Keuskupan Kalimantan Timur

Keuskupan Agung Samarinda dan Keuskupan Tanjung Selor

OMI di wilayah Kalimantan Timur ber­karya di Keuskupan Agung Samarinda dan di Keuskupan Tanjung Selor. Di Keuskupan Agung Samarinda Oblat berkarya di Paroki St. Petrus dan Paulus (Ba­likpapan), Stasi Km 15 (Balikpapan), Stasi Km 45 (Balikpapan), dan Paroki St. Maria dari Fatima (Penajam). Sedangkan, di Keuskupan Tanjung Selor Oblat berkarya di Paroki Maria Imakulata (Tarakan), Paroki St. Stephanus (Malinau), Paroki Rasul Yohanes (Pulau Sapi)

Berikut akan disajikan perihal Sejarah Evangelisasi Kaltim dan selanjutnya Karya OMI di Keuskupan Samarinda dan Keuskupan Tanjung Selor.

SEJARAH EVANGELISASI KALTIM

1. Konsili, Sinode, Raker, dan Rapat-rapat yang Lain

Belum lama setelah dilantik menjadi paus, Beato Yohanes XXIII, mengejutkan dunia dengan mengumumkan niatnya memanggil para uskup sedunia untuk melaksanakan konsili ekumene yang akan menjadi patokan baru dalam hidup gereja katolik. Waktu itu sudah lewat 90 tahun dari konsili sebelumnya dan saat ini sudah lewat 50 dari padanya dan nyatanya belum selesai dikaji dan diterapkan.

Memang itu konsili ekumene, lain dari sinode para uskup yang dilaksanakan tiap 4 tahun atau raker keskupan yang terlakasana tiap 3 samapai 5 tahun, dan lain tentu dari rapat-rapat yang lain, seperti rapat evaluasi, rapat konsolidasi dll. Sebutan-sebutan tesebut tentu mempunyai arti dan makna dan masa berlaku yang harus dihargai dan dihormati, supaya tidak merupakan produksi kertas yang tidak sempat dipakai yang disimpanan begitu saja dalam arsip. Tiga jenis rapat utama di atas biasanya menghasilkan dokumen singkat dan padcat terisi pandangan menyeluruh dan sistematis tentang situasi dunia dan gereja.

Konsili Vatikan ke II, yang berjalan selama 6 tahun, terdiri hanya dari 4 dekrit utama dan sejumlah deklarasi. Sinode yang baru ditutup hanya menulis sekitar 10 lembar folio, untuk mengarahkan seluruh gereja kepada tugas evangelisasi baru. Konsili, Sinode, Raker yang baru, berjiwa semangat evangelisasi dan berpedomana kepada sejarah gereja dan konsili, sinode dan raker sebelumnya. Sinode 2012 berkata :

Evangelisasi baru bukan berarti bahwa “segalanya harus dimulai baru, tetapi, dengan semangat kerasulan Paulus, yang sampai berkata: “Celakalah bagiku kalau tidak me­wartakan Injil” (1Cor 9,16) – harus masuk ke dalam perjalanan panjang pewartaan Injil yang sejak abad-abad pertama jaman kristiani sampai sekarang, menyelusuri sejarah dan di segala bagian dunia membangun komunitas-komunitas orang beriman (2.2).

Maka diperlukanlah Semangat missioner dan Kontinuitas dengan gereja yang hidup

2. Tahap-tahap Evangelisasi Kaltim

Percobaan misi Odoriko (1.300) dan Antonio Ventimiglia (1680-an) tidak berhasil

1907: Permulaan di tanah Dayak

Pendekatan misionaris kepada Kali­man­tan, khususnya bagian timur, baru pertama kali terjadi dengan Antonio Ventimiglia, te­tapi karyanya tidak ada kelanjutan setelah kematiannya dan blokade dari pihak banjar. Blokade sultan-sultan Malayu (Banjar, Kutai, Berau, Bulungan) masih belanjut di masa pemerintahan kolonial Belanda. Gereja ba­ru bisa mulai karyanya secara teratur di permulaan abad ke 20 di pedalaman dayak, di luar batas kuasa sultan-sultan. Di situ pun misi Katolik dibatasi oleh peraturan kalvinis Belanda yang tidak mengijinkan dimulainya karya katolik di daerah yang sudah ada kegiatan protestan. Maka ada dua pagar yang membatasi karya Katolik: Islam dan Protestan.

1934 / 1966: Melebar ke pantai

Dalam masa terakhir sebelum perang dunia ke dua dan dalam dua dekade setelah kemerdekaan terjadi sejumlah peristiwa yang melonggarkan tali-tali pembatas tersebut:

  • Perubahan politik dengan berkurannya bobot sultanat
  • Murid sekolah katolik dayak dari peda­laman turun ke kota, entah untuk melan­jutkan
  • Pendidikannya maupun untuk melak­sa­nakan tugas di pemerintahan, perusa­ha­an dan gereja
  • Trasmigrasi spontan dan terorganisir membawa penduduk baru di daerah yang tadinya tertutup kepada kehadiran Gereja katolik, yang membutuhkan pelayanan Gereja
  • Industrialisasi mendobrak pintu kepada keterbukaan yang sama

1976/2002

Dua tahun tersebut, saya ambil untuk menandai masa karya misionaris OMI Italia di daerah Kalimantan timur.

1976

Kunjungan survey (bulan Mei 1976) oleh P. Mario Bertoli dan P. Yosep untuk menanggapi tawaran keuskupan Samarinda kepada P. Ferdinand Jette Superior General OMI (Februari 1976) dan penentukan Delegasi misionari OMI Samarinda 3 des. 1976.

2002

Pendirian keuskupan Tanjung Selor, se­bagai tercapainya tugas yang dibebani ke­pada Delegasi OMI Samarinda. Keterbukaan yang mulai untuk misi Katolik selelah kemerdekaan terasa tidak dapat dimanfaat sepenuhnya oleh Gereja Kalimantan timur karena keterbatasan tenaga karena:

  • Misionaris MSF Belanda berkurang:
    Setelah perang dunia ke dua misio­narisbelanda cukup banyak, bahkan boleh dikatakan ramai; jarang seorang diri, ja­rang jumlah umat yang dikembalakan men­capai ribuan, tetapi kampung-kampung di mana ada sekelompok kecil umat, cukup ba­nyak, berjarak jauh dan sulit didatangi; tetapi sepuluh tahuan kemudian ternyata persediaan tenaga misionaris asing berku­rang cepat dan kesulitan mendatangkan yang bertambah, karena bermacam sebab: keluarga di eropa menjadi keluarga kecil, anak sedikit, panggilan berkurang; di dae­rah misi perlawanan kelompok lain dan na­sionalisme atau kekawatiran atas pengaruh terhadap umat masing-masing, tambah kuat, sehingga pelahan-pelahan jumlah misionaris berkurang, menjadi tua dan kurang berdaya.
  • Pertumbuhan tenaga imam setempat lambat
    Sementara, setidaknya di Kalimantan, jumlah pemuda yang mau menjadi pengganti pastor-pastor tua, tidak banyak, seminaris yang sampai imamat sedikit, jauh dari meng­imbangi kekurangan di antara misionaris asing.
    Pastor-pastor Indonesia pertama dan uskup Indonesia pertama di Kalimantan Ti­mur, Pastor Ding dan Pastor Mangun dan mons. Florentinus Sului, adalah putra-putra Dayak, terikut sejumlah yang lain sampai sekarang, walaupun jauh dari mengimbangi kebutuhan.
  • Jumlah dan kualitas tenaga awam be­lum memadai
    Tenaga awam untuk mengisi kebutuhan sekolah-sekolah katolik, cukup cepat dan berarti, dan banyak di antara mereka yang menjadi pewarta awam,
    Tetapi jumlah katekis yang disiapkan dengan kurrikulum spe­sifik, tidak begitu ba­nyak, kebanyakan hanya bermodal ke­mauan baik dan pendidikan pas­toral mereka berasal dari pena­taran-penataran atau tam­bahan/tempelan di atas kurikulum umum
    Pertengahan tahun 70an situasi tersebut mencapai titik sangat kritis di daerah misi Kalimantan. Maka para uskup setempat memasang telinga wak­tu dengar bahwa misionaris dari Indocina telah diusir oleh pe­me­rintahan-pemerintahan ko­munis yang baru berkuasa di Vietnam, Laos dan Kambodia dan sejumlah dari misionaris tersebut bersedia memulai kembali mela­yani misi di Asia Tenggara. Di antara promotor-promotor, Mgr. Van Wegberg, administrator baru di Samarinda dan sekretarisnya, Pastor Yulius Husin, yang mengirim surat kepada Superior Jenderal OMI di Roma menawarkan karya yang urgen dan mendesak di Keuskupannya, khususnya di daerah Tarakan dan sebagian di daerah Balikpapan.

3. Raker-raker Keuskupan Agung Samarinda dari Tahun ke Tahun

Raker 1986: Tema “Pengembangan Jemaat Dari Bawah”. Pemberlakuan Pedoman Pastoral Dewan Paroki dan Dewan Stasi

Raker 1989: Visi “Gereja yang Mengikuti Yesus Kristus Dibimbing oleh Roh Kudus yang Hidupnya Berpusat pada Ekaristis Kudus. Misi: “Menghadirkan Kerajaan Allah Baik ke Luar maupun ke Dalam.”

Raker 1995: Tema “Menuju Gereja Lokal yang Mandiri”. Pembentukan Badan Koordinasi Pastoral ke Dalam, Badan Koordinasi Pastoral ke Luar dan Badan Koordinasi Pendanaan.

Raker 2000: Tema “Evaluasi Pelaksanaan Hasil Rapat Kerja 1995 dan Penyusunan Program Kerja Menuju Kedewasaan Iman Umat Memasuki Milenium Ketiga”.

Raker 2005: Tema “Kemandirian Dana dan Tenaga dengan Semangat Persau­daraan Menuju Kedewasaan Iman Umat”. Pemberlakuan Direktorium Komisi/Lem­baga; Pengelolaan Keuangan; Pedoman Dewan Pastoral Paroki/Stasi

Ini bukan daftar isi arsip gereja, te­tapi tahap-tahap sebuah kostruksi dan nadi-nadi yang menggerakkan tubuh­nya; tidak bisa membangun lepas dari ini.

4. Rangkuman Komponen-komponen Sejarah Gereja Kalimantan Timur yang menjadi Bagian dari Spiritualitasnya

Semangat misionaris setelah 100 tahun karya misi, Tema Raker terakhir (2010) kembali mengkaji semangat misionaris semula. Misi itu milik siapa? Milik Kongregasi MSF, OMI, Uskup, pastor paroki, ketua dewan Pembina Yayasan? Tidak. Un­tuk menjawabnya perlu mengingat Motu Proprio Benediktus XVI tentang evange­lisasi baru. Misi adalah prakarsa Allah Bapa, buah Roh Kudus, karya Kristus yang diutus-Nya.

Pelaku karya misi Kaltim membawa se­mangat spesifik masing-masing :

  • Kapusin, Sacra Familia dan Oblat Maria Imakulata.
  • Misi Kaltim mulai di pedalaman Kaliman­tan : wajah pribumi misi permulaan adalah wajah dan budaya Dayak, yang menjadi ciri tesendiri bagi Gereja Kalimantan seterusnya dan tidak perlu disaingi.
  • Perkembanggan ke pantai: dimensi maje­muk dengan kehadiran berarti elemen pribumi dayak yang turun dari hulu, se­cara lebih menonjol di Samarinda. Kunjungan keluarga-keluarga, ciri pastoral paroki ‘Pertamina’ baik Tarakan maupun. Balkpapan ( P.Van de Graaf MSF & P. Van de Burg MSF berkata: ”itu adalah rutinitas harian”)
  • Kunjungan teratur stasi dan lingkungan adalah sumbangan misi OMI (Pancrazio, Piero, Yoseph, Toni, Mario, Natalino, Carlo) mengembangkan stasi menjadi paroki baru (Tanah Grogot, Penajam, Bontang Sangatta, Malinau, Pulau Sapi Mensalong, Sei Kayan, dan Berau).

Visi Gereja Kaltim: menjadikan umat Ka­limantan “umat Allah” (visi Konsili Va­tikan II)

Misi Gereja Kaltim : kemandirian bertahap segala tingkat dan bidan: stasi/lingkungan paroki dan keuskupan/bidang dana dan tenaga

Katekese dan katekis (104 pertemuan, katekismus kecil, damai bagimu, katekesi stasi dan lingkungan melalui pertemuan selasa dan rabu yang tidak boleh dirampas dengan perayaan-perayaan pribadi.Sarana : umat Allah beribadat, katekismus, Kitab Suci,

Pegangan menggereja : khususnya raker2 sejak 1977 yang memberi struktur dan aturan kepada paroki dan stasi/paralel lingkungan

Devosi populer/rayat: jalan salib dan gua Maria (tiap paroki OMI)

Evangelisasi baru: kesadaran baru akan misi Allah dan jawaban kepada kebutuhan baru.

Rekomendasi :

  1. Sebaiknya tiap refleksi baru atas visi dan misi gereja KalTim tidak lepas dari akar dan arah di atas yang telah ditempuh oleh gereja setempat.
  2. Tiap petugas pastoral yang baru tidak membawa pedoman pastoral ter­sendiri dan haruslah lebih dahulu mempelajari dan meresap perjalanan yang telap dilakukan oleh gereja yang hendak dilayani.

(Penulis: P. Yoseph Rebussi, OMI, Karang Joang KM 15, 5 November 2002)

KEHADIRAN OMI DI KALTIM

Semangat Misi yang Berkobar-kobar

Pada tahun 1976,setelah selama kurang lebih 30 tahun berkarya di Laos, para Oblat Italia – seperti juga semua misionaris asing lainnya – terpaksa meninggalkan Laos dise­babkan Pemerintah Komunis yang tidak mengizinkan mereka untuk berkarya di sana. Sekembalinya ke Italia, mereka bertemu dengan Bapa Suci Paus Paulus VI pada tanggal 22 Oktober 1975. Dalam audiensi, Bapa Suci menguatkan mereka: “Salam hangat bagi kalian, Misionaris OMI Italia yang telah meninggalkan Laos, tanah misi kalian. Gereja dimuliakan berkat pengorbanan kalian. Gereja mengagumi kalian, berterima kasih kepada kalian dan menderita bersama kalian.”

Setelah pertemuan yang menggugah itu, semangat misioner para Oblat Italia ini kembali berkobar. Mereka kemudian ada yang pergi ke Uruguay dan Senegal. Tetapi ada juga kelompok yang ingin kembali lagi ke Asia, misalnya bermisi ke Pakistan atau Thailand.

Pastor Marcello Zago, OMI yang waktu itu adalah Asisten General untuk Misi Kon­gregasi, menjalin kontak dengan banyak Pastor Pasionis (CP) dan Misionaris Sacra Familia (MSF) di Roma. Beliau berjumpa dengan sejumlah misionaris CP yang berkarya di Kalimantan Barat dan para MSF yang berkarya di Kalimantan Timur. Beliau-lah yang berperan besar dalam sejarah diutusnya misionaris OMI Italia ke Kalimantan.

Dalam pertemuan tahunan para Uskup se-Indonesia pada bulan November 1975, peristiwa pengungsian besar-besaran para misionaris dari Vietnam, Laos dan Kamboja menjadi perbincangan hangat. Administrator Apostolik Samarinda, Mgr. Christian Van Weegberg, MSF yang kebetulan sangat ke­kurangan tenaga kemudian secara resmi meminta bantuan para Oblat untuk berkarya di Keuskupan Samarinda. Pada waktu itu, wilayah Keuskupan Samarinda meliputi seluruh Provinsi Kalimantan Timur

Menabur Benih Iman di Keuskupan Samarinda

Pada 03 April 1976, diutuslah ke Ke­uskupan Samarinda, Pastor Guiseppe Re­bussi, OMI dan Pastor Mario Bertoli, OMI yang masih cukup muda untuk mempelajari kemungkinan berkarya bagi para Oblat Ita­lia. Mereka bertemu dengan Mgr. Michael Coomans, MSF, Administrator Apostolik Ke­­­­­­­us­­kupan Samarinda yang baru. Beliau meng­­gantikan Mgr. Van Weeberg, MSF yang mening­gal dunia awal November 1975 karena kecelakaan pesawat Bouraq yang jatuh di Banjarmasin.

Kedua utusan Oblat Italia ini diajak me­ninjau wilayah utara Keuskupan Samarinda yang kala itu baru terdapat satu Paroki, yaitu Tarakan. Kedua utusan Oblat ini juga diteguhkan oleh Mgr. Farano (Pro-Nuncio), Kardinal Yustinus Darmoyuwono, Pr dan Mgr. Leo Sukoto, SJ yang menyatakan bahwa misi Kalimantan Timur adalah salah satu prioritas Gereja Indonesia.

Berdasarkan informasi tersebut, Su­perior Jenderal OMI bersama Dewannya menyetujui misi Oblat Italia ke Indonesia pada bulan Juni 1976. Kemudian para Oblat Italia ini membentuk Delegasi Samarinda pada 03 Desember 1976 di Fiumicino, Italia, yang bukan merupakan perluasan misi para Oblat yang sudah terlebih dulu ada di Keuskupan Purwokerto (Oblat Australia) atau juga misi di Kalimantan Barat (Delegasi Sintang – Oblat Perancis).

Pada tanggal 25 April 1977, Tujuh Oblat Italia yang menjadi anggota Delegasi Samarinda tiba di Jakarta dan langsung ber­tolak menuju Samarinda. Mereka adalah: (1) Pastor Yoseph Rebussi, OMI; (2) Pastor Mario Bertoli, OMI; (3) Pastor Antonio Bocchi, OMI; (4) Pastor Wan Ibung Natalino Belingheri, OMI; (5) Pastor Pancrazio di Grazia, OMI; (6) Pastor Piero Maria Bonometti, OMI; (7) Pastor Angelo Albini, OMI.

Ketujuh Oblat tersebut disambut oleh Mgr. Coomans, MSF dan mendapat ke­per­ca­yaan untuk berkarya di bagian utara wi­layah Keuskupan Samarinda supaya di ke­mudian hari wilayah ini bisa menjadi sebuah Keuskupan baru. Pada waktu itu, wilayah utara ini hanya ada satu Paroki yaitu Paroki Tarakan. Paroki ini mempunyai beberapa stasi yaitu Stasi Nunukan, Stasi Malinau, dan Stasi Mara I. Selain itu, Mereka juga diberi tawaran untuk berkarya di Balikpapan, Paroki Santo Petrus dan Paulus, Dahor sebagai alternatif untuk tenaga OMI dan sebagai Pos Pendukung bagi tugas utama.

Beberapa Oblat Italia kemudian datang untuk memperkuat misi Delegasi Samarinda. Mereka adalah Pastor Carlo Bertolini Yalai, OMI (1980), Pastor Dino Tesari, OMI (1984) dan Pastor Marcello Quatra. OMI (1996). Sayangnya, Pastor Pancrazio di Grazia, OMI harus pulang ke Italia pada tahun 1998 ka­rena gangguan kesehatannya setelah meng­alami kece­lakaan jatuh dari motor Honda bebek-Astrea Prima di Paroki Santo Gabriel –Nunukan. Pastor Dino pun juga harus pulang ke Italia pada tahun karena tidak bisa mem­per­panjang visanya. Karena alasan visa dan ijin tinggal, Pastor Marcello Quatra pun tidak bisa meneruskan karya misinya di Indonesia.

Benih Iman yang Ditaburkan Melahirkan Sebuah Keuskupan

1. Berdirinya Keuskupan Tanjung Selor

Para para Oblat terus gigih masuk ke pedalaman dan mengembangkan jumlah umat Katolik dan mendirikan paroki-paroki di Kalimantan Timur bagian utara. Dari satu Paroki, yaitu Paroki Santa Maria Imakulata-Tarakan menjadi beberapa Paroki. Satu persatu Stasi-stasi yang menjadi bagian dari Paroki Tarakan menjadi Paroki.

Paroki Santo Stefa­nus-Malinau

Paroki ini berdiri tang­gal 1 Oktober 1978 se­­telah mengalami per­­juangan yang pan­­jang, stasi-stasi paroki Malinau ini pun satu per satu berkembang menjadi paroki.

  • Paroki Santa Maria Bunda karmel –Man­salong pada tahun 1989,
  • Paroki Rasul Yohanes-Pulau Sapi pada tanggal 14 September 1993,
  • dan Paroki Santo Paulus- Tidung Pala pada tahun 1994. Dalam per­kembangannya, dari Paroki Tidung Pala ini lahirlah Paroki Santo Carolus-Sekatak bulan Mei 2003.

Paroki Santo Petrus Mara I

Pada tahun 1979, berdirilah Paroki Santo Petrus Mara dalam perkembangannya, salah satu stasinya menjadi Paroki yaitu Paroki Santa Maria Assumpta –Tanjung selor pada tanggal 1 Januari 1996. Sekarang ini, Paroki ini menjadi Paroki Katedral atau pusat Keuskupan Tanjung Selor. Berkat pelayanan yang intensif, dari Paroki Tanjung selor ini, lahirlah Paroki Santo Lukas-Apo kayan pada tanggal 16 Februari 1998.

Paroki Santo Gabriel -Nunukan

Pada tahun 1984, berdirilah Paroki Santo Gabriel-Nunukan . Paroki ini digembalakan awalnya oleh para Pastor SVD yang berencana mau menjadi misionaris di Malaysia tetapi karena sulitnya perijinan tidak dapat melanjutkan misinya dan akhirnya menetap di Nunukan. Dalam perkembangannya, dari paroki ini lahirlah Paroki baru yaitu Paroki Santo Yoseph – Sebuku pada tanggal 13 Februari 2005.

Paroki Santo Eugenius de Mazenod – Tanjung Redeb

Paroki ini berdiri tahun 1979. Dalam perkembangannya, dua Paroki baru lahir dari Paroki ini:\

  • Paroki Santo Yoseph-Dumaring
  • Paroki ini lahir tanggal 29 Juli 2001.
  • Paroki Hati Kudus –Segah
  • Paroki ini lahir tanggal 26 Juni 2008

Paroki Santo Yosef Pekerja-Juata Per­mai

Paroki ini didirikan pada tanggal 10 juli 2011 dan kini dilayani oleh MSF. Kegigihan para Oblat dan tentunya kerja sama yang dijalin Oblat bersama kon­gre­gasi yang lain seperti SVD, MSC, MSF, maupun Imam-imam diosesan untuk ma­suk dan berkarya ke pedalaman telah mem­perkembangkan jumlah umat Katolik dan berdirinya Paroki-Paroki di Kalimantan Timur bagian utara. Wilayah ini sekarang telah menjadi satu wilayah Gerejani yang terpisah dari Keuskupan Agung Samarinda, yaitu Keuskupan Tanjung Selor yang ditetapkan oleh Tahta Suci pada tanggal 09 Januari 2002. Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF ditunjuk oleh Tahta Suci sebagai Uskup pertama Keuskupan Tanjung Selor.

Wilayah Keuskupan Tanjung Selor me­­li­puti Kabupaten Bulungan (Tanjung Se­lor), kabupaten Berau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Madya Tarakan. Sedang dalam tahapan wacana bahwa akan dibentuk Kota madya Sebatik dalam waktu dekat ini. Pada bulan Oktober 2012, wilayah Keuskupan Tanjung selor ini selain Kabupaten Berau ditetapkan sebagai Provinsi Kalimantan Utara oleh DPR RI.

Pada awal terbentuknya Keus­kupan Tan­jung Selor, ada lima paroki yang dilayani oleh OMI, yaitu Paroki Maria Immakulata Tarakan, Paroki Santa Maria Bunda karmel Mansalong, Paroki Santo Stefanus Malinau, Paroki Santo Paulus Tidung. Karena keter­batasan tenaga Imam OMI maka dua Pa­roki diserahkan ke­pada Keuskupan yaitu Mansalong dan Tidung Pala. Pada saat ini, para Oblat di Keuskupan Tanjung Selor melayani 3 paroki, yaitu: Ta­rakan, Malinau dan Pulau Sapi.

2. Karya OMI dan Masa Depannya di Ke­uskupan Tanjung Selor

Sampai saat ini, fokus utama karya OMI di Keuskupan Tanjung selor adalah pe­ngembangan misi Paroki. Karya-karya yang sifatnya kategorial belum ada secara khusus. Karya yang sifatnya kategorial masih merupakan karya rintisan dan belum ditangani secara sungguh-sungguh sebagai karya kategorial. Karya kategorial masih berafiliasi dengan karya paroki.

