Keuskupan Kalimantan Barat

Keuskupan Sintang

Pada saat ini di Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat terdapat dua paroki yang dilayani oleh pastor OMI. Kedua paroki tersebut adalah Paroki St. Petrus dan Andreas Sepauk dan Paroki St. Yohanes Penginjil, Dangkan Silat. Pada pemekaran keuskupan yang sebelumnya hanya dibagi 8 pusat-wilayah, jumlah tersebut dimekarkan menjadi 34 paroki, pernah Pastor OMI melayani sampai 10 paroki.

Berikut ini disajikan informasi tentang Sejarah Delegasi/Distrik OMI Kalbar, Paroki Petrus dan Andreas Sepauk, dan Paroki St. Yohanes Penginjil, Dangkan Silat yang dibeberkan oleh Pastor Jacques Chapuis, Pastor Heru Supriyanto dan Pastor Antonius Sussanto.

SEJARAH DELEGASI/DISTRIK KALBAR

PENDAHULUAN

Kepindahan para Pastor Oblat Maria Imakulata Perancis dari Laos tahun 1975 disebabkan oleh perubahan keadaan politik di negara tersebut. Wilayah Vietnam, Kamboja dan Laos mengalami keadaan perang yang kait-berkait selama lebih dari 20 tahun. Dalam tahun enam puluhan di Laos beberapa pastor dan satu bruder OMI terbunuh. Pada tahun 1974-1975 secara resmi selesailah perang, ada gencatan senjata.
Pemenangnya adalah kekuatan militer komunis yang sesudah gencatan senjata tahap demi tahap menguasai seluruh negaranya:

Pada tahun 1975 Saigon menyerah tan­pa syarat kepada angkatan bersenjata komunis dan kota ini diberi nama baru: Ho Chi Minh. Vietnam Utara dan Vietnam Selatan menjadi satu.
Pada tahun yang sama Kmer Merah me­ngepung kota Phnom Penh dan mengu­asainya serta seluruh Kamboja.
Pada tahun 1975 juga Pathet Lao mem­bubarkan Pemerintah Persatuan National yang dibentuk tahun 1974 dan mengambil kekuasaan penuh di Vientiane dan seluruh Negara Laos.

Pada tahun 1974-1975 selesailah pe­rang tetapi bukan berarti penderitaan pen­duduk negara-negara tersebut telah ber­akhir, pembantaian (pemusnahan ratusan ribu orang) di Kamboja, boat-people yang melarikan diri dari Vietnam dengan harapan dapat memperoleh negara perlindungan (berapa banyak orang mati tenggelam dalam pelayarannya), ada yang mengungsi ke Thai­land dan tinggal bertahun-tahun di kamp sambil menunggu satu negara sebagai tanah airnya yang baru, akhirnya ada juga banyak orang yang dikurung di dalam kamp tawanan atau kamp kerja paksa di negaranya sendiri.

Perubahan politik yang terjadi di Laos antara 1974-1975 mengakibatkan pengusiran semua tenaga misionaris asing. Maka secara bijaksana Pastor Provinsial Provinsi OMI Vientiane, Pastor Rene Charrier berdasar keadaan pribadi masing-masing mengatur evakuasi keberangkatan anggota-anggota provinsinya secara bertahap.

PERIODE 1975 – 1977

1975: Kembali ke Perancis

Setelah keluar dari Laos, di sekitar bulan Maret 1975 dan sebelum kembali ke Perancis, Pastor Jean Subra mulai memikirkan masa depannya. Jelas lembaran Laos sudah tutup, ia sadar bahwa harus membuka lembaran baru. Tetapi negara mana yang masih terbuka atas kedatangan misionaris, di mana ada negara yang siap memberi visa untuk tenaga misionaris?

Maka, Pastor Jean Subra datang ke Indo­nesia untuk mencari informasi. Ia bertemu dengan Pastor OMI dari Australia yang baru tiga tahun berkarya di Pulau Jawa, khususnya di Keuskupan Purwokerto. Dia bertemu juga dengan beberapa uskup. Baru sesudah itu ia terbang kembali ke Perancis.

1976

Semua pastor dan bruder yang sudah pulang bertemu secara berkala entah dengan provinsial–provinsial Perancis (waktu itu masih ada tiga provinsi OMI di Perancis), entah dengan Superior Jenderal, Pastor Fernand Jette, OMI. Selama tahun 1976, Pastor Bernard Keradec ditunjuk menjadi semacam “Wakil Provinsial” Perancis khususnya un­tuk rombongan Missionaris OMI mantan provinsi OMI Vientiane. Tujuannya untuk membantu mereka entah berangkat lagi ke daerah misi atau menetap di Perancis sesuai dengan keadaan pribadi masing-masing dan permintaan-permintaan kepada Administrasi Jenderal kami di Roma yang berasal dari beberapa uskup dari daerah misi yang keku­rangan tenaga.

Sebagian dari anggota mantan Provinsi Vientiane agak cepat mengambil keputusan: ada beberapa yang agak tua tinggal di Perancis, ada yang ke Kamerun, ada yang ke Haiti, ada yang meneruskan misi mereka di tengah pengungsi baik di Thailand, maupun di Perancis, ada pula yang ke Guyana ikut di sana pengungsi dari suku Hmong. Namun ada satu kelompok yang berkeinginan untuk melanjutkan karya kerasulannya di Asia.
“Kenapa? Karena sudah terlanjur jatuh cinta kepada orang Asia. Itu jelas! Selain juga ingin terus bisa menyampaikan kabar baik kepada mereka!” menjawab Pastor Bernard Keradec dalam wawancaranya kepada Sabitah (No. 50–Sept.-Okt. 2011, hal. 47). Kebetulan pada tahun 1976, disampaikan kepada kami permintaan dari beberapa tempat seperti dari Honduras (Amerika Selatan) dan juga dari Indonesia (Asia).

Keputusan pergi ke Indonesia dan pem­bentukan kelompok
Dari Indonesia ada dua permintaan yakni dari Keuskupan Surabaya dan dari Keuskupan Sintang. Pertengahan pertama tahun 1976, Pastor Ernest Dumont dan Pastor Jean Guil­vout diutus ke Indonesia untuk meninjau tempat-tempat itu dan bertemu orang-orang yang berkaitan. Setelah mereka melapor­kan hasil kunjungan mereka, bulan Agustus 1976 di Notre Dame de Sion (Perancis) di­putuskan untuk mengabulkan permintaan Keuskupan Sintang (Kalimantan Barat) yang masih dipimpin oleh Mgr. Lambertus van den Boorn, SMM sebagai Administrator Apostolik. Serentak dibentuk kelompok volonter yang berkeinginan meneruskan misinya di wilayah keuskupan Sintang. Kelompok tersebut terdiri dari tujuh orang sebagai berikut:

  1. Pastor Jean Subra (umur: 53 tahun–26 tahun di Laos, melayani suku Kmhmu’)
  2. Pastor Lucien Bouchard (umur: 47 tahun–19 tahun di Laos, melayani pengungsi di daerah pegunungan selama 14 tahun)
  3. Pastor Jean-Pierre Meichel (umur: 40 tahun–11 tahun di Laos di tengah-tengah penganut budhisme dan penganut ani­misme)
  4. Pastor Andre Hebting (umur: 39 tahun–9 tahun di Laos, melayani suku Kmhmu’)
  5. Pastor Rene Colin (umur: 37 tahun–6 tahun di Laos, melayani satu paroki yang terdiri dari orang suku Lao yang menganut agama Katolik)
  6. Pastor Jacques Chapuis (umur: 36 tahun–7 tahun di Laos, terlibat dalam kalangan orang muda dan dalam dialog bersama penganut budhisme selama 3 tahun)
  7. Pastor Bernard Keradec (umur: 30 tahun-kesempatan belajar bahasa selama 2 tahun di antara Thailand dan Laos).

Pada saat itu juga Pastor Andre Heb­ting ditunjuk sebagai superior delegasi yang pertama, dan Pastor Jacques Chapuis se­bagai bendahara. Dari bulan Agustus 1976 sampai tanggal keberangkatan kami, kami mempersiapkan diri, urusan visa di Kedutaan Besar Indonesia di Paris, membeli tiket-tiket pesawat dan mulai belajar bahasa Indonesia seadakadarnya dengan Ibu Farida, istri Pak Pierre Labrousse (seorang ‘Indonesianis’ ber­asal dari Perancis). Selain Pastor Jean Subra yang lewat beberapa hari di Indonesia pada tahun 1975, kami sama sekali tidak mengenal Indonesia, apalagi Kalimantan Barat.

PERIODE 1977 – 1993

Januari s/d Agustus 1977 (Kedatangan di Indonesia)

Rombongan kami tiba di Indonesia pa­da tanggal 29 Januari 1977. Kami dijemput oleh Pastor David Shelton, OMI berasal dari Propinsi Australia dan yang berkarya di daerah Cengkareng (Jakarta Barat), malamnya bergabung dengan kami Pastor Heinrich Sicking, OMI dari German, yang melayani Umat Katolik berbahasa German yang berada di Indonesia.

Sementara kami mengurus surat-me­nyu­­rat di imigrasi dengan bantuan Bagian C/Personalia KWI, Pastor Andre dan Pastor Bernard pergi ke Bandung melihat masalah Sekolah Bahasa dan mencari tempat pe­ngi­napan bagi kami. Sekolah Bahasa tersebut adalah sekolah yang didirikan oleh bebera­pa aliran protestan, baik untuk pendeta-pen­deta, maupun pilot-pilot pesawat “MAF” serta keluarga-keluarga mereka. Kami di si­tu dari bulan Februari s/d pertengahan bulan Mei 1977. Tentang penginapan, kami tinggal di satu rumah milik satu bank yang tunggu seorang pembelinya, rumah tersebut dipinjamkan kepada kami oleh pimpinan bank. Kebetulan tidak ada orang yang mau membelinya selama kami di Bandung.

Di Bandung ada seminari tinggi di mana pada waktu itu seminaris-seminaris dari Keus­kupan Sintang dibina, ada juga satu pastor SMM, Pastor Dijker yang mengajar kitab suci di Seminari Tinggi Bandung itu. Dialah yang beberapa tahun sebelumnya mem­buka di Sintang SKMA (Sekolah Kateketik Menengah Atas) yang kemudian menjadi PGAK (Pen­didikan Guru Agama Katolik) ketika sekolah tersebut diakui oleh pemerintah dan dapat mendidik orang yang bisa menjadi Guru Agama Katolik di Sekolah Negeri. Dialah pula yang dalam lokal SKMA mengadakan (waktu libur) Kursus Pemimpin Umat untuk utusan dari seluruh wilayah Keuskupan Sintang, lamanya biasa satu bulan. Kadang-kadang se­lama kami berada di Bandung dengan ves­panya, Pastor Dijker datang ke rumah kami untuk main bridge.
Pada waktu kami baru berada di Bandung, Monseigneur Isak Doera, Pr diangkat menjadi Uskup Sintang. Pengangkatannya diumum­kan pada tanggal 2 Februari 1977 dan dia ditahbiskan di Sintang pada tanggal 19 Mei 1977, saat Hari Raya Kenaikan Tuhan.

Akhir bulan Mei 1977, kami berangkat dari Bandung untuk pindah ke Jawa tengah di Paroki di mana OMI dari Australia berkar­ya sejak kedatangan mereka pada tahun 1972, yaitu Paroki Santo Yosep Purwokerto (Bernard, Jean-Pierre et Jacques) dan Paroki Santo Stephanus Cilacap (Jean, Lucien, Re­ne dan Andre), di situ kami meneruskan pelajaran Bahasa Indonesia sambil memprak­tekkannya.
Selama kami di Jawa dan sebelum be­rangkat ke Kalimantan, kami mengambil ke­sem­patan untuk mengunjungi beberapa tempat seperti pelabuhan Surabaya, gunung api Bromo dan Merapi, daratan Dieng dan mo­numen-monumen seperti Borobudur dan Prambanan. Beberapa dari antara kami ke­sem­patan naik Gunung Slamet.
Akhir Agustus 1977, kami meninggalkan Jawa tengah menuju Pontianak. Ketika kami keluar dari lapangan terbang Supadio di Pontianak, kami disambut oleh Mgr. Isak Doera. Penyambutannya cukup hangat na­mun sederhana. Sesudah selesai urusan de­ngan imigrasi di Pontianak, dibantu dalam hal itu oleh Pastor Willy Wagemarkers, Ofm Cap., kami menumpang bus menuju Sintang. Bus itu adalah sebuah truk yang diubah untuk menampung penumpang. Jikalau jalan beraspal sampai kurang lebih Semuntai, tidak demikian antara Semuntai dan Sintang. Di Semuntai belum ada jembatan, untuk menyeberang Sungai Kapuas, digunakan se­buah Ferry, harus tunggu gilirannya dan karena ferrynya agak kecil, perlu penumpang turun dari bus dengan kopornya dan barang lain. Baru tiba di Sintang jam 9 malam.

Kedatangan kami di Keuskupan Sintang merupakan jawaban kami atas permohonan Administrator Apostolik, Mgr. Lambertus van den Boorn, SMM karena kekurangan tenaga yang mereka alami. Yang pertama bagi kami, ialah melihat keadaan keuskupan Sintang dan bekerja bersama para pastor SMM Belanda, agar kami bisa saling mengenal satu sama lain dan melihat cara mereka berkarya, sambil mengenal lebih baik masyarakat dayak.
Kami masuk suatu Gereja yang sudah ada sejarah. Kami ingin bekerja sama dalam usaha keuskupan sambil mencari jalan baru dalam kerja kerasulan berdasar pengalaman kami. Dalam hal ini kami mau berangkat dari masyarakat dan pribadi orang dayak, untuk itu kami mau mengunjungi kampung-kampung dan hidup sedekat mungkin seperti mereka.

Tentang hal ini, marilah kita melihat pandangan seorang pastor SMM, yaitu Pastor Piet Derckx, ia menulis dalam buku yang berjudul: “Sejarah dimulainya Montfortan. Hidup dan berkarya di Indonesia 1939-2005“:
’Keuskupan Sintang, yang sampai saat itu dibangun dan dikelola oleh para Mont­fortan, diperkaya oleh tenaga-tenaga dari kongregasi lain, yaitu Kongregasi Lasaris (CM) dan Oblat (OMI). Kehadiran para imam non-Montfortan ini memberikan warna baru kepada Keuskupan Sintang dan hal ini menuntut adanya penyesuaian, baik dari pihak keuskupan maupun dari pihak SMM sendiri.’ (hal. 105)

’Kedatangan serikat-serikat/para misio­naris yang memiliki tradisi missioner mempengarui cara kerja di Keuskupan Sintang. Mereka juga membawa dampak positif bagi para Montfortan. Pertama-tama adalah meringankan beban kar­ya pastoral karena sebagian dari tugas­nya dapat dialihkan, dan tidak kalah pen­tingnya adalah bahwa para Montfortan dapat belajar dari OMI dan CM ini. Para misionaris OMI yang diusir dari Laos, sangat menekankan peranan kaum awam.’ (hal. 107)

’Kedatangan OMI dan CM telah menambah warna pada cara dan metode berpastoral di wilayah Keuskupan Sintang. Selama ini SMM terbiasa memusatkan perhatiannya pada pusat paroki serta kegiatan sosial. Inilah sistem SMM untuk membangun wilayah paroki, sedangkan OMI menaruh perhatian dan kegiatannya serempak pa­da seluruh wilayah paroki tanpa meng­utamakan pusat paroki. Mereka tampil sebagai misionaris-misionaris yang baik dan homogen.’ (hal. 129)

Kelompok kami berstatus Delegasi dari ketiga Provinsi OMI Perancis, satu di antara ketiga provinsial menjadi seperti penghubung antara Provinsi-provinsi OMI Perancis dan Delegasi kami. Demikian hubungan kami dengan induknya cukup erat. Khususnya, kami agak sering mendapat kunjungan provinsial-penghubung tersebut (secara berurutan: Jean Gerey, Francis Plantin, Jean-Pierre Caloz dan Jean-Pierre Jardine), namun kelompok kami, sesuai dengan status delegasi agak mandiri.

Meskipun kami terbuka melihat apa yang sudah dibuat oleh pendahulu dan mau melihat keadaan wilayah di mana kami akan berkarya, jelas juga bahwa dalam cara kami akan berkarya dipengaruhi oleh pengalaman misi “ad gentes” di Negara Laos, disertai peristiwa pengusiran semua misionaris asing dari situ, dengan segala akibatnya bagi Gereja Laos.

Dua hal tersebut sangat berpengaruh, baik dalam menentukan umat mana yang menjadi tujuan pelayanan maupun dalam cara berpastoral, animasi dan pembentukan komunitas-komunitas kristiani yang dapat berdikari sebaik mungkin, diutamakan per­hatian kepada unit-unit kecil, termasuk dalam hal proyek-proyek dan bantuan sosial. Maka, akan diutamakan pembinaan ketua umat, pemimpin-pemimpin sembahyang, dan diprioritaskan peranan awam dalam hidup rohani stasi-stasi dan pusat paroki.

Agustus s/d Desember 1977

Pada akhir Agustus 1977, kami sudah berada di Sintang. Kebetulan tahun itu Kal­bar mengalami kemarau panjang. Setelah pertemuan dengan uskup dan pembagian tenaga kami, kami menunggu kesempatan mudik ke tempat masing-masing. Mula-mula kami ditempatkan bersama para Montfortan dan hidup serumah dengan mereka. Rene dan Jacques di Sejiram, Bernard et Jean-Pierre di Benua Martinus, Jean di Putussibau, Lucien di Bika Nazaret dan Andre di Sintang di keuskupan untuk melayani wilayah Sepauk-Temponak.

Baru pertengahan September Rene dan Jacques ikut satu “motor bandung“ dari Penai. Perjalanan 2 hari, hari kedua bermalam di motor Bandung di muara Sungai Seberuang. Pak Deris, karyawan di Pastoran Sejiram, sudah menunggu kami dengan spidboat untuk mudik hari berikutnya. Subuh kami berangkat dari Nanga Seberuang, baru jam 2 siang kami sampai di Sejiram, sedangkan satu perjalanan yang biasa makan hanya 1 atau 2 jam, tahun 1977 karena panjangnya kemarau Sungai Se­beruang sangat dangkal. Akhirnya karena tidak ada hujan dan tidak mungkin mereka mudik melalui Sungai Kapuas, dicharter pesawat dari “MAF” yang biasanya digunakan pendeta–pendeta untuk mengantar Bernard, Jean-Pierre, Lucien dan Jean dari Sintang ke Putussibau.
Permulaan September tahun 1977, ketika kami tiba di keuskupan Sintang, kurang lebih demikian keadaan keuskupan Sintang:
Luasnya: 62.120 km2
Jumlah penduduk: 353.618 orang
Jumlah umat Katolik (yang sudah di­baptis): 25.817
Jumlah katekumen resmi: 10.484
Jumlah Pastor SMM: 20 orang dan Pastor Projo: 3 orang.

Pada akhir September 1977, Mgr. Isak Doera merencanakan mengunjungi untuk pertama kali sesudah pentahbisannya sebagai uskup, wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Ia mengundang Andre untuk mengikuti dia agar Andre sebagai Superior Delegasi OMI kami dapat punya pandangan tentang tempat-tem­pat di mana kami berkarya. Mereka pa­kai motor ”Rasul” milik keuskupan. Di Se­mitau, Mgr. Isak Doera disambut oleh umat setempat yang ketuanya adalah Pak Urbanus Loegit. Dalam kata sambutannya Pak Loegit mengatakan: “…Dari kampung-kampung da­tang permintaan masyarakat untuk dida­tangi, dan ingin mendengar ajaran agama Katolik, terlebih beberapa buah kampung di daerah ULU KENEPAI, yang masyarakatnya belum ada menganut sesuatu agama. Tetapi hingga kini kami belum pernah sempat memperhatikan permintaan tsb., karena be­lum ada pula umat Katolik di Semitau ini sanggup hidup menjadi orang awam, dan berkorban tenaga untuk itu.”

Pada bulan Desember 1977, kami men­dapat kunjungan Pastor Marcello Zago, OMI yang pada waktu itu adalah Asisten Jenderal Kongregasi OMI. Kami bertemu dia di Pu­tussibau. Untuk sampai di situ dari Sintang, Andre dan Marcello Zago menggunakan pe­sawat dari “MAF”. Rene dan Jacques, dari Sejiram mengunakan spidboat, baru sesudah 14 jam mereka tiba di Putussibau. Ialah juga dengan spidboat bahwa Bernard dan Jean-Pierre datang dari Benua Martinus, ketika mereka lewat di Bika Nazaret Lucien bergabung dengan mereka. Pertemuan ini adalah yang pertama se­sudah kami pisahkan di Sintang pertengahan bulan September.

Kami melihat dan mem­­bicarakan ber­sama apa yang masing-masing te­lah buat selama ini: ada yang berjalan kaki, ada yang pa­kai sampan/spidboat. Su­dah nampak cara bekerja kami ber­beda dengan cara bekerja beberapa Pastor Montfortan dan hal ini bisa men­jadi masalah untuk ma­sa yang akan datang. Per­nah terjadi waktu Jac­ques merencanakan pergi ke Kecamatan Empanang (Nanga Kantuk).

Mereka mengutamakan beberapa kampung-pusat, kampung-kampung yang di sekitar pusat itu harus da­tang ke pusat-pusat tersebut, entah untuk ikut Ibadat Sabda pada hari minggu, entah untuk ikut pembinaan sebagai katekumen.

Namun pernah terjadi bahwa kampung yang kurang dikunjungi ini, akhirnya masuk protestan (misalnya Mensusai, Kec. Selimbau). Beberapa pastor juga membuat bermacam-macam kegiatan yang tidak berkait dengan pastoral. Namun jikalau baik kami punya tempat di mana kami bisa bertemu, bisa istirahat, bisa tukar pikiran, membaca dan berdoa. Mengingat luasnya wilayah yang kita layani, perlu di pusat paroki disediakan infrastruktur yang ringan yang tidak mengi­kat. Setelah 48 jam di Putussibau, Andre dan Marcello menggunakan ulang pesawat untuk kembali ke Sintang.

1978

Pada bulan Pebruari 1978: kami men­dapat kunjungan Pastor Jean Gerey, OMI provinsial Provinsi Perancis Selatan, yang mewakili provinsial-provinsial perancis untuk mendampingi Delegasi OMI Sintang. Kami mengadakan pertemuan di Bika Nazaret. Dalam rapat tersebut diusul agar Bika Nazaret menjadi Pusat OMI, artinya semua anggota yang melayani wilayah tersebut adalah ang­gota Delegasi OMI. Setelah usul tersebut diterima keuskupan, pada bulan September 1978, para pastor Montfortan yang ada di Bika pindah/meninggalkan Bika Nazaret. Bernard Keradec dan Jean-Pierre Meichel yang sampai waktu itu berada di Benua Martinus pindah ke Bika Nasaret dan dengan Lucien Bouchard yang sudah berada di situ menjadi tim Pastoral yang menangani sektor Bika Nazaret.

Pada tahun itu juga bahwa Menteri Aga­ma, yang adalah pada waktu itu H. Alamsyah Ratu Perwiranegara, keluar dua surat ke­pu­tusan:

  1. Keputusan Menteri Agama No. 70 – Tahun 1978 tentang pedoman penyiaran Agama, dari tanggal 1 Agustus 1978;
  2. Keputusan Menteri Agama No. 77 – Tahun 1978 tentang Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia, dari tanggal 15 Agustus 1978.

Kedua keputusan tersebut akan mem­pengaruhi kami dalam tahun-tahun beri­kut­nya. “Apakah situasi memerlukan kami mo­hon menjadi “Warga Negara Indonesia” atau tidak? Dari pihak Mgr. Isak Doera tidak ada saran khusus, ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada masing-masing individu misionaris dan pimpinan serikat, apakah mau menjadi WNI atau tetap WNA dengan risiko Kartu Izin Masuk (KIM) sesudah beberapa tahun tidak diperbaharui lagi, artinya terpaksa pulang ke negeri sal.

Pada bulan Pebruari 1985, Jean Subra menulis: “Sekarang ini, kelompok Oblat Kal­bar masih membicarakan dan bertanya pa­­da diri sendiri tepatnya mohon kewar­ga­negaraan. Ada pro, ada kontra. Jelas masih kekurangan pastor, namun secara bertahap perlu tenaga asing diganti menuju Gereja mandiri.”
Akhirnya. kami mohon kewarganegaraan di ujung tahun delapan puluhan. Baru se­puluh tahun kemudian, sebagian dari kami memperolehnya.

1979

Pada bulan Agustus 1979, dengan Su­rat Keputusan No. 197/Par/79 dari tanggal 24 Agustus 1979, Mgr. Isak Doera memutuskan melaksanakan pemekaran paroki-paroki da­lam seluruh wilayah Dioses Sintang. Dari 7 (atau 8) Paroki Induk menjadi 34 paroki. Jean Subra menjadi pastor paroki Siut-Melapi (bagian mantan Paroki Pussibau); Paroki Bika dimekar menjadi 4 paroki (Bika, Embaloh, Peniung, Bunut) yang tetap dilayani oleh Bernard, Jean-Pierre dan Lucien, demikian juga paroki Sejiram dibagi menjadi 4 paroki (Sejiram, Semitau, Kantuk dan Dangkan-Silat) yang dilayani bersama SMM (Jacques Maessen) dan OMI (Rene dan Jacques). Andre teruskan pelayannya di wilayah Sepauk dan Temponak yang sudah menjadi dua paroki, pemekaran dari Paroki Katedral Kristus Raya, namun mulai tahun 1980, tugasnya dibatasi dengan Paroki Sepauk saja.

Jean, kepada siapa dipercayakan wilayah Paroki Siut Melapi berani pergi mengun­jungi daerah yang dihuni oleh suku Bukat dan Punan, dengan lewat riam-riam yang mengerikan di Hulu Sungai Kapuas, Keriao, Matalunai, Nanga Bungan. Dia sendiri me­ngatakan bahwa ia merasa agak sulit pergi daerah Nanga Bungan. Ia pernah karam dalam turnenya ke Hulu Kapuas.

Tahun 1978, Jacques memiliki kesem­patan masuk ke kecamatan Empanang, yang tidak dikunjungi sejak bertahun-tahun, ka­rena Masa Konfrontasi (dengan Malaysia) dan Masa Peraku lagi pula tidak jelas masuk wilayah Benua Martinus atau wilayah Sejiram. Sejak itu daerah ini dikunjungi dari Sejiram dan tahun 1979 menjadi Paroki Nanga Kantuk. Sekali pulang dari Bika, Jacques singgah di Jongkong di mana ter­nyata ada beberapa ke­lu­arga katolik dan sim­patisan, sehingga Jong­kong menjadi stasi dari Paroki Semitau, sampai sekarang, dan juga 2 kampung suku Iban, yang masuk kecamatan Embau.

1980

Pada bulan Mei 19­80, tiba di Paroki Sepauk, suster-suster Cin­ta Kasih dari San­ta Yohana Antida Thouret yang sebagian besar pernah di Laos dan seperti kami telah diusir. Mereka punya dua komunitas, satu di Temanang, satu di Leng­kenat. Dari kedua tempat ini, mereka akan berjalan ke kampung-kampung atau ikut pastor Andre Berturne.

1981

Pertengahan Pe­bru­ari 1981, kami dapat kunjungan dari P. Francis Plantin, provinsial Provinsi OMI Perancis Selatan. Kami bertemu di Bika Nazaret selama empat hari. Dia telah membantu kami meneruskan refleksi kami berdasar pengalamannya dan pandangannya yang baru. Refleksi ini diselingi saat doa dan istirahat/hiburan.
Satu kegiatan yang sering dilak­sanakan, baik di Bika, mau­pun di Se­jiram atau di Sepauk adalah kursus-kursus pemimpin-pemimpin Umat, dalam hal ini kami dibantu oleh siswa/i Sekolah Kateketik (PGAK Sintang) ke­tika mereka latihan di lapangan.

1982

Hari senin sesudah Paskah, pada tanggal 12 April 1982, Pastor Jacques Maessen be­rangkat dari Sejiram, diharapkan dia akan diganti oleh satu tenaga SMM. Tinggal Pastor Harry L’Ortye yang pada bulan Juni 1982 akan merayakan 50 Tahun imamatnya di Sejiram. Setelah itu ia berangkat pulang ke Negeri Belanda. Rene dan Jacques tinggal sendiri untuk melayani wilayah yang lumayan luas, sambil menunggu satu tenaga Montfortan yang tidak akan datang. Rupanya pastor SMM telah angkat kaki dari Sejiram diam-diam.

Mulai 6 Agustus, Pastor Rene Colin men­jadi Superior Delegasi, menganti Pastor Andre Hebting yang baru berjabat dua masa bakti berturut-turut (1976-1982). Dari 28 Desember 1982 s/d 2 Januari 1983, kami menerima kunjungan dari Pastor Fernand Jette, superior jenderal yang ditemani Pastor Berhard Ferkinghoff, anggota Dewan Jenderal, penasehat untuk Regio Europa. Rencana rapat di Bika Nasaret. Karena dari Hilir, kami terlambat, Lucien Bouchard dan Bernard Keradec mengajak mereka pergi satu hari dalam satu kampung Dayak di Benua Tengah, di pinggir sungai Palin. Di situ Umat Katolik agak baru. Perjalanan memerlukan 3 jam dengan sampan.

Pastor Jenderal diterima sesuai dengan tradisi dan adat suku Taman Lauk: tarian, minuman, makan bersama dan kado. Upacara Ekaristi menjadi puncak pesta ini. Ketika mau pulang, Pastor Fernand Jette tergelincir di satu lahan yang lumpur dan licin. Ia jatuh sampai retak tulang lengan atas (humerus). Ketika Ia lewat di Jakarta, rupanya ia dapat stroke ringan yang memerlukan ia masuk beberapa hari di Rumah Sakit dan terpaksa menunda pulang ke Roma. Kesulitan-kesulit­an perjalanan dengan sampan di atas sungai mengingatkan Pastor Jette pada kesulitan-kesulitan abad XIX yang dihadapi para Oblat waktu mereka pergi mengunjungi suku Inuit di Canada Utara. (cf. Yvon Beaudoin: Fernand Jett–Un guide sage dans un temps de crise–Studia Oblatio 1- hal. 40-41).

Karena satu dan lain hal, pada bulan September 1983, diadakan banyak rotasi dan penempatan baru: Jean Subra dan Bernard Keradec datang di Sejiram, Lucien Bouchard ganti Jean di Siut-Melapi dan Rene meninggalkan Sejiram dan pindah ke Bika di mana ia akan tinggal 12 tahun. Mgr. Isak Doera minta juga agar Bernard dapat mengajar Kitab Suci di PGAK, dengan kata lain Bernard separuh waktu di Sintang, separuh waktu dalam paroki Dangkan Silat dan juga bantu di Sejiram.

1984

Februari 1984, kedatangan Pastor Fran­cis Plantin, provinsial Perancis Selatan untuk kedua kalinya. Kami berapat di Sejiram dari tanggal 7 s/d 13 Februari. Francis terbang dari Pontianak ke Putussibau, di mana ia tinggal beberapa hari dengan P. Lucien, ia meng­un­jungi beberapa kampung di Paroki Siut Me­lapi. Kemudian ia meneruskan perjalanan­­nya ke Bika Nazaret, di mana ia tinggal 2 hari, se­belum meneruskan perjalanan menuju Se­jiram. Perjalanan Bika–Sejiram memakan waktu 12 jam, 4 jam kena hujan dan 8 jam kena terik matahari (panas). Sesudah 2 hari retret, kami lanjutkan dengan 5 hari pertemuan, setelah 7 tahun kehadiran kami di keuskupan Sintang, kami buat segenis evaluasi tentang kegiatan-kegiatan kami, kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Terjadi perubahan besar dengan trans­migrasi, ribuan keluarga datang dari Jawa, orang Dayak diajak bergabung dengan mere­ka. Tidak banyak di antara mereka akan tahan, cara kerja berbeda, cara hi­dup berubah, sulit untuk pen­duduk asli Kalimantan menyesuai­kan di­ri dengan ke­adaan baru. Kedatangan per­usahan Ka­yu, seperti PT. Ka­yu Lapis di Sepauk mempe­ngaruhi hidup di kampung-kampung. Di bebe­rapa daerah, orang mencari emas.

Semua perubahan ini pu­nya dampak dalam bidang pas­toral. Tetap diusahakan agar se­tiap kampung menjadi suatu komunitas/umat yang hi­dup. Umat menunjukkan pe­mim­­pin­­nya yang memimpin Iba­dat Sabda pada hari minggu dan sembahyang keluarga lain­nya (misalnya: Waktu ada orang sakit atau orang meninggal). Turne (kadang-kadang tidak kesem­patan lewat lebih dari satu atau dua kali dalam satu tahun di beberapa kampung), pembinaan pe­mimpin dan ketua umat serta pendampingan katekis-katekis merupakan hal yang penting.

Dibicarakan juga tentang hubungan-hu­bungan antara anggota delegasi, hubungan melalui radio sekali seming­gu, pertemuan semua anggota delegasi dua kali setahun, selain pertemuan di tingkat komunitas. Me­ngenai keuangan, keadaan sehat, hanya sa­tu kas. Dalam pembicaraan, kami sudah mulai tukar pikiran mengenai hubungan antara ketiga kelompok oblat yang berkarya di Indonesia, ka­mi siap membantu secara ke­uangan dalam karya formasi, satu skolastik dari Jawa sedang TOP di Sejiram dengan Pastor Jean Subra. Sudah ada renca­na pertemuan antara ketiga superior Delegasi sebelum pertemuan Regio-Asia bulan Oktober 1984. Kemungkinan bisa diadakan kongres para oblat yang berkarya di Indonesia dalam 2 tahun yang akan datang. (cf. Lapor Pastor Francis Plantin setelah kunjungannya kepada Delegasi OMI Sintang/Kalbar).

1985: Ketegangan Pertama di Keuskupan Sin­tang

Ketegangan pertama di Keuskupan Sin­tang (Cf. Piet Derckx, hal. 167-168) timbul, ketika Mgr. Isak Doera mengangkat dan me­nempatkan, tanpa kon­sultasi, seorang pastor, yang ku­rang diterima, baik oleh para pastor yang lain, maupun oleh para suster sebagai se­kretaris keuskupan. Secara lebih luas banyak kritik disampaikan ten­tang pimpinannya; an­tara lain, dicela kepadanya keterlibatannya secara aktif dalam dunia politik, ia pernah juga mentahbiskan orang yang kurang layak atau kurang siap dan yang kadang-kadang pernah ditolak di tempat lain.

Pada akhir tahun 1985, dalam suasana tegang dan kritis, Mgr. Doera bertemu dengan para imam, suster dan wakil umat katolik di Sintang tanpa hasil yang nyata. Pertemuan ini dilanjutkan dengan pertemuan khusus antara Mgr. Doera dengan para imam, pertemuan ini di ruang atas rumah keuskupan dihadiri Mgr. Bumbun, Ofm Cap. dan Pastor Sekundus, Ofm Cap. Satu hasil dari pertemuan ini adalah penetapan Pastor Mateus Rampai, pr sebagai Sekretaris Keuskupan, namun pertemuan ini tidak membahas berbagai perbedaan pen­dapat yang menjadi penyebab kemelut pertama itu sendiri.

Pada bulan Agustus 1985 ada kunjungan Pastor Desmond O’Donnel, Penasehat Jendral untuk Regio Asia-Oceania. Selama 10 hari dia telah mengunjungi kami semua di tempatnya sendiri.
Pada akhir bulan Agustus 1985 telah diadakan untuk pertama kalinya retret ber­sama antara anggota ketiga Delegasi (Italia, Australia, Perancis), retret tersebut dipimpin oleh Pastor Yohanes Indrakusuma, O. Carm.

1986

Pada tahun 1986, Pastor Jean-Pierre Caloz, OMI, provinsial Perancis-Timur datang ke Indonesia dari tanggal 2 Pebruari s/d 16 Maret. Sebelum datang ke Kalimantan Barat, dia mengunjungi Delegasi Italia dengan pergi khususnya ke Tarakan dan Balikpapan. Setelah itu tinggal satu bulan dengan kami di Wilayah Keuskupan Sintang. Sebelum pulang ke Perancis, ia mengunjungi juga para oblat Australia di Java dan rumah-rumah formasi di Yogyakarta. Dalam laporan kunjungannya, P. Jean-Pierre Caloz mencatat perubahan-perubahan yang telah kami saksikan sejak kedatangan kami di daerah Sintang dan Kapuas Hulu.

Bulan April 1986, sewaktu P. Jean Subra siap berangkat cuti ke Prancis pada minggu kemudian, pada hari sabtu sebelum hari minggu panggilan, Ia mencari Ibu Agnes, ka­tekis untuk mempersiapkan upacara ha­ri berikut. Hari sudah malam, P. Jean Subra pergi ke susteran. Karena lengah sesaat, ia jatuh. Pertama-tama diduga pinggulnya terkilir. Dia dibawa ke Rumah Sakit di Pontianak di mana ia tinggal satu bulan. Semula disangka hanya retak tulang paha, ternyata lebih parah.Karena tidak ada perkembangan, akhir­nya ia berangkat ke Perancis. Dan hari keda­tangannya sebuah ambulance menunggu dia dekat pintu pesawat. Langsung ia diantar ke Rumah Sakit, dioperasi dan dipasang “pen”. Setelah keluar dari Rumah Sakit, dia pergi ke Pusat Rehabilatasi untuk latihan dan phy­siotherapie seperlunya, selama beberapa bu­lan.

Tahun 1986 juga ditandai oleh kebe­rangkatan Suster-suster SMFA dari Sejiram, namun Asrama Putri tetap dipertahankan dan dipimpin oleh Ibu Martha Ihai (mama Pastor Eko), selama beberapa tahun. Jelas dengan perubahan zaman, beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh misi ditutup. Dengan pembangunan PUSKESMAS, POSYANDU dan penempatan Dokter, perawat-perawat dan Bidan Desa, akhirnya Unit Balai Pengobatan kurang berfungsi. Demikian juga pemba­ngunan Sekolah Inpres yang bersaing dengan Sekolah Yayasan menyebabkan penutupan Sekolah Yayasan karena kekurangan murid. Umat Sejiram paling merasakan perubahan ini.

1987

Baru bulan Januari 1987, P. Jean Subra kembali di Sejiram, namun ternyata setelah beberapa minggu, dia sadar bahwa ia kurang mampu lagi, jalan kaki dari kampung ke kampung dan melaksanakan pelayanan umat seperti diharapkan. Dari tanggal 16 s/d 21 Pe­bruari, kami ada rapat Delegasi di Bika. Satu pokok pembicaraan yang telah menarik perhatian kami ialah permohonan pastor Australia (yang secara de fakto mengurus pendidikan calon-calon OMI di Yogyakarta), agar P. Jean Subra bergabung dengan Tim formator di “Wisma de Mazenod” di Yogyakarta.
Kebetulan sudah diminta kepadanya memimpin retret para skolastik dan para novis di Yogyakarta dan setelah itu diberi tugas baru kepadanya menjadi socius magis­ter novis yang, pada waktu itu, adalah Pastor John O’Doherthy, tugas yang ia lakukan se­lama 5 tahun (dari tahun 1987 s/d 1992). Pada Oktober 1992, P. Jean Su­bra kembali ke Perancis de­ngan rencana menjadi socius magister novis di situ. Tetapi, karena kekurangan calon novis, akhirnya ia ditempatkan di “Notre Dame de Peyragude” tempat ziarah regional. Akhirnya, pada bulan Juni 1999, ia pindah ke rumah pastor jumpo di Pontmain, tempat penampakan Bunda Maria pada tanggal 17 Januari 1871. Di situ P. Jean Suibra meninggal pada tanggal 09 Februari 2000.

1988

Dari tanggal 28 September s/d 06 Ok­tober 1988, ketiga Delegasi OMI yang berada di Indonesia berkumpul untuk retret bersama selama 6 hari retret diteruskan dengan Kong­res selama tiga hari. Pastor Martin Roberge, Omi dari Kanada menjadi nara sumber kedua pertemuan ini yang berlangsung di Baturaden (Hening Griya)
Setelah P. Rene Colin telah selesai masanya (2 mandat), P. Bernard Keradec men­jadi Superior Delegasi yang baru, pada akhir tahun 1988.

Pada tanggal 28 Desember 1988, kami men­dapat kunjungan Pastor Marcello Zago, Su­perior Jendral. Dia ditemani oleh Pastor Ge­rard Laprise, Penasehat jendral untuk Regio Canada.

1989 – 1990: Ketegangan Kedua di Keuskupan Sintang

Ketegangan Kedua di Keuskupan Sintang (cf. Piet Derckx, SMM, hal. 202-205). Ketegangan tersebut sebenarnya “merupakan lanjutan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1985. Luka-luka lama yang diderita oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kemelut pertama ternyata belum sembuh benar”. Apa yang terjadi? Pada pertengahan tahun 1989, Mgr. Isak Doera ingin menggeser Pastor Mon­fortan yang bertugas sebagai Ekonom Keuskupan serta sebagai Ketua Komisi PSE (Delsos) dan sebagai Ketua Panitia Beasiswa. Hal yang berlarut ini, menyebabkan pihak awam mencampuri hal yang pada mulanya hanya perselisihan antar pribadi dengan pribadi. Pihak awam memihak entah ke­pada Mgr. Doera, entah kepada Pastor Eko­nom Keuskupan. Selama ini, Mgr. Doera tetap pada pendiriannya dan mengatakan, “Bagaimanapun Pastor Ekonom ini harus meninggalkan bagian keuangan”.

Suasana Keuskupan Sintang makin ti­dak menentu hingga bulan Maret 1990. Ketua Presidium KWI datang ke Pontianak untuk mengadakan pertemuan dengan semua pi­hak: Mgr. Isak Doera, Ekonom Keuskupan Sintang dan Vikjennya, hadir juga Mgr. Bum­bun, Ofm Cap, Uskup Agung Keuskupan Pon­tianak, para superior Kongregasi yang berkarya di Keuskupan Sintang, yaitu SMM, CM, OMI dan SVD serta utusan kaum awam dari Keuskupan Sintang. Diputuskan bahwa Mgr. Doera harus cuti untuk sementara waktu di luar Keuskupan Sintang dan bahwa selama ini Mgr. Bumbun akan menjalankan tugas kepimpinan rutin Keuskupan Sintang dan setelah berunding dengan pronuntio apos­tolik ia akan mengambil langkah-langkah yang tepat guna membenahi masalah Keuskupan Sintang.
Berkaitan dengan keadaan keuskupan ini, maka Mgr. Hieronimus Bumbun, Ofm Cap pada tanggal 4 Mei 1990, meresmikan dan memberkati Gereja Baru Santo Petrus dan Andreas di Lengkenat yang pada waktu itu merupakan Pusat Paroki Sepauk.

Bulan Juli 1990, Pastor Jean-Pierre Jar­dine, OMI, provinsial Perancis Timur da­tang ke Kalbar. Dengan dia, kami pergi ke Pusat Kateketik Keuskupan Agung Pontianak di Nyarumkop untuk retret dan pertemuan se­lama sepuluh hari. “Karam di laut masih tersisa bangkai; karam di darat tinggal arang hitam berserakan”.
Pada tanggal 1 Agustus 1990, Paroki Se­mitau mengalami musibah, yaitu kebakaran pastoran. Api berangkat dari rumah tetangga. 5 atau 6 rumah telah menjadi abu! Pada waktu itu Pastor Jacques sedang turne di Paroki Nanga Kantuk, pas di kampung Ensanak.Yang tinggal di pastoran pada waktu itu adalah Frater Ya­kobus Priyono, skolastik OMI yang baru mu­lai Tahun Orientasi Pastoralnya. Sebelum rumah pastoran dapat dibangun kembali Frater Yakobus Priyono dan P. Jacques sementara mendapat tumpangan di rumah ketua Dewan Paroki, Pak Fidelis Nilis yang meminjamkan 2 kamar dari rumahnya.

Pada permulaan September 1990, ber­langsung retret bersama anggota ketiga de­legasi yang dipimpin oleh Pastor Luc Tardif, Oblat dari Kanada. Pertemuan di Laverna Sanggau (Cf. Piet Derckx, SMM, hal. 212-213)
Pada tanggal 4 s/d 6 Desember diadakan pertemuan semua pastor keuskupan Sintang dengan kehadiran para uskup Kalimantan Barat di Laverna Sanggau untuk mencari jalan keluar kemelut di keuskupan Sintang yang berlarut, “Pastor A. Djitapandrija, SJ (Romo Djito) hadir sebagat juru bicara, pengarah dan pembimbing dialog.” Pastor Djito membantu agar semua segi yang menyebabkan kemelut dapat dibahas. Pada hari ketiga setelah dibahas tentang struktur keuskupan, para peserta rapat memilih staf keuskupan yang akan mendampingi Mgr. Isak Doera. Pastor Bernard Keradec, OMI dipilih sebagai vikjen, Pastor Stephanus Budhi Prayitno, Pr menjadi sekretaris keuskupan, dan Pastor Anton Ber­nard, SMM mengisi kursi sebagai ekonom keuskupan, Akhirnya pertemuan di Laverna Sanggau ditutup dengan Misa Rekonsiliasi yang dipimpin oleh Mgr. Isak Doera sendiri.

Pastor Bernard Keradec juga menjadi pastor paroki Katedral. Ia meneruskan per­luasan dan merehap Gereja Katedral. Peng­angkatan P. Bernard sebagai Vikjen dan Pas­tor Paroki Katedral mengakibatkan bebera­pa perubahan dalam penempatan personalia delegasi OMI Sintang. Paroki Melapi-Siut di­serahkan kembali kepada keuskupan. P. Lu­cien Bouchard kembali ke wilayah Bika di mana ia mengantikan P. Jean-Pierre yang akan pindah ke Dangkan-Silat.

Pada tanggal 29 Desember 1990, secara sederhana, kami merayakan 100 tahun ke­hadiran Gereja di Sejiram. Keadaan tegang keuskupan Sintang selama berbulan-bulan tidak memungkinkan membuat perayaan be­sar-besaran, P. Bernard memimpin Ekaristi dengan P. Jacques sebagai konselebran. Lebih dari 2000 orang telah hadir untuk bersyukur. Di Sejiram pada tahun 1891, pastor Jesuit (Pastor Looymans) membuka satu misi di tengah orang dayak.

Untuk kedua kalinya, pada permulaan Februari, P. Jean-Pierre Jardine, Pro­vinsial Provinsi Perancis Timur tiba di Kalbar bersama P. Jean Subra. Setelah beberapa hari di Bika, mereka datang ke Sejiram di mana kami mengadakan retret dan rapat.

Pada waktu P. Jacques cuti di Perancis, P. Jean-Pierre mendapat masalah sampai tidak melihat lagi. Dia kembali sesudah Paska da­ri paroki Dangkan-Silat hampir buta, dan terpaksa pergi berobat di Jawa sehingga seluruh wilayah Sejiram tanpa Pastor selama beberapa bulan. Pada waktu itu Duta Besar Vatican untuk Indonesia, Mgr. Petrus Jambi mengunjungi Paroki Sejiram., ditemani oleh Mgr. Isak Doera dan Pastor Budhi, pr.
Dari tanggal 06 s/d 11 Agustus 1992, di­adakan Konggres OMI di Sanggau dalam persiapan untuk para Oblat yang berada di Indonesia menjadi Provinsi.

Meskipun pertemuan rekonsiliasi di Laverna Sanggau, Mgr. Isak Doera masih tinggal di pastoran Sungai Durian dan belum pulang ke rumah kediamannya (Keuskupan), sehingga Piet Derckx, SMM menulis pada halaman 227: ”secara de facto yang memimpin Keuskupan selama itu adalah vikjennya Bernard Keradec.” Duta Besar Vatican berpesan agar Mgr. Doera secepatnya kembali ke rumah keuskupan dan mengadakan rapat staf setiap hari supaya urusan keuskupan dapat dibereskan secara bersama-sama. (?)
Sewaktu P. Jacques sedang cuti di Pe­rancis, bangunan pastoran Semitau yang baru sudah selesai didirikan dan dapat mulai dihuni pada tanggal 22 Oktober 1992.

Sesudah pentahbisannya (05 Oktober 1992), Pastor Heribertus Boedhy Priyatno datang menguatkan team pastoral Sejiram. Dipercayakan kepadanya, khususnya Paroki Santo Paulus Nanga Kantuk dan di Paroki Semitau pantai kiri mudik Kapuas. P. Jacques melayani Paroki Sejiram dan di Paroki Semitau pantai kanan mudik Kapuas. P. Jean-Pierre tetap pastor paroki Dangkan Silat.
Dari tanggal 06 s/d 11 Agustus 1992, sebagai tahap terakhir menjelang pem­bentukan Pro­vinsi OMI Indonesia, dilak­sa­nakan Kong­gres OMI di Sanggau (Kalimantan Barat).

PERIODE 1993 – 2012

1993

Pada 21 Mei 1993, ke tiga delegasi OMI yang berkarya di Indonesia (Australia, Perancis dan Italia), sesudah perjalanan yang panjang, menjadi satu Provinsi. Peresmian Provinsi OMI Indonesia dibuat di Yogyakarta. Dalam rangka ini, hadirlah Pastor Marcello Zago, superior jendral OMI.

Dalam wawancaranya kepada majalah Sabitah (hal. 49) P. Bernard Keradec menekan­kan bahwa di antara karya yang paling me­ngesankannya disebutnya: ”Pelayanan da­lam masa depan OMI Propinsi Indonesia. Saya berpartisipasi aktif dalam pembentukan OMI Provinsi Indonesia. Berdirinya OMI Provinsi Indonesia ini tentunya didahului banyak pembicaraan dan rapat kerja bersama para konfrater baik dari Indonesia maupun pihak Administrasi Jenderal di Roma.”

Pastor Jean-Pierre pindah ke Cengka­reng, paroki Trinitas, agar tinggal lebih de­kat dari Dokter Mata. Dia akan kembali ke Perancis pada tahun 1996. Sementara itu P. Boedhy menjadi pastor paroki Semitau dan Nanga Kantuk dan P. Jacques menjadi pastor paroki Sejiram dan Dangkan Silat.

Bulan Februari 1995 OMI meninggalkan Bika Nazaret, P. Rene datang kembali ke Sejiram sesudah 12 tahun di Bika. Pada bulan Mei menyusul P. Lucien Bouchard yang selama beberapa bulan akan membantu P. Rene di paroki Sejiram sebelum menjadi pastor paroki di Semitau

Setelah melepaskan diri dari tugas se­bagai Vikjen, dan mengakhiri masa kerja se­bagai pastor paroki katedral, P. Bernard kembali ke wilayah Sejiram sebagai pastor paroki Semitau. Karena keadaan di Keuskupan Sintang yang belum benar beres dan demi kebaikan Gereja setempat, maka Mgr. Isak Doera me­­nuliskan surat pengunduran diri yang disetujui pada tanggal 1 Januari 1996.

1996

Tahta suci yang sudah menerima peng­unduran diri Mgr. Isak Doera sekaligus meng­ang­kat pimpinan baru pada tanggal 19 Januari 1996, yaitu Mgr. Agustinus Agus sebagai Ad­ministrator Keuskupan Sintang.
Pada tahun 1996, P. Bernard Ke­radec diangkat menjadi rektor Wisma de Mazenod di Yogyakarta. Tugas ini, dilaksanakan se­lama dua masa bakti (2 kali x 3 tahun), artinya s/d tahun 2002. Pada waktu itu, ia ingin mengam­bil satu tahun sabatikal di Perancis. Na­mun se­lain men­jalankan pelajaran dengan meng­ikuti beberapa kuliah, ia juga diminta mempersiapkan Kapitel Jendral OMI yang akan diadakan pada tahun 2004, seba­gai “Commissioner of the Chapter”. (Cf. Communique-OMI No. 087 September 2002). Pastor Andre ditunjuk sebagai Superior Distrik mengganti Bernard.

1997

Januari s/d April, Pastor Boedhy pergi ke Salatiga selama 3 bulan, Paroki Na­nga Kantuk dikembali ke Keuskupan. Ketika ia kembali ke Kalbar, ia ditempatkan di Paroki Dangkan Silat dengan P. Jacques.
Pada tanggal 29 Juni 1997, tahbisan imamat P. Tarsisius Eko Saktio di Sejiram, oleh Mgr. Yulius Mencuccini, CP.
Tahun 1997, P. Markus Boli Witin yang di­tahbiskan di Banyumas, pada tanggal 4 Juli memperoleh Obediensi untuk Komunitas Distrik OMI Kalbar dan ditempatkan di Paroki Santo Petrus dan Andreas – Sepauk di mana Pastor Andre Hebting berkarya sendirian (sebagai pastor) sejak tahun 1977. Bulan September, Pastor Markus sudah datang di wilayah Paroki Sepauk.

1998

Setelah kesepakatan dengan Mgr. Yulius Mencuccini, CP, pada akhir tahun 1998, Pastor Provinsial OMI Indonesia, Pastor Mario Ber­toli serta Dewannya te­lah memutuskan pem­bukaan suatu paroki di Keuskupan Sang­gau, oleh Komunitas Distrik OMI Kalbar.

Pada tanggal 11 Oktober sore, saat dalam perjalanan pulang ke Sejiram, Pastor Heribertus Boedhy mengalami kece­la­kaan lalu lintas di dekat sim­pang Rom­beh. Meskipun telah diupayakan usa­ha-usaha me­dis untuk me­rawatnya, ia mening­gal pada tanggal 17 Oktober di Rumah Sakit San­to Antonius di Pontianak dan dimakamkan dua hari kemudian di Kaliori.

1999

Permulaan tahun 1999, Pastor Andre Heb­ting pindah dari Paroki Sepauk menuju Sanggau. Dipercayakan kepadanya Kecamatan Mukok, namun mengingat belum ada pas­toran, ia tinggal di sebuah rumah di timur Sanggau sambil melayani juga Umat Katolik yang di sekitarnya. Wilayah Mukok terhitung kurang lebih memiliki 17.000 penduduk. Mayoritas katolik, sedikit protestan; yang Is­lam tinggal di pantai Kapuas dan di lokasi transmigrasi. Paroki Mukok terdiri dari 25 kampung. Di wilayah itu mau masuk proyek perkebunan Kelapa Sawit.
Selama beberapa bulan Pastor Markus tinggal sendirian untuk melayani Paroki Sepauk. Baru di sekitar bulan Juli 1999, Pastor Tarsisius Eko Saktio, setelah dua tahun di Kaltim ditempatkan di paroki Sepauk untuk bekerja sama dengan Pastor Markus dalam pelayanan Paroki yang luas ini. Belum sampai 1 tahun meninggalnya Pastor Boedhy, paroki Dangkan Silat ditimpa oleh kecelakaan dan kematian katekisnya Pak Yulianus Jampang (08-09-1999).

2000

Setelah diangkat sebagai Uskup Sintang oleh Sri Paus pada tanggal 20 Oktober 1999, Mgr. Agustinus Agus ditahbiskan di Sintang, pada tanggal 6 Februari 2000 oleh Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ.

2001

Bulan Oktober, Peresmian dan Pember­katan Gereja dan Pastoran di Nanga Sepauk. Pada waktu itu diumumkan pertukaran antara Pastor Jacques dan Pastor Mar­kus. Pertukaran ini terjadi pa­da akhir bulan Nopember: Jac­ques pindah dari Paroki Dang­kan Silat ke Paroki Sepauk, sedangkan Pastor Markus pindah dari paroki Sepauk menjadi pastor paroki Dangkan Silat.

2002

Pastor Markus Boli Witin menjadi Su­perior Distrik OMI Kalbar sampai ke­matiannya.

2005

Tahun 2005 menjadi khusus untuk Komunitas Kali­mantan Barat dengan kepu­langan 3 anggotanya ke daerah asalnya, yaitu Pastor Andre Hebting yang diganti di paroki Mukok untuk sementara waktu oleh Pastor Eko, Pastor Bernard Keradec, dan Pastor Lucien Bouchard yang merayakan “Pesta Emas Imamatnya” di Semitau pada tanggal 17 Juni 2005 sebelum pulang ke Amerikat Serikat di mana ia berkarya di Paroki Kristus Raja di Miami (Florida) dari tahun 2005 sampai sekarang.

Setelah pulang ke Perancis, Pastor Andre tinggal di Vico (Corsica), tempat bersejarah di mana pernah hidup Pastor Charles Do­minique Albini, OMI. Sedangkan Pastor Ber­nard tinggal di Skolastikat Interpropinsi di Lyon. Di situ ia mendampingi para frater dalam studi mere­ka. Selama beberapa tahun da­ri Desember 2006 s/d Desember 2012, ia menjadi Wakil Direktor majalah “Spi­ritus”, majalah yang me­nyampaikan pengalaman-pe­­nga­laman missi­oner dan reflek­si theologik tentang Misi dan Evangelisasi. Pada ta­hun 2013, ia diangkat menjadi Superior dan Pembimbing Studi di Sko­lastikat Inter­propinsi OMI di Lyon.

2006

Pastor Rene Colin kembali ke Perancis pada permulaan bulan Agustus 2006 dan setelah mengikuti di Aix en Provence “de Mazenod Experience” di­tempatkan di Paroki Monsols (Keuskupan Agung Lyon). Dari situ ia melayani wilayah yang terhitung beberapa paroki sampai sekarang.

Pada akhir Agustus, paroki Santo Paulus Rasul Mukok di­kembalikan ke Keuskupan Sang­gau dan P. Eko Saktio kembali ke Sepauk sebagai Pastor Paroki dan koordinator Tim pastoral paroki

Pada bulan September dan bulan De­sember, diadakan pertemuan mengenai pe­na­naman dan okulasi pohon karet. Paroki berusaha pula untuk menyadarkan masyarakat tentang segi negatif dan bahaya Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Lingkungan Hidup.

