KOMUNIKASI DENGAN ALLAH

Sebuah refleksi mengenai model teologi sakramen dewasa ini

“Komunikasi adalah salah satu model pendekatan untuk memahami teologi sakramen di zaman ini…”

Manusia dan Komunikasi

Berbicara mengenai komunikasi, hal pertama yang ada dalam pikiranku adalah suatu proses pemberian dan penangkapan informasi yang dilakukan oleh minimal dua orang. Tentu saja aku telah belajar berkomunikasi sejak umurku masih sangat kecil dan sepertinya mayoritas orang di dunia ini pun melakukan hal yang sama. Bukanlah suatu hal baru bagiku jika berbicara mengenai komunikasi.

Dalam setiap linimasa kehidupanku pun tak pernah dan tak dapat dipisahkan dari kegiatan berkomunikasi. Menurutku pun tak mungkin ada orang yang mampu bertahan untuk tidak berkomunikasi. Sebagai makhluk sosial, manusia yang pasti membutuhkan orang lain di luar dirinya dan berinteraksi dengan mereka pasti menyebabkan terjadinya komunikasi tersebut. Saat ini pun, kegiatan berkomunikasi tidak hanya terbatas oleh waktu dan tempat. Tak perlu lagi sulit-sulit untuk berkomunikasi karena jauhnya jarak atau keterbatasan waktu. Perkembangan teknologi di zaman ini dengan segala sarana prasarana yang ada membuat komunikasi bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun.

Kenyataan itulah yang membuatku bersyukur karena boleh merasakan segala kemudahan tersebut. Meskipun demikian, ada satu pertanyaan yang mendasari refleksiku ini. Jika saat ini komunikasi dengan banyak orang sudah sangat mudah dilakukan, bagaimana dengan keadaan komunikasiku dengan Allah? Apakah juga semakin mudah atau malah semakin sulit? Aku mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan itu di dalam diriku.

Sakramen dan Yesus Kristus

Dalam pelajaran Sakramentologi bersama dengan Romo Widi, OMI, aku mendapat suatu hal baru mengenai komunikasi yang kupikir telah umum kupahami ini. Pelajaran ini pun membuatku mampu menemukan jawaban atas pertanyaan yang kutuliskan di atas. Komunikasi menjadi salah satu model teologi sakramen di zaman ini. Lantas apa hubungannya komunikai sebagai model teologi sakramen dengan hubunganku dengan Allah? 

Ketika berbicara mengenai sakramen maka tak dapat tidak aku pun akan berbicara mengenai Yesus Kristus. Mengapa? Beberapa Teolog dan para pembesar Gereja menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Sakramen yang Terutama. Paus Leo Agung menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Principale ex Maximum Sacramentum (Sakramen Utama dan Terbesar). Hal serupa pun dikemukakan oleh dua teolog yakni E. Schillebeeckx yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Sakramen Allah dan Karl Rahner yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Sakramen Induk. Dari beberapa pernyataan itulah maka jelas bahwa ketika membahas mengenai sakramen secara tidak langsung pembahasan pun akan dibawa kepada pribadi Yesus Kristus sendiri.

Aku sendiri menyetujui pernyataan ini. Aku sadar bahwa dalam sakramen, entah apapun sakramen itu, pasti mengarah langsung ke pribadi Yesus. Yesus merupakan sakramen Allah sendiri. Kata sakramen, atau sacramentum dalam Bahasa Latin adalah kata yang digunakan untuk menerjemahkan kata mysterion dalam Kitab Suci berbahasa Yunani. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, mysterion menunjuk kepada Allah yang menyatakan diri-Nya sendiri dan juga rencana penyelamatan-Nya dalam sejarah manusia. Sementara dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, rencana keselamatan Allah itu terwujud secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Dari pemahaman inilah, aku menyadari bahwa Yesus memang Sakramen Allah sendiri dan Yesus lah Sakramen yang paling Utama.

Sakramen: Sarana Komunikasi dengan Allah

Lantas pertanyaan selanjutnya, bagaimana memandang sakramen sebagai sebuah bentuk komunikasi? Seperti yang telah dituliskan di atas, komunikasi merupakan proses pemberian dan penangkapan informasi yang dilakukan oleh minimal dua orang. Dari pengertian ini aku menyadari bahwa sakramen pun merupakan bentuk komunikasiku dengan Allah sendiri. Allah dan diriku adalah dua pihak yang saling menangkap dan memberi sebuah informasi. Jika pada zaman ini gadget menjadi salah satu sarana berkomunikasi, maka dalam konteks komunikasiku dengan Allah, sakramenlah yang menjadi sarana berkomunikasinya. Dalam sakramen, terjadi komunikasi aktif antara Allah dengan diriku.

Aku menyadari bahwa dalam menghayati beragam sakramen yang ada, aku pun diajak untuk membangun relasi komunikasi dengan Allah. Lewat sakramen Baptis, aku pertama-tama mulai berkomunikasi dengan Allah. Baptis ibarat sebuah perjumpaan awalku dengan Allah dalam segala dinamika komunikasi ini. Sakramen Krisma membuatku menyadari bahwa dalam berkomunikasi ini Allah memberikan kepadaku kekuatan lewat Roh Kudus yang aku terima. Allah ibarat sahabat yang mau datang kepadaku ketika aku mulai lemah dan dengan bantuan-Nya menguatkan diriku. Sakramen Rekonsiliasi menjadi saatku berkata secara jujur dan terbuka kepada Allah mengenai dosa-dosaku. Rekonsiliasi ibarat tempatku curhat dengan Allah mengenai segala kerapuhanku. Sakramen Ekaristi menjadi saatku berbincang dengan Allah lewat segala ritus yang ada di dalamnya. Ekaristi ibarat waktuku berdua saja dengan Allah dan di dalamnya aku dapat membicarakan apapun yang aku rasakan. 

Para pranovis OMI sedang belajar sakramentologi

Keterbatasan Sinyal

Memang, kerap kali aku tidak menyadari komunikasi yang terjadi ini. Diriku terkadang menolak segala bentuk komunikasiku dengan Allah. Sakramen pun tak jarang kupandang setengah hati sehingga membuat komunikasiku dengan Allah menjadi tidak berjalan dengan baik. Penyebab utama dari lemahnya sinyal ini kusadari berasal dari diriku. Aku sadar bahwa siapakah aku sehingga mempersalahkan Allah dari permasalahan sinyal ini? Sinyal yang dimiliki Allah untukku ibarat sudah sampai tahap 5G sedangkan sinyalku masih dalam kisaran 3G atau malah lebih rendah dari itu.  Pengalaman-pengalaman konkret keterbatasan sinyal ini terjadi secara harian dalam diriku. 

Saat Ekaristi misalnya. Ekaristi yang seharusnya menjadi saranaku untuk dapat berkomunikasi secara intim dan khusus dengan Allah kusalahgunakan. Aku terlalu sibuk dengan hal-hal lain baik di mata maupun di hati, sehingga perjumpaanku dengan Allah itu tidak dapat kuhayati sepenuhnya. Ibarat membuat janji bertemu dengan Allah di sebuah tempat, aku justru sibuk dengan kesibukanku sendiri dan mengacuhkan Allah yang telah mau hadir kepadaku.

Komunikasiku dengan Allah pun kerap kali hanya kupandang sebagai wadah mengaduh dan mengeluh. Aku hanya datang untuk memulai percakapan dengan-Nya jika aku sedang mengalami kesulitan hidup. Aku bersyukur karena Allah itu selalu sabar mendengar segala keluhan dan permintaanku. Mungkin seorang sahabat terbaik pun pasti akan ada saatnya bosan jika hanya mendengar keluhan setiap bertemu, namun Allah tidak pernah merasa keberatan akan hal itu.

Dalam sakramen Rekonsiliasi, aku pun sering membuat komunikasiku dengan Allah terhambat karena seringnya aku mengulang kesalahan yang sama. Kerap kali setelah aku keluar dari kamar pengakuan dan melakukan penitensi, aku kemudian melakukan dosa lagi. Dosa yang kulakukan itu pun tak jarang adalah dosa yang sebelumnya telah kuakukan dalam sakramen. Namun, kembali aku melihat Allah yang sungguh murah hati. Allah tetap menerimaku dan tidak ingin agar komunikasi antara diriku dengan-Nya terputus hanya karena masalah dosa. Allah selalu ada untukku untuk mendengar kerapuhan yang telah kulakukan.

Usaha Memperjuangkan Komunikasi

Dalam menjalin relasi dengan siapa pun, perlu ada usaha untuk membuat relasi itu berjalan baik. Sepasang kekasih pun selalu mengusahakan segala hal agar komunikasi antar mereka tidak kemudian terputus. Dalam konteks komunikasiku dengan Allah, kusadari bahwa kerap kali Allah berjuang sendiri untuk memperjuangkan komunikasi ini. Aku seakan tidak perduli dan tidak turut mengusahakan memperjuangan relasi baik yang telah dibuat Allah.

Berdasar dari kesadaran ini, aku pun ingin mencoba untuk juga berjuang menjaga komunikasi yang ada ini, supaya Allah tidak terus-menerus berjuang sendiri. Usaha konkret yang ingin kulakukan dimulai dari Sakramen Ekaristi, karena sakramen ini menjadi sakramen harian yang kulakukan. Aku akan berusaha untuk memfokuskan diri pada Allah yang hadir dalam ekaristi. Memang butuh perjuangan, namun bukankah Allah pun telah berjuang selama ini.

Selain itu, aku pun ingin belajar untuk bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepadaku. Aku ingin mencoba untuk tak hanya datang kepada-Nya di kala aku sedih atau membutuhkan bantuan, namun juga dalam sukacitaku. Aku juga ingin membagikan sukacitaku kepada Allah dalam setiap kegiatan yang kulakukan.

Kehadiran Allah dalam Kehidupan Harian

Setelah merefleksikan mengenai komunikasiku dengan Allah, aku pun sampai kepada kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap linimasa kehidupanku. Allah selalu mengusahakan yang terbaik untukku dalam setiap apa yang kulakukan. Berkaitan pula dengan model teologi sakramen yang lain yakni “Sakramen bagi situasi dasar manusia”, aku memandang sakramen sebagai saatku mampu merasakan Allah dalam hidupku. Memang belum ada refleksi secara mendalam mengenai kesadaran ini, karena aku merasa lebih condong terhadap komunikasiku dengan Allah, namun setidaknya dari apa yang telah kurefleksikan di atas aku semakin menyadari bahwa Allah sungguh hadir dalam segala kejadian hidupku.

Allah memperhatikanku bukan hanya dengan janji-janji manis, namun lebih dari itu, Allah hadir secara konkret dalam hidupku. Kehadiran orang-orang di luar diriku membuatku semakin menyadari bahwa Allah tak pernah membiarkanku sendirian. Terkadang memang diriku yang tidak menyadari kehadiran Allah ini dan selalu menanggap bahwa Allah terkadang “pergi” Namun, dari kesadaran ini, aku semakin menyadari adanya Allah dan bersyukur karenanya. 

Tuhan sertailah aku selalu, Bunda Maria Imakulata dampingi langkahku selalu. Amin.

Condongcatur, 17 Januari 2021

Nicolas Deny Gemelli Putra Almaishya, PN OMI