  1. Mengembangkan devosi kepada Bunda Maria
    Para Oblat berusaha untuk mengem­bangkan devosi kepada Bunda Maria di paroki masing-masing. Di Paroki Tarakan, para Oblat mengembangkan devosi kepada Bunda Maria dengan pembangunan Gua Maria Mentogog. Di Paroki santo Stefanus Malinau, sedang dibuat Taman Rohani Maria, di Pulau Sapi, sudah didirikan Gua Maria yang cukup indah di stasi Sengayan, Loreh. Pada bulan Mei dan Oktober, selalu diadakan acara khusus untuk menghor­mati Bunda Maria di masing-masing Paroki.
  2. Pembinaan kaum muda
    Usaha membina kaum muda juga menjadi perhatian para oblat di sini. Di setiap paroki, didirikan asrama untuk menampung anak-anak yang mau melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA. Bahkan di Tarakan, didirikan asrama Mahasiswa dan Mahasiswi oleh Almarhum Pastor Antonio Bocchi, OMI untuk mereka yang mau melanjutkan studinya di Universitas Borneo.Anak-anak yang tinggal di asrama ini juga dikader untuk menjadi tokoh-tokoh umat yang mumpuni bahkan didorong untuk menjadi Imam, biarawan, dan biarawati. Selain itu, di setiap Paroki diadakan pembinaan/retret untuk kaum muda. Untuk Paroki Tarakan, sudah ada Antiokhia dan Choice sebagai wadah pembinaan kaum muda.
  3. Karya kesehatan
    Karya kesehatan juga didirikan mengingat kondisi daerah pedalaman yang amat keras dan rawan penyakit tropis endemik. Sebagai perintis karya kesehatan, didirikan Poliklinik Santo Yoseph di Tarakan. Ke­mudian disusul Balai Pengobatan Harapan Mulia di Malinau, Mara I, Tidung Pala dan Poli Klinik Santa Maria di Pulau Sapi. Sampai saat ini, karya kesehatan masih tetap diteruskan , terutama di Paroki Malinau dan Pulau Sapi terutama melayani masyarakat yang miskin.
  4. Karya sosial ekonomi
    Kepedulian para Oblat juga mencakup pengembangan sosial ekonomi masyarakat untuk menuju kemandirian lewat proyek persawahan, peternakan, perkebunan ko­pi dan kakao, dan koperasi. Karya sosial ini dikembangkan bersama dengan seksi Pengembangan Sosial Ekonomi Paroki.
  5. Karya pengembangan budaya lokal
    Para Oblat juga terus mengusahakan in­kulturasi kebudayaan Dayak supaya ma­sya­rakat Dayak dapat beribadah dalam lingkup Gereja Katolik dengan baik dan benar. Ada beberapa karya tulis, upacara liturgis, karya seni lukis dan ukiran yang dibuat oleh para Oblat dan umat, seperti Buku Sejarah Gereja Kalimantan Timur oleh Yoseph Rebussi, OMI; Kosmogonia Orang Dayak oleh Wan Ibung Natalino Belingheri, OMI; “Jalan Salib” buah karya lukis Bapak Jalong di Mara I, Pulau Sapi dan Sekatak; “Salib Yesus” hasil karya ukir Bapak Jalong di Mara I dan Setaban; “Altar dan Mimbar” yang disiapkan oleh Bapak Jalong di Malinau dan Mara I; serta “lukisan kaca jendela” di Gereja Maria Imakulta, Tarakan. Sampai saat ini, dalam upacara-upacara liturgi, sedapat mungkin budaya-budaya lokal diangkat dalam upacara liturgi.

Meskipun sampai saat ini, fokus utama karya misi Oblat di Keuskupan Tanjung Selor masih berkisar atau berfokus pada karya paroki, untuk kedepannya tidak menutup kemungkinan untuk karya kategorial yang ditangani secara khusus. Misalnya ada ren­cana untuk mengembankan kompleks sungai Mentogog selain sebagai tempat ziarah juga dikembnkan untuk tempat retret dan pembinaan bagi kaum muda.

Karya OMI di Distrik Balikpapan

Tawaran Mgr Michael Coomans untuk berkarya di Balikpapan selain berkarya di wilayah Kalimantan Timur bagian utara disambut dengan baik oleh para Oblat. Dengan semangat misionernya, para oblat berusaha mengembangkan umat yang ada di Paroki Santo Petrus dan Paulus-Dahor-Balikpapan. Stasi-stasi dikembangkan. Dari satu paroki Balikpapan ini, lahirlah beberapa paroki, yaitu Paroki Alleluia-Tanah Grogot yang berdiri pada tanggal 1 Oktober 1989, Paroki Santo Yosef-Bontang yang berdiri pada tahun 1982, Paroki Santa Theresia Sangatta yang berdiri pada tanggal 22 Desember 1999 yang merupakan perkembangan dari Paroki Bontang dan Paroki Santa Maria Fatima Penajam yang berdiri pada tanggal 8 Juni 2000.

Sampai tahun 2013 ini, ada dua Paroki yang ditangani oleh para Oblat di Keuskupan Agung Samarinda yaitu Paroki Santa maria Fatima Penajam Pasir Utara dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Dahor-Balikpapan. Masih dalam tahap wacana, Stasi Kristus Bangkit yang merupakan bagian dari Paroki Santo Petrus dan Paulus Dahor dan terletak di Km 15 , Jalan Balikpapan-Samarinda kemungkinan akan menjadi paroki tersendiri di kemudian hari.

REFLEKSI ATAS PANGGILAN DAN TUGAS OMI KALIMANTAN TIMUR

Komunitas Rohaniwan Misionaris

Marilah kita mengawali dengan meman­dang sejenak ke belakang suatu perjalanan sejarah misi OMI di Kaltim selama lebih dari 3 dasawarsa yang sudah berlalu sejak tanggal 3 Desember 1976, tanggal di­dirikannya De­legasi OMI Samarinda. Mudah-mudahan ki­ta dapat menemukan inspi­rasi dan relevansi dari perjalanan sejarah misi OMI untuk per­kembangan masa depan provinsi OMI Indonesia.

Selama hampir dari 40 tahun komunitas oblat yang awalnya berpusat di Tarakan ini, mengalami kemajuan secara bertahap sesuai dengan tuntutan daerah misi, mulai dari komunitas yang belum terbentuk secara pasti dan definitif, dalam keadaan di mana kebanyakan anggotanya hidup terisolir dan cukup sering terpaksa menerima dan meng­adakan perubahan-perubahan yang dituntut misinya dalam situasi konkret sampai ko­munitas yang definitif eksistensinya di anta­ra komunitas OMI Indonesia dan bersama mereka sebagai satu kesatuan yang baru diantara provinsi-provinsi OMI yang lebih tua di Asia.

Walaupun sering dan cu­kup lama ber­karya jauh satu sama lain secara geografis, ka­mi tetap merupakan satu komunitas mi­sionaris oblat, dengan kesa­tuan substansial yang diciptakan oleh ke­satuan tujuan dan kesatuan semangat, juga de­ngan kharisma-kharisma ke­lu­arga OMI yang berusaha me­laksanakan inti panggilan “Evangelizare Pau­peribus Misit Me”: “mewar­takan Injil ke­pada orang miskin.”

Umat yang kami layani adalah kelompok sederhana dan miskin dari berbagai segi. Kami berusaha membentuk umat sebagai komunitas orang beriman yang mandiri dan de­wasa, sesuai dengan situasi dan kemampu­an umat tersebut.

Karya pewartaan, yang sesuai dengan keadaan yang sulit dan sederhana, cukup nampak. Stasi-stasi yang kecil dan terpencil pun dibina untuk dapat mandiri dalam ke­butuhannya yang paling pokok sebagai ko­munitas orang beriman: ibadah hari Minggu, ibadah keluarga dan kemasyarakatan, pewar­taan, persaudaraan dan kesaksian. Bantuan sosial yang dapat diusahakan pada umumnya terarah kepada kerjasama dan kemandirian.

Sebagai kelompok misionaris dan anggo­ta serikat religius kami tidak lupa juga bahwa perlu adanya generasi penerus.

Misi Universal dan Misi Lokal ?

Sebagai anggota sebuah kon­gregasi mi­sionaris dan religius, pada prinsipnya kami tidak terikat secara tetap dengan daerah ter­tentu dan harus selalu siap untuk me­ninggalkan tugas yang pernah diberikan demi tugas yang lain dan tempat lain. Tuntutan ini berlaku bagi pribadi orang, maupun bagi komunitas atau kongregasi.

Walaupun kami harus menjaga ke­be­­bas­an batin dan kesediaan untuk menja­lankan mi­si gereja dan bukan menjaga teri­torial sendiri; kita de facto dan untuk masa yang tidak selalu dapat ditentukan, demi panggilan pewartaan kepada orang miskin, harus menerima tugas teritorial, yaitu pe­wartaan kepada orang-orang yang berada dalam tempat dan kondisi tertentu. Sejarah kongregasi mencatat banyak contoh seperti itu: misionaris-misionaris kita berkarya di antara orang Eskimo dan Indian di Kanada, orang Zulu dan Leshoto di Afrika Selatan, atau orang Tamil di Sri Lanka sejak masa Pendiri dan tugas mereka belum juga dianggap selesai sampai sekarang ini.

Sebenarnya masa kerja hampir 40 ta­hun di daerah yang luas dan sulit seperti Kali­mantan Timur pada umumnya dan ka­bupaten Bulungan dan Berau secara khu­sus, bukanlah masa kerja yang lama diban­dingkan dengan masa persiapan gereja di daerah lain di Keuskupan Samarinda. Cukup nyata bahwa selama 3 dasawarsa ini kita sebagai individu-individu dan sebagai kelompok sungguh berusaha menjawab tuntutan Gereja dan melayani kebutuhannya yang lebih mendesak di daerah ini sebagai keseluruhan maupun masing-masing tempat karya; terproyeksi untuk masa yang panjang seperti pembentukan paroki baru, maupun untuk masa menengah dan sementara; masa keterlibatan kita memang berbeda menurut tempat, tetapi di mana-mana tetap bertanggungjawab bukan sekedar pinjaman sementara, melainkan merasa dan membawa diri sebagai bagian dari tim presbiterial sebuah daerah, yaitu Keuskupan Samarinda, Kevikepan Tarakan dan Kevikepan Pantai yang turut kita kembangkan secara substansial.

Untuk memahami bentuk keberadaan kita di Kalimantan bagian Timur ini, perlu kita kembali melihat kembali tujuan semula yang menyebabkan kedatangan kita di daerah ini.

Secara Historis kehadiran kita di sini mempunyai titik awal tertentu yang tidak dapat diganti oleh titik yang lain. Ada suatu penyebab, satu causa axistensi OMI di Kali­mantan Timur. Causa kedatangan kita itu menjadi penentu arah bagi karya kita, baik untuk masa yang lewat, maupun untuk yang akan datang.

Surat Panggilan Mgr. Van Weegberg

Apa yang merupakan causa existensi kita yang harus kita akui sebagai causa historica kehadiran komunitas OMI di Kaltim? Kita semua tahu panggilan Gereja bagi kita secara historis adalah surat alm. Mgr Christian van Weegberg yang memanggil kita untuk misi dan menawarkan tugas tertentu di dalam keuskupannya. Kemudian maksud permintaan Administrator Samarinda dije­laskan lebih terperinci kepada utusan Provinsi OMI Italia yang datang ke Samarinda pada bulan Mei 1976 dan mengunjungi kota Balikpapan dan Tarakan yang dicantumkan dalam surat undangan beliau.

Melaksanakan tugas yang ditawarkan itulah merupakan tujuan kedatangan kita di Kalimantan Timur, yang tak dapat kita tinggalkan, longgarkan atau ubah sedikit demi sedikit, secara sadar atai tidak sebelum terlaksana. Memang waktu berjalan dan pasti ada hal-hal yang baru itu tidak dapat menggantikan atau mengubah tugas semula yang merupakan kesepakatan yang sah dan tetap mengikat, baik bagi yang memberi tugas yaitu keuskupan, maupun bagi yang menerimanya, yaitu Kongregasi.

Permintaan uskup Samarinda 37 tahun yang lalu merupakan penawaran resmi yang disampaikan kepada Pater Ferdinand Jette, Superior Jendral OMI yang meneruskannya dan mendelegasikan, melalui provinsi Italia, untuk ditanggapi sebuah kelompok mantan misionaris di Laos, yang setelah pengusiran mereka dari negeri itu oleh penguasa komunis, berikrar akan meneruskan misi mereka di Asia.

Jawaban resmi kongregasi kepada ta­waran Mgr. Van Weegberg menjadi konkret dengan pembentukan Delegasi Provinsial Sa­ma­rinda oleh Provinsi OMI Italia pada tanggal 3 Desember 1976 di Fiumicino (Italia).

Secara definitif administratif delegasi OMI Samarinda tidak merupakan perluasan para oblat yang pada waktu itu sudah ada di Indonesia; Jawa yang waktu itu merupakan komunitas lokal dan berintegrasi dengan provinsi Australia; juga tidak bergabung dengan tugas yang diberikan kepada de­legasi OMI Sintang, melainkan merupakan pengambilan suatu tugas yang baru dan tersendiri.

Apa isi tawaran Mgr. Van Weegberg?

Dalam batas pengertian yang berlaku umum dalam Gereja sejak 1961, tahun ber­akhirnya sistem penyerahan wilayah ge­rejani kepada kongregasi-kongregasi, ki­ta diminta untuk berperan dan agaknya, berperan utama dalam persiapan sebuah wilayah gerejani yang baru dan dibagian utara keuskupan Sa­marinda. Sekaligus ditawarkan lapangan misi yang kedua, yaitu balikpapan, yang dimaksudkan sebagai lapangan kerja alternatif untuk tenaga OMI dan sebagai pos pendukung bagi tugas utama.

Target

Sudah jelas bagi kita semua bahwa kita menerima tugas untuk mempersiapkan umat dan sejumlah sarana bagi pembentukan wilayah gerejani itu, dan bukan untuk membentuk “keuskupan OMI”, sehingga tidak ada kepentingan atau ambisi kita sebagai kelompok dalam pembentukan keuskupan baru kecuali sebagai bukti dan tanggal telah selesainya satu tugas, yang kemudian dapat berhenti, diganti atau berubah bentuk. Selama tahap itu belum tercapai, boleh dikatakan bahwa kita masih berhutang kepada Gereja, kecuali mau menyerah…

Pelaksanaan tugas ini dilangsungkan dengan cukup gigih oleh anggota-anggota delegasi, untuk mencapai target konkret yang diberikan. Umpamanya, seingat saya, alm Mgr. Mikhail Coomans, yang menggantikan Mgr. Van Weegberg sejak akhir tahun 1976 – 1993, pada sekitar tahun 1980 pernah merumuskan secara lisan target minimal pekerjaan tersebut sebagai berikut: 8 paroki, 12 imam dan 15.000 umat di wilayah utara. Sekaligus supaya berusaha membentuk beberapa struktur dan menjalankan beberapa kegiatan secara serasi dan terkait di bidang pastoral dan sosial (katekis-katekis, sekolah katolik, asrama-asrama…) dan terutama meng­usahakan kemandirian stasi-stasi dan paroki-paroki. Sebagai batas waktu yang paling cepat pernah dipikirkan tahun 1990an, yang ternyata sangat meleset.

Petunjuk-petunjuk ini menjadi pedoman dan dorongan bagi kita untuk berkarya tanpa pamrih di wilayah yang penuh harapan ini, dan ternyata berkat Tuhan menyertai, tahap demi tahap, perkembangannya, sehingga dari paroki Tarakan, pada waktu itu satu-satunya paroki di dalam kabupaten Bulungan dan Berau, terbentuk paroki Sungai Kayan dan Malinau, kemudian paroki-paroki yang lain, sampai tercapai jumlah 8 sekarang.

Kegiatan Yayasan Sosial Harapan Mulia, dengan sekolah-sekolah dan Balai Pengobatan mengejar tujuan yang sama. Demikian be­berapa asrama dan pelaksanaan kursus-kur­sus untuk ketua-ketua umat. Semula se­mua kegiatan tersebut, maunya dapat di­koordinir satu dengan yang lain, supaya menjadi satu jaringan yang meliputi seluruh daerah utara.

Untuk tenaga imam, disamping penam­bahan OMI dari 5 menjadi 7, kita men­da­pat imam-imam praja, bahkan sempat men­dapat 2 tenaga MSF dan 2 SVD, sehingga sebenarnya target 12 imam sudah pernah tercapai. Sayang sekali bahwa tenaga dari 2 kongregasi terakhir ditarik, pada hemat saya, secara kurang konsisten dengan tujuan pembangunan wilayah gerejani yang baru itu, karena mengusahakan variasi kehadiran tenaga imam merupakan sudut penting dari tugas persiapan itu sendiri.

Sementara wilayah utara mendapat tenaga kongregasi suster untuk Tarakan, Malinau, Tanjung Redeb dan secara tidak tetap untuk Tanjung Selor. Juga tenaga katekis akademis atau PGA dari 0 semula menjadi belasan orang. Sekitar 13.000 umat katolik yang ada di kevikepan, juga merupakan perkembangan yang cukup baik dibanding yang ada pada tahun 1977 yang belum mencapai 3.000 jiwa.

Menjadi Realisasi

Perjalanan perkembangan misi Tarakan selama ini mengalami gelombang-gelombang dengan ciri khas tersendiri, yang dapat saya rumuskan seperti berikut:

Perluasan dan penambahan cukup besar jumlah umat, stasi dan paroki. Organisasi stasi-stasi dan paroki-paroki baru ini memang masih sangat sederhana; lebih merupakan kumpulan sejumlah stasi dengan pusat yang tidak menonjol; demikian pula sarana-sarana untuk katekese, liturgi dan administrasi, tetapi yang memperhatikan arah perkembangan mendapat kesan bahwa:

  • Usaha pewartaan cukup merata: ka­bu­paten Berau, daerah lembah sungai Kayan, sungai Sesayap/Malinau, sungai Sem­bakung dan daerah Nunukan serta Sebuku.
  • Keterlibatan umat setempat cukup re­levan, bahkan menjadi sarana utama da­lam perluasan kehadiran Gereja Katolik di banyak tempat baru.
  • Hubungan antar stasi dan paroki: akrab (Natal, Trihari Suci dan Natal bersama dsb).
  • Perhatian kepada sarana tertentu seper­ti: pendidikan (sekolah, asrama), kesehatan (Balai Kesehatan dan pelayanan keliling), panggilan, perkembangan ekonomi sosial, pertambahan tenaga katekis, administrasi paroki dan kevikepan, bangunan gereja pusat, kapela-kapela stasi dan fasilitas-fasilitas lain. Tidak terlupa juga irama kehidupan komu­nitas Oblat itu sendiri: dengan pertemuan-pertemuan komunitas, antar delegasi bahkan antar provinsi…

Positifnya: Gereja katolik nampak lebih kokoh di antara gereja-gereja lain yang ber­kembang lebih dahulu, tenaga pastor yang dahulu memikul sendiri segala tugas dan beban perkembangan sangat terbantu dengan kehadiran para aktivis umat dan guru agama.

Negatifnya: usaha tertentu terlalu menyita waktu, tenaga dan dana sehingga pemerataan pelayanan terganggu.

Balikpapan

Paroki St. Petrus dan Paulus di kota minyak Balikpapan, bagian selatan keuskupan Samarinda, meliputi bagian timur kota ini yang dihuni oleh para karyawan Pertamina dan para buruh kontraktor-kontraktornya. Sementara bagian direksi dan pemerintahan kota berada di Paroki St. Theresia. Sejak permulaan ‘paroki buruh’ ditawarkan sebagai lapangan misi yang kedua bagi para Oblat di Kaltim, dan digambarkan sebagai lapangan kerja alternatif yang cocok bagi para pastor OMI dan sebagai pos pendukung untuk tugas utama mereka di bagian utara.

Karya di Balikpapan juga memberikan dua fungsi. Pertama, ini menjadi alternatif tenaga, artinya memberi kemungkinan per­gantian tempat, mengingat selama ini misi di bagian utara merupakan misi pedalaman seluruhnya, yang cukup terisolir dan cukup berat. Kedua, Balikpapan dianggap sebagai kota cukup besar, dengan fasilitas yang memadai, dengan hubungan pesawat yang gampang beberapa kali sehari dari dan ke Tarakan dan hubungan lancar ke beberapa kota lain di Indonesia.

Memang selami ini beberapa pastor sempat bertukaran tempat antara Balikpapan dan pusat karya lain (P. Piero, P. Pancrazio, P. Carlo, P. Mario, P. Yoseph dan P. Niko Setija Widjaja dan P. Rudi Rahkito Jati). Fungsi kedua ternyata kurang tercapai, apalagi tidak ada fasilitas penginapan yang cukup untuk tamu. Juga, untuk kebutuhan kesehatan, shopping, refreshing, orang lebih suka kota-kota yang mempunyai sarana-sarana yang lebih lengkap, seperti Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Denpasar…dst

Sebaliknya sebagai lapangan misi, Karya di Balikpapan bukan tanpa kemungkinan perkembangan, sama sekali tidak statis, bah­kan perkembangannya cukup mencolok. Di luar perkembangan di dalam dan sekitar kota Balikpapan itu sendiri, dengan didirikannya kapel-kapel, yayasan pendidikan dan kegiatan katekese, liturgi dan sosial, paroki St. Petrus dan Paulus Blikpapan mengalami perkembangan yang berarti dalam jumlah stasi-stasi bahkan paroki-paroki baru, yang secara proporsional tidak kalah penting daripada yang terjadi di bagian utara keuskupan.

Setidaknya 2 stasi yang termasuk wila­yah pelayanan pastoral paroki Kampung baru Balikpapan ini telah menjadi paroki baru yang cukup penting, yaitu Bontang dan Tanah Grogot, dan masing-masing mempunyai dan menambah stasi cukup banyak dan cukup besar juga, dan diantaranya akan berkembang menjadi paroki tersendiri lagi pada masa yang akan datang, setidaknya kalau kita tidak membiarkan diri dihantui oleh perhitungan-perhitungan ekonomis saja.

Juga telah dipikirkan dan akan diusa­hakan penyatuan dan perkembangan sekitar 10 stasi yang berada di seberang teluk dan termasuk kabupaten Pasir tetapi dilayani dari Balikpapan oleh ke 2 paroki kota. Tugas ini akan dilaksanakan oleh para OMI Balikpapan. Ini terwujud dengan terbentuknya Paroki Penajam Paser Utara yang dilayani oleh para OMI. Sementara itu, paroki St. Theresia akan mengembangkan daerah pantai menuju mu­ara Mahakam.

Perubahan dan Regenerisasi

Dalam perkembangan selanjutnya, sta­tus dan organisasi delegasi OMI Samarinda mengalami perubahan, yaitu meniggalkan otonomi menjadi bagian dari suatu entitas yang baru yang dibentuk oleh ketiga dele­gasi OMI yang ada di Indonesia, dengan penggabungan tenaga dan tugas.

Penyatuan ini tidak menghapus kewa­jiban dan tanggung jawab sebelumnya, tidak menghapus tugas dan misi delegasi-delegasi sebelumnya, sebaliknya tugas yang semula adalah tanggung jawab masing-masing dele­gasi, sesudah penyatuan menjadi tugas dan tanggung jawab organisasi yang baru, dalam hal ini provinsi OMI Indonesia.

Ini berlaku juga dalam hal tanggung jawab delegasi OMI Samarinda terhadap Ke­uskupan Samarinda dalam persiapan wi­layah gerejani Tarakan, yang sudah beralih tangan dari delegasi kepada provinsi; yang terakhir ini akan memikul bersama dan melalui komunitas setempat, yang tidak lagi berkarya secara otonom dan tidak bertanggung jawab sendiri.

Dalam kurun waktu yang sama terjadi pula perubahan pada tingkat keuskupan, de­ngan meninggalnya Mgr. Coomans. Almar­hum semasa tugasnya, biasa mengikuti secara langsung dan agak eksklusif persoalan-per­soalan bagian utara keuskupannya dan hu­bungan dengan kelompok OMI yang be­kerja di situ, dengan tidak selalu melibatkan semua anggota dewan keuskupannya yang tidak cukup mengetahui keadaan. Lagi pula kevikepan Tarakan sungguh diartikan sebagai perwakilan keuskupan dan bukan semacam dekenat seperti berlaku utuk wilayah-wilayah yang lain di dalam keuskupan Samarinda. Ini penjelasan berulang kali dari Mgr. Coomans sendiri.

