Kodrat Garam dan Terang

Renungan 9 Juni 2020, Matius 5:13-16

Ketika merenungkan perikop ini saya langsung mengingat apa yang pernah saya baca dari buku “Filosofi Teras” oleh Henry Manampiring.

“Kamu salah jika kamu melakukan kebaikan pada orang dan berharap dibalas, dan tidak melihat perbuatan baik itu sendiri sudah menjadi upahmu. Apa yang kamu harapkan dari membantu seseorang? Tidakkah cukup bahwa kamu sudah melakukan yang dituntut Alam (nature)? Kamu ingin diupah juga? Itu bagaikan mata yang menuntut imbalan karena sudah melihat, atau kaki meminta imbalan karena sudah melangkah. Memang sudah itu rancangan mereka… begitu juga manusia diciptakan untuk membantu sesama. Dan ketika kita membantu sesama, kita melakukan apa yang sudah dirancang untuk kita. Kita melakukan fungsi kita.”- Marcus Aurelius (Meditations) hal. 155.

Seperti garam yang memiliki kodrat untuk memberi rasa asin atau mengasinkan begitu pula manusia memiliki kodrat untuk membantu sesama. Garam bertugas untuk memberi rasa asin yang menurut saya membuat sedap suatu masakan. Mari ingat kembali penggalan lirik lagu “Goyang Inul” dari Inul Daratista (nama asli Ainur Rokhimah). “Ada yang bilang dangdut tak goyang bagai sayur tanpa garam kurang enak kurang sedap”. Penggalan ini bisa memperlihatkan bahwa keberadaan garam cukup penting. Pengajaran Yesus mengenai garam mengarahkan pemahaman kita untuk membantu sesama. Apa yang telah ditunjukkan banyak orang di dunia saat ini telah memberi contoh konkret dengan donasi besar-besaran untuk membantu penanganan Covid-19 serta banyak pihak yang menggalang bantuan menyalurkannya (bantuan tenaga). Perlu diingat ketika saatnya pandemi ini tidak lagi mengancam kita diharap tetap harus konsisten menyelenggarakan perbuatan baik itu.

Perihal terang apa yang diajarkan Yesus saya renungkan sebagai usulan untuk meningkatkan kapasitas diri. Yesus berharap agar murid-muridnya menjadi terang yang mampu menyinari setiap sudut, berguna bagi banyak orang. Tidak berhenti menjadi berguna seperti kodrat garam tadi tapi juga meningkatkan efektifitas pelayanannya. Ketika kita menyadari talenta dan mengasahnya juga manjadi cara untuk mewujudkan efektifitas terang tersebut. Untuk bisa menyadari hal itu perlu menerima diri apa adanya dan memandangnya sebagai jati diri. Penerimaan akan diri ini dalam buku Filosofi Teras juga adalah bagian dari hidup selaras dengan alam. Apa yang perlu diperhatikan adalah penerimaan diri ini baik dibarengi dengan usaha meningkatkan kapasitas diri. Saya perlu menyadari yang kurang dalam diri dan berusaha meningkatkannya. Pada akhirnya diri saya yang berkembang akan banyak membantu pelayanan saya.

Di akhir renungan ini saya mengingatkan kembali bahwa tujuan perbuatan baik yang menjadi kodrat manusia itu adalah untuk memuliakan Tuhan. Ia yang telah menciptakan manusia dan memberi nilai lebih dari perbuatan baik itu. Bahkan Ia pula yang menjadi pusat dari perbuatan baik itu. Seperti pada akhir ayat perikop ini “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

”By. Fr Thomas Brian Wicart OMI


Bersama: Agus Seminari Tinggi OmiFX Togar Mulya Nainggolan Rezerius Bintang Redwan Pontifex Mark Anamangu FX Yulianto Alvin Adyanto Aloysius Wahyu Nugroho Pinansius Sakai Henrikus Prasojo Natanael Prafano Arnoldus Bryan Evan Pabubung Thomas Brian Antonius Widiatmoko Suni Bonikus Rico Santos Sas Vincensius Agung Fransiskus Paiman Yuniorat Omi Mario Borzaga Yuniorat Omi Novisiat Omi Yogyakarta Johanes M Vianey Yeremias Mangu


#oblatmariaimakulata#oblatesofmaryimmaculate#omiindonesia#oblatelife#joyfuloblate#tahunpanggilanoblat#oblatesvocationyear#katolik#omkindonesia#hitsomk#hitz_omk#instakatolik#hidupmembiara#youth#ppdm#ppdmyogyakarta#oblateyouth#seminaritinggiomi#yunioratomi#sahabatkatolik#misdinarindonesia#greattobeanoblate#katolikrepost#ceritaorangmudakatolik#katolikmisioner