MARIA DI HATI PARA OBLAT DAN GEREJA

Oleh : Fr. Frans Yulianto, OMI (sedang menjalani masa studi di Fakultas Teologi Wedabhakti semester IV)

Patung Maria ala Thailand

“….Kita akan selalu memandang Maria sebagai Ibu kita. Dalam kedekatan yang mendalam dengan Maria, Bunda Belaskasih, kita menghayati penderitaan dan kegembiraan misionaris…..” 

Konstitusi OMI No.10

Sebagaimana kita ketahui Bunda Maria sangat dihormati dalam Gereja Katolik. Setidaknya ada 117 gelar yang diberikan kepadanya. Ia menyerahkan dirinya sebagai perantaraan kasih Allah kepada manusia lewat kelahiran Yesus Kristus. Lewat kerendahan hati dan pengorbanan yang ia miliki, Bunda Maria dikaruniai rahmat kesucian. Bahkan umat beriman percaya bahwa Bunda Maria adalah satu-satunya wanita tanpa noda dosa (Immaculate Conception). Kesiapsediaan Bunda Maria akan tawaran keselamatan menjadi salah satu kunci kehadiran Allah di dunia. Maka dari itu, Konsili Efesus (431) menobatkan gelar Bunda Allah kepada Maria. Dalam istilah Yunani disebut sebagai “Theotokos” atau “Birthgiver of God” (Yang Melahirkan Allah). 

Begitu besar peranan Maria dalam sejarah keselamatan, Gereja menetapkan bulan Mei dan Oktober untuk menghormatinya secara khusus. Bulan Mei sering kita kenal dengan bulan Maria dan bulan Oktober sering kita kenal dengan bulan rosario.

Maria Bunda Belaskasih

“Maria Imakulata adalah pelindung Kongregasi.…”

Konstitusi OMI No. 10

Sejarah penetapan bulan Mei sebagai bulan Maria mempunyai sejarah yang cukup panjang. Banyak orang sering mengaitkan bulan Mei dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara-negara empat musim mengalami musim semi atau dimulainya tunas-tunas baru tumbuh. Maka bulan Mei dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa Baru. Hawa sendiri mempunyai artinya ibu dari semua yang hidup, “Mother of all the living” (Kej 3:20). 

Penetapan bulan Mei sebagai Bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktik ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.

Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.

Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 3 abad sebelumnya, yaitu ketika terjadi pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini.

Patung Maria ala Vietnam

Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun tampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci. Demikianlah sejarah penetapan bulan Mei dan Oktober sebagai bulan penghormatan kepada Bunda Maria.

Terkhusus pada bulan Oktober tahun ini, Seminari Tinggi OMI telah mengukir ceritanya sendiri. Meskipun tahun ini pandemi COVID-19 masih melanda seluruh dunia dan banyak aktivitas kerohanian terganggu, namun semuanya itu bukan menjadi penghalang bagi kami. Kami tetap melaksanakan kegiatan komunitas dan pastoral dengan cukup baik. Prinsipnya adalah tetap mematuhi protokol kesehatan dan komitmen yang kuat. 

“…Maria yang terbuka pada bimbingan Roh Kudus mempersembahkan dirinya secara total sebagai hamba yang rendah hati kepada pribadi dan karya Sang Penyelamat.…”

Konstitusi OMI No. 10

Salah satu tindakan pastoral yang kami lakukan pada bulan Oktober adalah membuat video doa rosario. Kami bekerja sama dengan Kevikepan Semarang membuat renungan singkat yang di dalamnya terdapat doa rosario. Video itu disebarkan melalui channel Youtube milik kevikepan Semarang. Cara ini adalah salah satu jalan pastoral yang paling memungkinkan dalam keadaan seperti ini. Secara praktis kami membagi anggota komunitas menjadi beberapa kelompok. Kelompok-kelompok itu kemudian membuat video inspirasi dari kutipan cerita yang dituliskan dalam panduan bulan rosario. Kami merasa senang karena dalam keadaan seperti masih ada kesempatan untuk menyapa saudara-saudara yang ada di luar sana. Dengan cara ini, kami ingin memberi semangat yang berkobar-kobar. Kami percaya bahwa setiap permasalahan akan ada jalan keluarnya. Apalagi jika kita memasrahkan seluruh hidup kita pada Sang Penyelamat, yakni Yesus Kristus. 

Ketika kita mau memberikan diri secara utuh pada Tuhan segalanya akan tercukupi, sebab Tuhan adalah sumber segala-segalanya. Di saat seperti inilah, peran Maria sebagai ibu sangat menonjol. Bagaimana pun Maria adalah ibu Yesus, Ia pernah melahirkan Sang Juru Selamat. Maka dari itu akan ada harapan besar ketika kita memohon bantuan Bunda Maria untuk menghantarkan doa-doa kita kepada-Nya. Seperti seorang ibu yang memiliki ikatan batin yang lebih dalam kepada anaknya. Demikian pun juga antara Maria dan Yesus.

Patung Maria ala Jawa

Di bulan ini, komunitas Seminari Tinggi OMI bersatu padu mendaraskan doa Maria  di setiap butir-butir rosario. Biasanya kami melakukan doa rosario setiap Sabtu pagi setelah misa. Di luar hari Sabtu tersebut, rosario dilakukan secara pribadi. Ada hal unik yang kami lakukan dalam tradisi rosario kami. Biasanya kami menggunakan Salam Maria dari berbagai bahasa: ada bahasa Indonesia, Latin, Jawa, Inggris, Toraja, Tagalog Filipina, dan Arab. Semuanya kami lakukan untuk menunjang karya pastoral kami. Selain itu kami juga belajar mangenai kekayaan dari setiap bahasa dan budaya. 

“…Maria menerima Kristus untuk memberikan-Nya kepada dunia yang menaruh harapan kepada-Nya. Dalam diri Maria kita melihat contoh iman Gereja dan iman kita sendiri...”

Konstitusi OMI No. 10

Setiap doa yang dihantarkan melalui Bunda Maria adalah sebuah harapan. Kita memohon agar segala permohonan kita disampaikan kepada Yesus. Kita berharap melalui pengantaraan Bunda Maria, kita dimampukan menjadi pribadi yang semakin beriman seperti yang diteladankan olehnya. Sejak mendapat Kabar Gembira sampai menemani Yesus dalam jalan salib dan wafat-Nya di kayu salib, dapat kita telusuri jalan iman Bunda Maria kepada kehendak Allah. Dengan iman, kita menyampaikan doa-doa kita dalam pengantaraan Bunda Maria. Semoga kita semakin dimampukan untuk bertekun dan setia dalam meneladan hidup Bunda Maria dalam memberikan diri kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus di dunia ini.

Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata…