan terdapat sebuah kasih yang mampu memelihara kehidupan. Toleransi agama juga terbangun dengan baik, bisa dilihat dari masyrakat yang sebagian besar beragama muslim, namun para Romo OMI dengan sengaja merekrut mereka agar mampu diberdayakan serta mampu bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Sebuah aksi nyata menurutku, karena selama ini yang kulihat hanyalah  sekedar pewartaan ataupun penginjilan melalui sebuah kata, tanpa sebuah bentuk aksi nyata. Tak dipungkiri, keberanian untuk membangun relasi antar agama, serta memberdayakan masyarakat yang notabene belum memiliki kemampuan ataupun keahlian bekerja, berbuah menjadi sebuah tali persahabatan yang sungguh baik. Dengan adanya “De Mazenod Farm” masyarakat merasa terbantu, melihat selama masa pandemic ini banyak keluarga yang harus menganggur di ambang pintu rumahnya, dikarenakan PHK, maupun pemberhentian kerja secara sepihak. Hadirnya lapangan pekerjaan yang di sediakan oleh kongregasi OMI, seakan menjadi oase ditengah desolasi batin yang dihadapi masyarakat selama masa “stay at home”.

“Cita-cita boleh menawan, impian boleh indah, bahkan harapan boleh tinggi, namun itu semua sia-sia bila kau takut mendarat”, sahut Romo Dami OMI, sore itu. Perkataan yang singkat namun seakan menjadi percikan api di tengah rimbunnya kemalasanku. Aku tersadar bila hanya menunggu cita-cita terwujud itu hanya akan membuang waktu, karena sejatinya cita-cita itu untuk diraih, bukan untuk ditunggu. Bekerja ditengah rimbunnya rumput gajahan terkadang membuat ku menyadari betapa lemahnya diri. Goresan, luka, maupun rasa gatal yang kerapkali menyerangku secara sporadis seakan membuatku terduduk diam di bawah rimbunnya pepohonan pisang. Disaat ku terdiam sembari berteduh, mataku tertuju kepada seorang lelaki tua, panggil saja beliau “Mbah Sathim”. Panasnya cuaca yang membakar kening serta telapak tangan, seakan ia anggap hanyalah sebuah candaan dari Sang Esa. Beliau sadar di lelahnya terdapat senyum sang buah hati, maupun sang hawa yang setia menunggu kepulangannya di ambang pintu rumah tercinta. Bekerja memang bukan hal yang mudah, bila kita mengaitkannya dengan situasi hati dan pikiran. Hati dan pikiran memang satu tubuh, namun mereka adalah anggota badan yang tak pernah seiya maupun sekata. Terkadang yang kerap kali terjadi dalam diriku adalah, aku merasa masih mampu bekerja dengan sungguh, namun aku berpikir pekerjaan ini hanyalah akan melukai diriku, dan membuatku lelah. Atau bahkan aku berpikir mungkin diluar sana remaja seusiaku sedang bersantai di sebuah coffeshop sembari bercumbu dengan gawai (gadget). Perasaan iri maupun putus asa kerapkali menjadi rekanku disaat lelah. Tanpa kusadari di depan mataku berdiri seorang lelaki tua yang dengan penuh keyakinan serta harapan bekerja tanpa mengenal lelah, mungkin dalam hati kecilnya terdapat juga keinginan untuk sedikit bersantai, namun ia sadar bahwa tanggung jawab akan sebuah panggilan serta pilihan yang ia pilih, yaitu menjadi seorang “kepala keluarga”.  Ku pegang kembali sabitku, lalu kulanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda sesaat, dalam hati sembari ku katakan “kelak aku adalah seorang gembala”. Gembala bukanlah seorang pria yang hanya duduk bersila, melainkan dia yang mau untuk berdiri digaris terdepan untuk bekerja serta menggembalakan domba-domba ditengah rimbunnya ilalang.

Dalam masa Pendidikan selama masa Pra-Novisiat, aku sadar banyak sekali fasilitas yang telah disediakan guna mengembangkan sebuah bakat. Namun tetap saja aku kerap kali merasa kesepian dan hidup hanya untuk “mengikuti doa”, buka “menghidupi doa”. Bersyukur, kiranya itulah sebuah kata yang pantas untuk mulai kuhayati dan hidupi. Di sisi lain kehidupan aku melihat dengan jelas betapa kerasnya tanah yang harus mereka gemburkan, guna sesuap nasi untuk makan. Betapa panasnya terik matahari yang harus mereka rasakan, guna menghantar sang buah hati menggapai sebuah cita-cita yang akan mereka wujudkan, sedangkan aku hanyalah pria yang masih belum mampu berbuat banyak selain menuntut keadaan sesuai dengan keinginan. “Mau sampai kapan?” pertanyaan reflektif yang kerap kali muncul dan mengganggu permenunganku. Hingga saat ini aku masih belum mampu menjawabnya dengan konsisten, karena selalu ada opsi lain layaknya sebuah pilihan ganda, yang sejatinya hanyalah sebuah pembelaan diri. Namun aku percaya tak pernah ada kata terlambat, masih bisa kuperbaiki, dan perlahan masih bisa ku sadari segala kurangnya diri. Mulai menghargai kehidupan yang telah diberikan olehNya, kiranya  mampu menjadi sebuah intro yang tepat untuk mengawali sebuah pertobatan. Mengucap kata “Bersyukur” saat terbangun dipagi hari, serta hendak terlelap karena boleh melewati hari. “Menghidupi” sebuah doa bukan hanya mengikutinya sebagai formalitas statis, dan yang paling penting adalah “Bertanggung jawab” akan sebuah pilihan yang telah ku pilih.

Terimakasih telah menyadarkanku akan sebuah pilihan yang telah ku pilih, mulai sekarang aku akan mencoba dan berusaha untuk bertanggung jawab dalam menapakinya.

Bandjoemast

Felix oe