2007

Pada tanggal 19 Februari, P. Markus meninggal dunia dalam satu kecelakaan lalu lin­tas. Pada waktu itu P. Mar­kus sedang pulang da­ri Sintang. Setelah beberapa urus­an di Ke­uskupan. Ketika melewati kampung Rombeh, saat ia siap mendaki suatu tanjakan, sebuah sepeda motor yang ditumpangi ti­ga orang muda menuruni tanjakan dari arah berlawanan lalu menabrak dia. Mi­sa Requiem pe­makaman dilak­sa­­nakan pada Ha­­ri Rabu Abu, tang­­gal 21 Februari 2007 di Gereja Katedral di Sintang. P. Markus dimakamkan di kuburan Menyurai (Sintang).
P. Eko menjadi Superior Komunitas OMI Kalbar mengganti P. Markus sampai sekarang.

2008 – 2011

Sejak Juli 2006, karya Anggota Distrik OMI Kal-Bar hanya meliputi Paroki St. Petrus dan Andreas–Sepauk dan Paroki St. Yohanes Penginjil – Dangkan-Silat. Kedua paroki ini masuk Wi­layah Keuskupan Sintang. Pada umumnya partisipasi umat ma­kin mening­kat. Umat dalam ke­dua paroki berpartisipasi se­cara signifikan dalam hidup meng­gereja. Se­lain terlibat dalam ber­bagai kegiatan gerejani, umat juga turut mendanainya baik dalam bentuk barang maupun uang. Mengingat lu­as­nya wilayah dan besarnya jumlah umat di kedua paroki ini OMI mengalami keterbatas­an dari segi tenaga. Pembinaan Kaum muda mendapat perhatian khusus. Jumlah peser­ta yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut cukup besar. Kegiatan pem­berdayaan Kaum Awam juga mendapat perhatian cukup (DPP Pleno, Nara Sumber KPP, Seksi Kateketik, Seksi Keluarga, Seksi Liturgi).

2012

Kunjungan dari Pastor Louis Lougen, OMI, su­perior Jendral ke­pada Komunitas Oblat dari Kali­man­tan Barat dari tanggal 22 s/d 24 Fe­bruari 2012. Pertengahan tahun 2012, P. Ignatius Wasono Putro pindah dari Paroki Dangkan Silat (Kalbar) ke Paroki Dahor di Balikpapan (Kaltim). Penggantinya ialah P. Antonius Sussanto OMI.

PERIODE 2013 – KE DEPAN

2013

Pada tanggal 16 Januari 2013, P. Jean-Pierre Meichel meninggal dunia di Brumath dan dimakamkan di Neunkirch (Bas-Rhin–Peran­cis).

2013

I. Sekarang Komunitas Distrik OMI Kalbar berjumlah 4 orang, yaitu:

  1. P. Tarsisius Eko Saktio (45 tahun): su­perior distrik
  2. P. Jacques Chapuis (72 tahun): benda-hara
  3. P. Simon Heru Supriyanto (43 tahun)
  4. P. Antonius Sussanto (37 tahun)

II. Komunitas OMI Kalbar berkarya di Ke­uskupan Sintang. Dua paroki dipercaya­kan kepadanya:

  1. Paroki Santo Petrus dan Andreas–Sepauk dengan tenaga: P. T. Eko Saktio dan P. Jacques Chapuis, sebagai Team Pastoral;
  2. Paroki Santo Yohanes Penginjil–Dang­kan-Silat dengan tenaga: P. S. Heru Supri­yanto dan P. Antonius Sussanto, sebagai Team Pastoral.

III.

  1. Paroki Sepauk; terdiri dari Kecamatan Sepauk.
    Luasnya : 1834 km2
    Penduduk : 50.000
    Umat Katolik (sensus kec./pengakuan): 25.000
    Umat Katolik (Baptisan): 15.197 (tahun 2011)
    Stas : 80.
  2. Paroki Dangkan-Silat terdiri dari dua Ke­camatan: Kec. Silat Hilir dan Kec. Silat Hu­lu.
    Luasnya : 2227 km2
    Penduduk : 30.9i6
    Umat Katolik (sensus kec./pengakuan) 11.606
    Umat Katolik (Baptisan):
    7151 (tahun 2010)
    Stasi : 49
    Nanga Sepauk, 12 Maret 2013

KEPUSTAKAAN

“Aku menyertai kamu senan­tiasa sam­pai kepada akhir zaman” (Mateus 28:20) Ke­nang­an dan Syukur – 50 Tahun Ge­­re­­ja Katolik Keuskupan Sin­tang.

Piet Derckx S.M.M: Sejarah dimulainya Montfortan Hidup dan Berkarya di Indo­nesia: Para Montfortan di Indonesia 1939 – 2005 (Bandung – Pusat Spiritualitas Marial – Jl. Gunung Kencana 8-10)

Sabitah (Media Komunikasi Umat Paroki Cengkareng) No. 50 – September-Oktober 2011, hal. 46 s/d 51

PAROKI SANTO PETRUS DAN ANDREAS SEPAUK

PERIODE AWAL

Sejak didirikan Pa­roki Sintang pada tahun 1931, sekali-sekali wila­yah kecamatan Sepauk pernah dikunjungi oleh Pastor Ka­pusin. Namun evangelisasi wilayah ter­sebut mulai secara teratur terjadi sesudah para mi­ssionaris pulang dari kamp tawanan Jepang di Ku­ching (Desember 1945 mereka kembali di Pontianak) dan kepada Pastor SMM kepada siapa baru dipercayakan wilayah Kapuas Hulu dan Sintang serta mendapat tambahan tenaga dari Provinsi SMM Belanda. (pada tahun 1946, 10 misionaris Montfortan datang dari Negeri Belanda).

Dari antara mereka, nama yang terke­nal di Paroki Sepauk dan dianggap sebagai perintis penyebaran agama katolik adalah Pastor Adrianus van der Vleuten, SMM yang berkarya sepanjang Sungai Sepauk dari tahun 1947 s/d 1950 dan setelah pindah selama empat tahun di Nanga Serawai kembali mon­dar-mandir di Sepauk dari tahun 1954 s/d 1969., entah berjalan kaki, entah mengunakan sampan.

Dalam arsip kunjungannya ditemukan nama beberapa kampung seperti: Engkelitau, Se­jamban, Ensibau, Galong, Banai. Pada masa itu didirikan tiga Sekolah Rakyat, yaitu di Nanga Libau, berdiri tahun 1948, Banai (La­yung), berdiri tahun 1951 dan Lepung Beruang (Temanang), berdiri tahun 1956. Sekolah-sekolah Misi ini dan guru-guru yang mengajar di situ mendukung perkembangan dan penyebaran iman akan Yesus Kristus di dalam Sepauk melalui anak-anak sekolah yang setelah tamat dan sudah dibaptis kembali ke kampung masing-masing.

Pastor Kees Smit, SMM menggantikan Pastor Adrianus van der Vleuten pada tahun 1969 dan bertugas di situ hingga tahun 1977. Selama beberapa bulan, pada tahun 1977, pelayanan di Sepauk dilakukan oleh Pastor Frans Luiten, SMM.

PERIODE 1977 – 2013

Mulai bulan September 1977, wilayah Sepauk dipercayakan kepada Pastor Andre Hebting, OMI. Pada waktu itu, dicatat Umat Katolik yang sudah dibaptis sebanyak 1.861 orang dan jumlah penduduk di kecamatan Sepauk kurang lebih 17.641 orang yang ma­yoritasnya masih animis.

Hidup mereka sebagai Umat Katolik ber­dasar tiga Pusat: Libau, Layung dan Temanang di mana ada sekolah Yayasan Sukma dengan biasanya seorang guru yang bertugas sebagai Pemimpin Umat. Umat rupanya membiasakan diri menerima saja dari pastor atau dari guru-guru, akhibatnya mereka kurang tahu tanggung jawab.

P. Andre mulai dengan memanggil ca­lon-calon Pemimpin Umat dari kampung-kam­pung, orang yang bukan guru sekolah, tetapi anggota umat biasa. Hasilnya: Pemimpin-pe­mimpin baru itu memimpin sembahyang hari minggu secara bergiliran di pusat. Pada hari minggu pun jauh lebih banyak orang ikut sembahyang.

Pada tahun 1978, tahun pertama P. An­dre berkarya di wilayah Sepauk, sebanyak 15 kampung baru minta dikunjungi dan masuk agama katolik. Yang memenuhi pikiran Andre selama ini ialah: Bagaimana umat di wilayah Sepauk bisa mandiri dan berkembang tanpa kehadiran seorang imam. Oleh sebab itu da­lam turnenya, P. Andre tidak melakukan lagi apa yang bisa dilaksanakan oleh pemimpin. Kepercayaan dari pastor kepada pemimpin-pemimpin menarik mereka mengambil bagian dalam tugas pastoral dan mereka lebih tahu bertanggung jawab.

Pada bulan Agustus 1979, Wilayah Se­pauk menjadi paroki, pada waktu peme­karan keuskupan Sintang menjadi 34 paroki. Sejak waktu itu, Lengkenat menjadi pusat paroki sekaligus tempat kediaman para pas­tor (Andre, Markus, Eko). Akhirnya pusat paroki dipindahkan ke pusat Kecamatan, Na­nga Sepauk (Tanjung Ria) pada bulan No­vem­ber 2001 setelah peresmian dan pem­berk­atan Gereja dan Pastoran (15 Oktober 2001).

Paroki Santo Petrus dan Andreas-Se­pauk, mencakup hampir seluruh kecamatan Sepauk, kecuali Desa Ensabang (yang masuk Paroki Santo Mikael–Tanjung Baung) dan Kampung Engkelitau (Desa Kenyauk) yang ternyata sejak dahulu dirangkap oleh pastor-pastor Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga–Sungai Ayak (Kabupaten Sekadau: Keuskupan Sanggau).

Paroki Sepauk melayani juga beberapa keluarga yang mayoritasnya, berasal dari kecamatan Nanga Taman (kab. Sekadau) dan yang berkemukinan di ujung jalan Kayu Lapis: yaitu di Nanga Meruat (km. 92) dan di Potik (km. 96). Kedua stasi ini sebenarnya, sudah dalam wilayah kabupaten dan keuskupan Ketapang.
Paroki Sepauk yang luas wilayahnya sebesar 1.833,92 km2 dikelilingi paroki-pa­roki sebagai berikut: Nanga Taman, Rawak, Sekadau dan Sungai Ayak (keuskupan Sang­gau), Tanjung Baung, Temponak dan Belim­bing (keuskupan Sintang), akhirnya Menyumbung (keuskupan Ketapang).