Pihak-pihak yang terlibat dalam meng­urus wilayah utara itu dan cukup menentukan posisi OMI di bagian utara keuskupan Sama­rinda: Mgr. Van Weegberg, Pastor Husin (yang akhirnya menjadi uskup Palangkaraya) dan Mgr. Coomans dari pihak keuskupan Samarinda; P. Yoseph dan P. Mario dari pihak OMI. Di samping itu tentu masih banyak orang lain yang berperan di dalamnya.

Ada kesan bahwa pergantian struk­tur dan pergantian orang berakibat pada pengurang­an ketajaman tugas dan me­ngerem kelancaran pergantian tahap-tahap perkembangan kevi­kepan Tarakan. Ini ber­ujung pada suatu masa penantian yang memberi kesan adanya stagnasi.

Pertanyaan-pertanyaan bagi Kita

Dari point-point di atas muncul bebera­pa pertanyaan tentang misi dan tugas utama OMI di Keuskupan Samarinda saat ini :

Apakah tugas semula yang diberikan untuk dilaksanakan di bagian utara keuskupan masih dirasa relevan ada saat ini? (Berkat Tuhan sudah terwujud dengan berdirinya Keuskupan Tanjung Selor, 14 April 2002).

Apa fungsi daerah karya OMI di bagian selatan keuskupan (sekarang: distrik Ba­likpapan) apaka sifatnya subsidier-se­kun­der terhadap karya utama di Utara (sekarang: Distrik Tarakan) atau diakui secara resmi sebagai wilayah pastoral OMI sendiri dengan tujuan dan bentuk ter­sendiri serta program-program yang tersendiri?

Inilah beberapa pertanyaan yang seba­iknya diberi jawaban, supaya komunitas-ko­munitas kita pada level masing-masing tetap mempunyai proyek misionaris yang jelas dan terkoordinir yang mampu menggerakkan semangat kita: tua dan muda.

Evangelizare pauperibus misit me. Pauperes evangelizantur”

(Artikel ini adalah modifikasi dari tulisan Guiseppe Rebussi, OMI Untuk perayaan 25 tahun OMI di Kalimantan Timur)

Evangelizare pauperibus misit me”, ada­lah amanat yang tertanam sejak dini dalam diri setiap orang yang dipanggil dalam Kongregasi OMI, menjadi penggerak, motivator pastoral dan sosial di tengah umat Tuhan. Kemiskinan dalam dunia yang jaman sekarang ini cepat berubah, adalah multi dimensional, oleh ka­rena itu hanya jiwa orang yang hidup dari Injil dapat mengerti dan menjadi peka terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia.

Sudah lebih dari tiga dasawarsa para pastor OMI memilih untuk hidup di tengah umat Kalimantan, hidup dekat dengan orang Dayak yang pada umumnya hidup di daerah yang terpencil, jauh dari segala fasilitas mo­dern.

Menjadi perintis di bumi yang serba susah dan keras, memerlukan ketabahan dan kesigapan yang luar biasa. Inilah kesaksian yang nyata, tertulis dan bergema di setiap lembah sungai rimba Kalimantan yang luas dan indah.

Pendidikan adalah salah satu karya yang diprioritaskan. Sekolah-sekolah lanjutan di­per­hatikan secara khusus guna membina anak-anak pedalaman yang ingin melanjutkan sekolah setelah selesai SD d kampung. Di kota strategis didirikan sekolah-sekolah dari SD, SLTP, dan SMU seperti di kota Tarakan, Tanjung Rebeb dan Balikpapan. Sedangkan di tiap-tiap pusat paroki didirikan asrama untuk menampung murid-murid SLTP dan SLTA dan kepada me­reka selalu diberi pendidikan sebagai ka­der umat Ka­tolik.

Kesehatan juga mendapat perhatian yang mutlak perlu di daerah yang karena kondisi alam sangat keras dan rawan penyakit tropis epidemik macam-macam, apalagi pelayanan kepada masyarakat pada umumnya masih sangat kurang. Yang menjadi perintis adalah poliklinik St. Yoseph di Tarakan, menyusul BP Harapan Mulia di Malinau, di Mara I, Tidung Pala dan akhirnya Poliklinik St. Maria Pulau Sapi. Setiap pastor didampingi oleh seorang suster atau perawat mengadakan penyuluhan kesehatan dalam turne mengunjungi umat di setiap desa.

Hidup di tengah orang miskin berarti ikut prihatin tentang keadaan dan masalah-masalah mereka. Membangun kesadaran bah­­wa potensi mereka harus dipacu kepada suatu kemajuan menuju kepada kemandirian adalah kriteria dan metode pendekatan yang tidak lagi karitatif tetapi partisipatif-proaktif. Oleh karena itu dipromosikan se­cara mikro dan makro beberapa proyek so­sio-ekonomi. Proyek ‘Rata Haya’ di Mara I untuk persawahan. Proyek ‘Lembah Hijau’ di Malinau untuk persawahan-peternakan dan perkebunan kopi-kakao, koperasi serba usaha “”Etui” di Malinau, Pulau Sapi dan Mansalong untuk segala jenis kegiatan ekonomis, kera­jinan tangan, dll.

Inkulturasi, kebudayaan orang Dayak bagi para misionaris OMI adalah hal yang mewarnai segala kegiatan pastoral. Dunia orang Dayak yang penuh dengan mitos-mitos merupakan medan religius yang sangat menentukan perilaku masyarakat Dayak pada umumnya. Beragam tulisan, upacara liturgis, karya seni lukis dan ukiran dapat ditemui di banyak gereja. Umat Katolik bangga memiliki gereja-gereja, kapel-kapel yang dibangun de­ngan gaya tersendiri yang mencermikan nilai-nilai kebudayaan Kalimantan.

Sebagai contoh dan kenangan dapat ka­mi sebutkan beberapa karya:

  • Buku Sejarah Gereja Kalimantan Timur oleh Pastor Yoseph Rebussi, OMI
  • Kosmogonia orang Dayak oleh Pastor Wan Ibung N. Belingheri, OMI
  • Jalan Salib, lukisan oleh Bp. Jalong, terdapat di Mara I, Pulau Sapi dan Sekatak
  • Salib Yesus, ukiran oleh Bp. Jalong, ter­dapat di Mara I dan Sentaban.
  • Altar dan mimbar oleh Bp. Jalong, di Ma­linau dan Mara I.
  • Jendela-jendela di Gereja Tarakan oleh Bapak Petrus Ramba.
  • Logo keuskupan: Ide Pastor Wan Ibung, OMI, dilukis oleh Bp. Petrus Ramba.
  • Tongkat Uskup Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF. Ukiran oleh Bp Bilung Usat (Loreh).

Banyak kegiatan lain yag tidak tercantun di sini namun menjadi bukti kehadiran para misionaris OMI di tengah orang miskin. Pau­peres evangelizantur! Seperti hujan turun dari langit dan tidak kembali sebelum me­nyuburkan tanah dan menghasilkan buah, demikianlah Firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba-hambaNya.

(Artikel ini adalah modifikasi dari tulisan P. Wan Ibung Natalino Belingheri, OMI untuk Perayaan 25 tahun di Kaltim)

TONGGAK-TONGGAK PENTING KARYA OMI

Dalam Yayasan Harapan Mulia Tarakan

Tidak bisa dilupakan batu penjuru pertama yang telah diletakkan oleh Pastor Van De Gaft, MSF pada tahun 1970. Dengan gedung darurat (beratap daun berdinding papan) beliau mengumpulkan sekitar 20 orang anak. 10 orang untuk level SD (yang langsung dibagi menjadi 2 kelas menurut usia) dan 10 lainnya untuk level TK. Sebagai kepala sekolah ditunjuk Bapak Thamrin (Alm), pegawai negeri muslim yang dengan sangat rela tanpa sekat-sekat keagamaan membantu Pastor pada waktu itu. Guru-guru pun berasal dari kelompok kaum ibu Gereja yang beker­ja tanpa imbalan gaji (apalagi penyesuaian jaminan dan tunjungan tertentu). Sebutlah satu nama, umpamanya Ibu Simanjuntak. Di bawah koordinasi beliau, proses belajar meng­ajar berjalan sangat lancar bagi 20 anak asuhan mereka. Karya pendidikan langsung di bawah koordinasi Pastor Paroki dan tetap dipandang sah sebagai karya pastoral gereja.

