Keuskupan Purwokerto

Pada hari Natal 1970, Provinsial Aus­tralia yang baru, Pastor John Hannah OMI, mengumumkan bahwa sebuah perjanjian antara OMI dengan Uskup Purwokerto, Mgr. W.M. Schoemaker MSC telah dicapai. Pada tanggal 20 Oktober 1971, empat misionaris Oblat dari Australia, yaitu John Kevin Casey, Patrick Moroney, David Shelton dan Patrick Slaterry berangkat menuju Indonesia.

Di Wilayah Keuskupan Purwokerto, OMI berkarya di tiga paroki, yaitu (1) Paroki St. Yosep, Purwokerto Timur (1972-1992), (2) Paroki St.Stephanus, Cilacap (1972 – sekarang), dan (3) Paroki St.Maria Imakulata, Banyumas (1992 – sekarang). Selain karya parokial tersebut, OMI juga mengelola (4) Gua Maria Kaliori dan (5) Rumah Retret Maria Imakulata Kaliori, Banyumas, serta (6) Hotel Bintang Laut, Pangandaran, Jawa Barat.

Berikut ini disajikan informasi secara garis besar perihal karya OMI di tiga paro­ki tersebut serta pengelolaan Gua Maria dan Rumah Retret Maria Imakulata, Hotel Bintang Laut di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Selanjutnya, diinformasikan bidang-bidang karya pelayanan khususnya di Paroki St.Stephanus Cilacap.

1. Paroki St. Yosep, Purwokerto Timur

Para Oblat mulai berkarya secara resmi di Paroki St. Yosep sejak hari Pantekosta 1972. Gereja Paroki Purwokerto Timur ini terletak sekitar 4 KM dari gereja Paroki Katedral. Ketika diserahkan kepada OMI, paroki tersebut melayani sekitar 900 umat, mayoritas umat berlatar belakang Tionghoa. Pastor Patrick Moroney, OMI menjadi pastor kepala di paroki tersebut.

Paroki St. Yosep juga memili­ki 2 stasi, yaitu stasi Sokaraja (yang letaknya sekitar 7 KM dari pusat paroki) dan stasi Banyumas, di tepi sungai Serayu (yang letaknya sekitar 15 KM dari pusat Paroki).

Kehadiran para Oblat mem­ba­wa suasana baru, mereka giat dalam kunjungan umat serta memper­ke­nal­kan berbagai gerakan dan ke­giatan kelompok bagi umat, seper­ti ME (Marriage Encounter), Choice, Antiokhia, Wa­nita Katolik, Karisma­tik, dll. Bersama umat, mereka juga memperhatikan pembangunan yang bersifat fisik, seperti membangun aula pertemuan (1981), Gereja Stasi Banyu­mas (1981) dan gedung gereja baru yang di­berkati pada tanggal 1 November 1990. Perlu dicatat juga bahwa Oblat dan banyak umat ambil bagian dalam pembangunan Gua Maria Kaliori, yang diberkati pada tanggal 8 Desember 1989.

Selain berurusan dengan kegiatan pas­toral parokial, para oblat bersama beberapa umat juga terjun dalam kegiatan yang bersifat pelayanan sosial bagi masyarakat, seperti membangun SMP dan SMA Yos Sudarso di Sokaraja, Balai Pengobatan Yos Sudarso dan proyek pengembangan Desa Mino Martani.

Setelah berkarya di paroki tersebut selama 20 tahun, akhirnya pada tahun 1992 OMI mengembalikan Paroki St.Yosep kepada pihak Keuskupan Purwokerto pada awal tahun. Selanjutnya para Oblat pindah ke Banyumas, untuk mengembalakan paroki “kecil” tersebut dan memulai karya pelayanan di Gua Maria Kaliori dan Rumah Retret Maria Imakulata.

Para Pastor OMI yang pernah berkarya di Paroki ini sejak 1972-1992 :

  1. Patrick Moroney OMI (1972-1975)
  2. Patrick Slaterry OMI (1972-1975)
  3. PJ. McLaughlin OMI (1975-1978)
  4. David Shelton OMI (1978-1983)
  5. Yohanes Kevin Casey OMI (1975-1982) (1987-1992)
  6. Patrick Mc Anally OMI (1983-1990)

2. Paroki St. Stephanus, Cilacap

Pada tanggal 21 Mei 1972, Pastor Kevin Casey OMI dan David Shelton OMI menerima kepercayaan dari Bapak Uskup Purwokerto untuk menggembalakan paroki OMI yang kedua, yaitu Paroki St. Stephanus, Cilacap. Sebelum kedatangan para misionaris OMI, paroki tersebut digembalakan oleh para Misionaris MSC. Sebelum akhirnya memilih Paroki ini, OMI mula-mula ditawari Paroki Tegal. Karena beberapa pertimbangan akhir­nya memilih pantai selatan Jawa, yaitu Paroki Santo Stephanus Cilacap. Pada awal tahun 1970-an ini jumlah umat paroki Cilacap tercatat sekitar 3000 jiwa.

Paroki ini berjarak sekitar 65 KM dari kota Purwokerto. Wilayah kegembalaan paroki ini sangat luas, meliputi hampir seluruh wilayah Kabupaten Cilacap. Paroki ini mempunyai lebih dari 30 stasi, beberapa di antara cukup besar, seperti Kawungan­ten, Sidareja, Majenang, dan Kroya. Pada tahun 2013, ke tiga stasi tersebut, kecuali Kawunganten, telah menjadi paroki-paroki tersendiri dan digembalakan oleh para imam diosesan.

Pada tahun 1973, dua Oblat tiba dari Australia untuk bergabung dalam misi Jawa. Mereka adalah Pastor Charles Burrows OMI dan PJ. McLaughlin OMI. Sejak berkarya di paroki Cilacap, Pastor Charles Burrows OMI atau yang lebih dikenal sebagai Pastor Carolus membuat pelayanan Gereja lebih berwarna. Para OMI bukan hanya memberikan pelayanan di sekitar meja altar dan sakramen lainnya, namun juga memberikan perhatian yang besar terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya mereka yang miskin atau pun yang hidup di pedesaan-pedesaan yang terpencil, yang hidup serba terbatas dari segala sarana dan prasarana yang diperlukan agar hidup layak. Dibantu oleh para suster PBHK dan sebuah team yang terdiri dari 3 perawat, Pastor Carolus mulai memberi banyak per­hatian kepada masyarakat di Kampung Laut. Pada tahun 1976 untuk mendukung dan memperluas pelayanan sosialnya kepada masyarakat, Pastor Carolus mendirikan Ya­yasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS). Melalui yayasan tersebut, ia membangun beberapa sekolah (dari TK sampai SMU/SMK) di berbagai desa/kecamatan. Kebanyakan se­kolah yang didirikan diberi nama Yos Su­darso.

Meski karya sosial di Paroki Cilacap sangat menonjol, namun karya pastoral parokial juga mendapat perhatian yang besar. Kunjungan ke stasi-stasi tetap rutin dilaksanakan. Berbagai kelompok kategorial tetap hidup di paroki, seperti Legio Mariae, OMK, Putra Altar, AMMI, Karismatik, dll.

Sejak OMI memasuki Cilacap pada tahun 1972, sudah sekitar 20 pastor OMI yang datang dan pergi untuk berkarya di paroki St. Stephanus ini. Para Pastor OMI yang pernah berkarya di Paroki ini sejak 1972-sekarang :

  1. Yohanes Kevin Casey OMI (1972-1975; 1984-1987 ; 1998-sekarang)
  2. Charles Burrows OMI (1973-sekarang)
  3. PJ. McLaughlin OMI (1973-1975)
  4. Patrick Mc Anally OMI (1978-2004)
  5. David David Shelton OMI (1972-1975)
  6. John O’Doherty OMI (1982-1984)
  7. G. Basir Karimanto OMI (1987-1990)
  8. Nico Setija Widjaja OMI (1991-1995)
  9. Ig. Yulianto OMI (1991-1995)
  10. B. Sukarjo OMI (1991-1993)
  11. Dominikus Pareta OMI (1994-1998)
  12. Yakobus Priyana OMI (1995-2000)
  13. FX. Siswo Murdwiyono (1997-1998)
  14. Tarcisius Riswanta OMI (1999-2001)
  15. Aloysius Kok OMI (2005-2009)
  16. Vincentius K. Watun OMI (akhir 2007- sekarang)
  17. Nikolaus Ola Paukuma OMI (Juni 2009-sekarang)

3. Paroki St. Maria Imakulata, Banyumas

Para Oblat sejak hari Pantekosta 1972 mulai berkarya di Paroki St Yosep, Kaliputih, Purwokerto Timur. Pada tahun tersebut, Banyumas masih merupakan salah satu stasi dari Paroki St. Yosep. Umatnya saat itu berjumlah sekitar 75 orang. Dua puluh tahun kemudian, ketika Para Oblat menyerahkan kembali Paroki St. Yosep kepada pihak Ke­uskupan Purwokerto, mereka memilih Ba­nyumas sebagai medan misi mereka. Tidak lama setelah kedatangan para Oblat itu, tepatnya pada tanggal 3 Mei 1992, Banyumas, yang sebelumnya merupakan sebuah stasi dinyatakan sebagai sebuah paroki baru, mes­ki umatnya hanya sekitar 480 orang atau 175 KK. Wilayah Paroki ini meliputi ke­camatan: Banyumas, Kalibagor, Somagede, dan Kemranjen. Pastor Yohanes Kevin Casey OMI menjadi gembala paroki Banyumas yang pertama.

Gedung gereja permanen yang sampai sekarang digunakan untuk perayaan sakra­men/sakramentali telah ada sejak tahun 1981, meski baru diberkati oleh Bapak Uskup Purwokerto Mgr P.S. Hardjosoemarto MSC (Alm.) pada 2 Maret 1984.

Sebagian umat Paroki Banyumas berla­tar belakang pekerjaan sebagai pedagang. Kehidupan sehari-hari paroki lebih diwarnai orang-orang tua dan anak-anak. Kaum remaja dan mudanya kelihatan lebih banyak di saat liburan sekolah atau semesteran.

Sejak beberapa tahun terakhir Paroki Banyumas memiliki tiga lingkungan yaitu, Imakulata, St. Albertus dan St. Yosep serta sebuah stasi, St Mateus Ka­rangrau. Terdapat beberapa ke­lompok kategorial dalam paroki ini, misalnya OMK, Le­gio Mariae dan ke­lompok Meditasi.

Pada Januari 2011, di paviliun samping aula Wisma Serayu dibuka sebuah Panti Asuhan yang diberi nama “Bunda Serayu”. Pengelolaan Panti Asuhan ini oleh Bapak Uskup Purwokerto dipercayakan kepada para suster dari tarekat JMJ (Jesus Maria Josep). Panti Asuhan ini menerima anak-anak yatim/piatu yang berasal dari berbagai kota, termasuk dari luar Pulau Jawa.

Pada tahun 2012, pastor FX. Sudiman OMI membuat sejumlah perubahan (renovasi) pada bangunan rumah pastoran dan kantor paroki, termasuk menambahkan di samping luar gereja sebuah ruang doa devosi dan meditasi yang diberi nama panti semedi “Ndherek Dewi Maria”.

Para Pastor OMI yang pernah berkarya di Paroki ini sejak 1992-sekarang :

  1. Yohanes Kevin Casey OMI (1992-1998)
  2. Dominikus Pareta OMI (1998-2005)
  3. Ig. Yulianto OMI (2005-2008)
  4. Tarcisius Riswanta OMI (2008-2012)
  5. FX. Sudirman OMI (2012 – skrg)

4. Gua Maria Kaliori, Banyumas

Setelah meninggalkan Paroki St. Yosep, Purwokerto Timur, OMI pindah ke paroki Banyumas. Selama beberapa waktu Oblat yang berkarya di paroki tersebut bertempat tinggal di Wisma OMI di Kaliori. Wisma OMI di Kaliori diresmikan pada tanggal 15 Mei 1993 oleh Bupati Banyumas, Bpk. Djoko Sudanto­ko dan diberkati oleh Superior Jendral OMI Pastor Marcello Zago, OMI pada tanggal 16 Mei 1993. Dari Kaliori (sambil menunggu tersedianya rumah pastoran), pastor OMI menggembalakan Paroki Banyumas sekaligus juga melayani kebutuhan para peziarah di Gua Maria Kaliori.

Gua Maria Kaliori diberkati oleh Mgr.Paskalis Hardjosoemarto MSC pada tanggal 8 Desember 1989. Ide adanya sebuah tempat ziarah Gua Maria di wilayah keuskupan Purwokerto ini berasal dari sejumah umat yang baru saja pulang dari mengikuti retret Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) yang diselenggarakan di Nga­direso, Tumpang, Malang maupun di Wisma Serayu, Banyumas antara tahun 1985-1986. Ide untuk memiliki Gua Maria di wilayah keuskupan ini makin kuat karena mereka melihat bahwa ada banyak umat Katolik yang kesulitan pergi ziarah ke Gua Maria di Sendang Sono atau di Kerep, Ambarawa karena alasan jarak yang lumayan jauh dari tempat asal mereka. Setelah serangkaian pertemuan pada tahun 1986 -1988 untuk menggodok ide tersebut dengan berbagai pihak, antara lain dengan Paroki St.Yosep, Purwokerto Timur yang saat itu digembalakan oleh Pastor Patrick Mc Anally, OMI dan dengan pihak Keuskupan, akhirnya ide itu siap diwujudkan.

Peletakan batu pertama pada tanggal 15 Agustus 1988 bertepatan dengan penutupan Tahun Maria. Patung Maria yang berdiri di dalam gua tersebut diberkati oleh Sri Paus Yohanes Paulus II saat beliau berkunjung ke Indonesia, tepatnya saat beliau memimpin perayaan ekaristi akbar bersama segenap umat di Keuskupan Semarang dan sekitarnya pada tanggal 10 Oktober 1989 di lapangan Adi Sucipto, Maguwo, Yogyakarta.

Komplek Gua Maria Kaliori merupakan sebuah areal yang luasnya sekitar 15 Ha. Di dalam komplek tersebut, selain terdapat Gua Maria berikut halamannya yang luas, yang bisa menampung sampai 1.000 orang peziarah, juga terdapat semacam hutan buatan yang ditumbuhi aneka pohon, seperti mahoni, aka­sia, dan serta kebun pohon jati. Selain itu juga terdapat sebuah kapel dan komplek pemakaman Katolik.

Ada banyak tokoh awam yang bekerja keras sehingga di desa Kaliori ini terdapat sebuah tempat ziarah yang cukup luas dan memiliki fasilitas yang lumayan lengkap. Beberapa nama bisa disebut di sini, misalnya Bapak Karso Suryosupono, Eddy Setio dan Wawan Darmawan, dll.

Komplek yang luas menuntut pemeli­haraan dan perawatan yang melibatkan cukup banyak pegawai dan biaya yang tidak kecil setiap bulannya. Maka sudah sejak tahun-tahun pertama keberadaan Gua Maria ini, para pengurus Gua Maria Kaliori menye­lenggarakan kegiatan arisan yang para pe­sertanya mencapai ratusan orang bahkan lebih dari seribu orang agar bisa menghasilkan sejumlah dana untuk mendukung biaya rutin dan pengembangan di tempat ziarah ini.

Sejak berdirinya hingga sekarang, seti­ap tahun selama sembilan bulan, setiap minggu ketiga di halaman Gua Maria Kaliori diselenggarakan Misa dan Novena Bunda Maria. Bukan hanya Bapa Uskup dan para imam dalam Keuskupan Purwokerto, tetapi juga imam dari berbagai kota/kongregasi diundang untuk memimpin novena ini. Banyak umat menghadiri misa dan novena ini. Rata-rata jumlah umat yang hadir bisa mencapai sekitar 750 orang. Jumlah yang hadir biasanya lebih banyak lagi pada saat pembukaan atau penutupan novena. Selain itu, pada bulan Mei dan Oktober juga banyak rombongan peziarah dari berbagai paroki atau kota berkunjung ke Gua Maria Kaliori ini.

5. Rumah Retret Maria Imakulata, Kaliori, Banyumas

Selain menggembalakan Pa­roki St. Ma­ria Imakulata di Ba­nyumas, pastor OMI ju­ga mulai bergiat dalam pelayanan retret bagi berbagai kelompok. Tersedia beberapa kamar di samping Aula Wisma Serayu, Paroki Banyumas, yang bisa dimanfaatkan untuk akomodasi bagi peserta retret. Karya ini dapat dikatakan sebagai tindak lanjut dari pertemuan 3 delegasi. Salah satu rekomendasi dalam pertemuan 3 delegasi pa­da Oktober 1988 adalah untuk memulai sebuah karya pelayanan khusus se­suai dengan mandat dalam Konstitusi OMI. Kita menyadari bahwa kita memerlukan se­buah team yang akan mem­per­hatikan kesejahteraan rohani para pe­mimpin awam kita, para guru dan murid (dari sekolah-sekolah yang ada), para Oblat muda, dll. Itulah alasan didi­rikannya Rumah Retret Maria Imakulata.