Beberapa tahun kemudian, Bapak Ir. Sutanto, Bapak Hubert Wagalebo, Bapak Sudyono secara spontan bergerak bersama mengumpulkan dana dan mencari pendana. Mereka berhasil mendirikan gedung sekolah beratap seng. Walaupun gedung yang ada baru sampai pengatap-sengan, sementara dinding masih tetap papan, tentulah karya pelayanan mereka juga sangat besar dan sudah merupakan langkah penting berkembangnya karya pendidikan dalam Gereja Katolik di Tarakan.

Sebuah sekolah sah dan boleh mengikuti Ebtanas bilamana sekolah itu diasuh oleh sebuah yayasan. Kira-kira itu inti aturan pe­merintah yang sudah memasyarakat pada tahun 1977. Maka Pastor Guiseppe Rebussi OMI sebagai Pastor Paroki pada waktu itu, berusaha dengan sekuat tenaga mengaktekan sekolah yang sebentar lagi harus menempuh ujian akhir. Pastor Mario Bertoli OMI sebagai Vikep tentu saja sangat mendukung moril-material usaha besar itu. Akte pun jadi. Pastor Mario OMI sebagai wakil presidium, Bapak Y. Siswara sebagai Ketua Yayasan BPH. Nama yayasan adalah Harapan Mulia. Nama sekolah-sekolah adalah W. Poerwadaminta. Pemberian nama yayasan dan nama sekolah tidak kami ketahui. Tetapi barangkali terminologi itu sudah menyuarakan maksud dan tujuan pe­namaan sehingga para pendiri merasa tidak perlu menjelaskannya lagi secara tersendiri.

Untuk menyambut kehadiran mereka yang selesai pendidikan pada jenjang SD dibangunlah sebuah gedung untuk tingkat SLTP, seperti ada sekarang ini. Saat hampir bersamaaan karya sosial ini diperluas de­ngan pendirian poliklinik/Balai Pengobatan. Sayang karya terakhir itu macet karena meng­andalkan dokter-dokter Angkatan Laut yang bekerja di Tarakan hanya sebagai dokter kontrak.

Tahun 1983 Pastor Yoseph OMI dimuta­si. Beliau diganti Pastor Karlo Bertolini Yalai OMI. Pastor Mario OMI tetap sebagai Vikep Wilayah Utara. Sementara itu BPH Yayasan HM sudah beralih dari Bapak Y. Siswara ke Bapak Sabar Sinaga SH. Paroki Berau yang mencium bau harum perkembangan Yayasan HM dibawah asuhan Pastor-Pastor OMI mengusulkan diri menjadi cabang/perwakilan dari Yayaan HM di Berau dengan bidang karya yang sama, yakni pendidikan. Karena alasan jarak, perwakilan itu akhirnya memilih memisahkan diri dan bernaung di bawah PPPR-Samarinda. Saat itu juga dibangun gedung permanen untuk SD, se­buah aula dan gedung khusus untuk TK. Gedung-gedung itu berdiri kokoh seperti adanya sekarang ini.

Yang arsipnya hampir ditemukan dalam setiap map Yayasan, adalah kasus jalan pintas membagi lokasi SD-SLTP waktu itu menjadi dua bidang/bagian. Persoalan sampai ke tingkat Provinsi dan melibatkan sangat ba­nyak pihak. Syukurlah kasus selesai dengan baik. Jalan pintas digeser ke pinggir sebelah barat lokasi SLTP. Tanah lokasi persekolahan utuh tak terbagi. Tuhan memang memihak pada orang yang bermaksud dan bertindak baik dengan alasan yang baik.

Tahun 1988 ditandai dengan pihak penting berikutnya. Pastor Antonio Bocchi OMI (sebagai pastor Paroki sekaligus dalam pribadi yang sama sebagai Vikep Wilayah Utara) sebagai Wakil Presidium Yayasan HM pontang-panting dengan “jurus-jitunya” untuk SMU. Ketua BPH Yayasan HM yaitu Bapak Situmorang yang kemudian diganti­kan oleh Ibu Suparmi, kemudian beralih ke Bapak Fl. Sardjono Hadi, BA tentu saja sangat mendukung total usaha Pastor Toni (panggilan akrab beliau) itu sampai pada selesaiya. Banyak kasus selesai begitu mudah karena status (parochus sekaligus Pastor Vikep), fungsi pastoral dan kemampuan arsitektur dan leadership beliau, hal mana kemudian justru mewariskan dilema berat.

Masih pada jaman Pastor Toni OMI, ketua BPH Yayasan HM beralih dari Bapak Fl. Sardjono Hadi ke Bapak Ignatius Nasu Weking, orang yang tidak asing lagi karena selama beberapa periode telah bersimbah limbah permasalahan Yayasan HM. Sejak masa kepengurusan beliau Balai Pengobat­an Pulau Sapi memohon (dan dikabulkan dengan senang hati) perlindungan hukum di bawah Yayasan HM Tarakan. Balai Pengobatan Tanjung Selor berbuat hal serupa, namun hanya di atas kertas untuk mendapatkan sumbangan sosial dari Pemda setempat. STKK Nunukan pernah mengusulkan secara lisan untuk berlindung di bawah Yayasan HM, namun tindak lanjutnya tidak ada. Kemudi­an terdengar berita bahwa STKK tersebut sudah berjalan sangat bagus dibawah perlindung­an Yayasan lain. Tuhan memang mempunyai banyak cara untuk menyelamatkan umat-Nya.

Pada jaman ini juga dicoba dirintis bukti pemihakan pada suku asli Kaltim dengan memberikan beasiswa bagi sisa-siswi suku Dayak yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk melanjutkan studi ke jenjang Perguruan Tinggi.

Apa yang aman (baca: sangat aman) selama Pastor Toni OMI, sekarang ini menjadi tantangan berat bagi BPH Yayasan HM. Pastor Vikep dijabat bukan oleh Parochus Tarakan, tetapi oleh Parochus Mara I, Pastor VP Bangun Wahyu Nugroho Pr. Maka Wakil Presidium Yayasan HM dijabat bukan oleh Pastor Paroki Tarakan. Sementara itu Yayasan HM berada (secara geografis) di Paroki Tarakan. Siswa-siswi sekolah-sekolah W. Poerwadarminta pun adalah umat paroki Tarakan. Untunglah orang setenang dan setegar Bapak Ignatius Nasu Weking bisa menerjang banyak badai yang kadang tak terduga munculnya pada jaman krisis multi-dimensi sekarang ini.

Sekarang ini kami masih bergulat dengan dua masalah krusial. Pertama, penyesuaian berbagai segi dengan Undang-Undang Yayasan yang baru yang pasti berlaku mulai pada tanggal 6 Agustus 2002. Kedua, lokasi (3 lokal) untuk SMU yang sekrang ini telah dimulai dengan biaya sekitar 200 juta rupiah bersama lokal SLTP yang sudah mulai merintis mencari dana. Kalau Tuhan mau, apa pun jadilah. Itulah “Harapan Mulia” kami. Kalau Tuhan menghendaki, pastilah Ia membebaskan umat-Nya dari kebodohan dan menjadikan mereka (mudahan-mudahan) sepintar dan sebijaksana W. Poerwadarminta.

Ringkasnya, pastor Van de Graft MSF telah meletakkan batu pertama sebagai batu penjuru “bangunan” sekolah-sekolah W. Poerwadarminta yang kemudian diasuh oleh Yayasan Harapan Mulia Tarakan. Namun batu pertama itu akan tetap “sepih” sendiri andaikata Pastor-Pastor OMI dengan varian talenta masing-masing telah menambah dan menambah lagi batu-batu barikutnya sehingga Yayasan HM dan sekolah-sekolah yang diasuhnya berkembang sangat baik hingga saat ini. Gereja mendatang pun akan bertanya “Karya siapa gerangan semua itu?”. Kita sangat bangga, dan lebih bangga lagi karena “Nama-nama mereka telah tercatat di surga.” Mudah-mudahan keberhasilan berikutnya menyongsong para pastor OMI. ”Harapan Mulia” selalu menjanjikan “Harapan Baru” dan “Harapan Baru” selalu menantikan “Harapan Mulia”.

(Artikel adalah modifikasi dari tulisan Apolinaris Massora, Sekretaris Yayasan Harapan Mulia Periode 1999 – 2002)