Sarana Rumah Retret Ma­ria Imakulata (RRMI) di Kaliori baru berdiri dan diresmikan oleh Bapa Uskup Purwokerto Mgr. P.S. Hardjosoemarto, MSC pada tanggal 30 Juli 1995. Beberapa fasilitas yang tersedia di rumah retret pada saat diresmikan adalah 3 unit bangunan panjang yang masing-masing berisi 12 kamar, 7 pondok yang masing-masing berisi 2 kamar yang cukup luas, gedung aula dan ruang makan yang bisa menampung sampai 100 orang.

Para Pastor OMI yang pernah berkarya di sini sejak 1992 – sekarang :

  1. Yohanes Kevin Casey OMI (1992-1998)
  2. Patrick Mc Anally OMI (1996-2000)
  3. B. Sukarjo OMI (2000-2002)
  4. Ig. Yulianto OMI (2002-2005)
  5. Dominikus Pareta OMI (2008-2012)
  6. FX. Rudi Rahkito Jati OMI (2012-skrg)

6. Hotel BINTANG LAUT di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat

Hotel Bintang Laut dulunya adalah semacam rumah peristirahatan di pinggir pantai bagi para OMI yang berkarya di Cilacap maupun Purwokerto yang bermaksud rileks setelah hari-hari pelayanan rutin di paroki. Tempatnya sangat dekat dengan bibir pantai dan menghadap ke pantai barat Pangandaran. Properti ini dibeli OMI pada tahun 1983 (sertifikat tanah terbit pada tahun 1984).

Seiring perjalanan waktu, banyak teman atau umat yang berkeinginan untuk memin­jam atau menyewa dalam rangka liburan mereka. Maka akhirnya rumah peristirahatan itu diperbaiki, diperluas, dilengkapi fasilitasnya dan dibuka untuk menjadi penginapanan atau hotel bagi umum.

Hotel atau penginapan Bintang Laut ini terletak di persimpangan Jl. Bulak Laut dan Jl. Pantai Barat, Pangandaran. Luas ba­ngunan “Bintang Laut” kurang lebih 600 meter persegi di atas tanah seluas sekitar 2.600 meter persegi. Posisi hotel ini sangat stra­tegis, memungkinkan mata kita memandang pemandangan laut maupun matahari terbe­nam di sore hari, serta tidak jauh dari lokasi surfing. Hotel Bintang Laut memiliki 10 kamar, dengan fasilitas double bed, AC, TV, bathroom.

Pada tanggal 17 Juli 2005, ketika tsunami menghantam Pantai Pangandaran, Hotel Bintang Laut ini juga mengalami kerusakan yang parah. Sebagian pilar depan rumah miring dan sebagian hancur. Begitu juga pintu dan jendela hancur. Hampir semua meubel rusak atau hilang disapu air. Semua perabot TV dan AC rusak. Pagar sekeliling halaman hotel ambruk.

Akibat tsunami tersebut, keluarga Ba­pak Andreas Wisnu Nugroho, karyawan yang mengelola Hotel Bintang Laut, akhirnya juga dipindahkan ke Rumah Retret Maria Imakulata, Kaliori. Bapak Wisnu selanjutnya bekerja mengurus rumah retret tersebut.

Seiring kembali normalnya wisata Pan­tai Pangandaran setelah untuk beberapa saat seakan menjadi pantai yang mati ka­rena bencana tsunami Juli 2005 tersebut, Hotel Bintang Laut setelah direnovasi juga beroperasi kembali.

Kini sejak tahun 2012 Pantai Pangan­daran telah menjadi salah satu tujuan wisata pantai yang ramai pengunjung. Banyak hotel lama telah berubah wajah menjadi lebih menarik. Juga muncul lebih banyak hotel baru yang lebih bagus dan lengkap dalam fasilitas. Bila Hotel Bintang Laut milik OMI ini ingin bertahan dan bisa menghasilkan, kiranya diperlukan penataan dalam berbagai segi.