Menurut statistik Kecamatan, pada bu­lan Agustus 2011, jumlah jiwa di wilayah kecamatan, sebanyak 50.202, termasuk Is­lam: 15.679; Katolik: 24.865; Protestan: 9.503; Budha: 90. Kecamatan Sepauk dibagi secara administratif menjadi 40 desa (2013) dan 105 dusun. Paroki terdiri dari 81 stasi yang dikumpulkan menjadi 23 wilayah.

Pelayanan rohani di Paroki Sepauk di­perkuat oleh kedatangan dan kehadiran para Suster Cinta Kasih dari Santa Yohana Antida Thouret (Sdc). Mereka tiba pada bulan Mei 1980. Mereka membuka dua komunitas, yaitu di Temanang dan di Lengkenat. Kelompok pertama terdiri dari Sr. Jean Bernard Me­trailler, Sr. Leonarda Perini, Sr. Jean Paul Raimondi, Sr. Madeleine Ferrero dan Sr. Marie Gabriel Lonfat. Para suster aktif berturne ke kampung-kampung, mengajar, berkatekese dan mengobati orang.

Pada tahun 2009, rumah susteran di Leng­ke­nat mereka tutup karena mereka mem­­bu­ka rumah baru “Esperanza” di du­sun Sungai Rian (Sungai Raya Dalam), Se­­pauk.

Di sekitar tahun 1980, terjadi perubahan besar dengan masuknya Transmigrasi. Ada 7 SP di paroki Sepauk di mana masyarakat lokal (Dayak) campur dengan pendatang, yang adalah orang Jawa beragama Islam, se­hingga persen jumlah yang beragama Islam bertambah.

Perubahan besar terjadi juga dengan pembukaan PT Kayu Lapis. Pembukaan jalan Kayu Lapis memudahkan hubungan, yang dulu terbatas pada jalan sungai dan jalan tikus. Namun akibatnya kehabisan hutan dan pengaruh atas cuaca, atas pasang dan surutnya air sungai. Sekarang ini yang menjadi masalah, ialah perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit dengan juga akibatnya terhadap lingkungan hidup dan terhadap suasana di dalam masyarakat setempat, ada pro ada kontra.

Pertambangan emas selain jikalau mem­bawa hasil bagi sebagian dari yang pekerja emas, membawa juga dampak negatif: sungai tidak bisa lagi dipakai untuk minum, mandi dan berjalan dengan spid, atau di darat hanya tinggal pasir dan tanah gersang. Di antara Penjabat Pemerintah dan ma­syarakat biasa, tidak ditemukan banyak orang yang peduli tentang lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan, Meskipun telah dilakukan usaha-usaha paroki untuk menyadarkan me­reka tentang akibat perusakan lingkungan hidup. Mereka sudah mulai merasakan aki­bat-akibat dari perubahan-perubahan tersebut. Namun sudah terlambat. Di beberapa tempat air sungai tidak bisa digunakan lagi untuk konsumsi sehari-hari, entah karena parit emas: merkuri, entah karena kelapa sawit: pestisida, dan lain-lain. dan di beberapa kampung, masyarakat terpaksa membeli air untuk masak dan minum.

Demi mempertahankan ta­­nah milik me­reka dan demi masa depan, orang dianjurkan menanam kebun karet. Untuk membantu masyarakat dalam hal ini paroki pernah mengadakan kursus dan pelatihan okulasi. Peranan kaum awam cukup penting da­lam paroki. Hanya dengan 2 pastor untuk me­ngunjungi 80 stasi dan melayani lebih dari 15.000 umat adalah mustahil. Sebaiknya tiap Stasi mandiri mempunyai seorang pemimpin (atau diusahakan lebih dari satu) yang berperan memimpin sembahyang pada hari minggu dan dalam kesempatan lainnya; misalnya orang sakit, pemakaman, berkat, syukuran. Kepada Tim Pimpinan dipercayakan pem­­binaan para katekumen, persiapan orang tua yang mau membaptiskan anaknya, per­siapan komuni pertama dan krisma..

Tiap tahun diadakan Rapat Dewan Pas­toral Paroki pleno. Sayangnya tidak semua stasi yang diwakili: evaluasi dari tahun yang baru lalu dan tiap komisi membuat rencana kerja untuk tahun berikutnya. Hal itu merupakan pokok pembicaraan selama dua atau tiga hari. Pengurus Dewan Pastoral Paroki Inti dibantu dalam peranannya di tenggah umat oleh beberapa komisi: Litur­gi, Keluarga, Sosial, Kateketik; Kaum Ibu Katolik, OMK (Orang Muda Katolik), JPIC. Harus diakui bahwa beberapa komisi kurang aktif :

  • Komisi Keluarga, mengadakan Kun­jung­­an/retret ke kampung-kampung. dan meng­ambil bagian dalam Kursus Per­­siapan perkawinan. Dalam kursus ter­sebut kebanyakan nara sumber adalah orang awam.
  • Komisi Liturgi, mengadakan Kursus Pe­mimpin Sembahyang, latihan lagu rohani (Madah Bakti), latihan membaca ( lektor), persiapan Khotbah/Homili, dan lain-lain.
  • Komisi Kepemudaan: mengadakan per­temuan rutin, pertemuan dengan tema yang berkaitan dengan situasi di Kali­mantan Barat:, mis. ‘Selamatkan Bumi Kalimantan dari Kehancuran”. Beberapa kelompok perla ikut Retret Lima Hari (RELI) di Kaliori, termasuk sekali Reli dilaksanakan di Paroki Sepauk. OMK Sepauk cukup giat dalam mempersiapkan TERAMO (pertemuan OMK paroki-pa­roki OMI se-Indonesia), untuk kegiatan tersebut mereka menjadi Tuan Rumah pada tahun 2010 di Nanga Libau. Tujuan kegiatan-kegiatan OMK tersebut adalah mempersiapkan leader untuk masa depan.
  • Kaum Ibu Katolik (KIK) menjadi satu komi­si yang cukup aktif. Pernah mengadakan Pertemuan Ibu Katolik separoki (17-19 Februari 2012), sampai kurang lebih 400 orang ibu-ibu dari 44 stasi hadir. Maria Goreti, anggota DPD RI wakil rakyat dari daerah Kalbar menjadi pembicara dalam Temu Raya Ibu-ibu Katolik itu. Sekarang di beberapa stasi ibu-ibu mengadakan kegiatan bersama secara teratur.
  • Komisi Kateketik: pernah mengadakan pertemuan dengan pemimpin yang meng­ajar katekumen; ada dalam beberapa stasi “Sekolah Minggu” atau Pembinaan Iman Anak (PIA).

Hingga tahun 2013 ini, paroki St. Petrus dan Andreas–Sepauk telah menghasilkan lima orang imam, yaitu Pastor Sabinus Amir, pr (Sejamban), Pastor Leonardus Miau, pr (Nanga Pari), Pastor Samuel, pr (Bernayau), Pastor Adiantus, CP dan Pastor Cornelius, CP (keduanya berasal: Nanga Libau).

Masalah utama yang dihadapi OMI di sini ialah kekurangan tenaga. Beberapa stasi agak jarang di kunjungi; dalam hal ini keadaan jalan khususnya ketika baru hujan tidak mendukung. Jumlah kursus, penataran ter­batas karena kurang waktu dan tenaga untuk membina.

Nanga Sepauk, 18 April 2013

PAROKI DANGKAN SILAT

PERIODE 1977–1993

Pada tahun 1977 tujuh orang pastor OMI yang berasal dari Provinsi OMI Perancis (P. Jean Subra, P. Lucien Boucard, P. Jean Pierre Meichel, P. Rene Colin, P. Endre Hebting, P. Jacques Chapuis dan P. Bernard Keradec), yang sebelumnya berkarya di Laos, menerima tempat karya baru di Kalimantan Barat, khususnya di beberapa paroki Keuskupan Sintang dalam masa Mgr. Isak Doera.

Ketujuh Pastor OMI dari Perancis ter­sebut membentuk Delegasi OMI Kalimantan Barat. Mereka memulai karya dengan me­rintis berdirinya Komunitas Basis Kristiani di kampung-kampung pedalaman. Pada ma­sa awal kedatangan mereka, para Oblat ditempatkan oleh Mgr. Isak Doera bersama para pastor SMM di paroki Putussibau, Bika Nazareth, Sejiram, Benua Martinus dan Sintang. Mereka berkeliling mengunjungi setiap kampung dan melatih banyak pe­mimpin umat untuk bisa menjadi Gereja Lokal yang mandiri. Penanaman iman dalam bentuk katekese menjadi sangat penting bagi masyarakat Dayak yang masih sangat sederhana.

Bangunan-bangunan Gereja didirikan bersama umat (antara lain, gereja stasi Belimbing, Entibab, Riam Tapang, Bongkong, Keranjik, Rombeh dan puluhan gereja yang ada di stasi-stasi) dengan harapan umat sendiri dapat mengembangkannya di masa mendatang.

Di samping itu, asrama menjadi salah sa­tu sarana yang membantu anak-anak pedalaman yang belajar di kota-kota kecamatan. Mereka menempuh pendidikan di SMPN 1 kec. Silat Hulu dan SMAN 1 kec. Silat Hulu, SMPN 1 kec. Silat Hilir dan SMAN 1 kec. Silat Hilir.

Pada tahun 1979 didirikanlah Paroki Dankan Silat yang merupakan pemekaran dari Paroki St. Fidelis Sejiram. Dengan Surat Keputusan Uskup Sintang, Mgr. Isak Doera, No. 97/Par/1979, tertanggal 24 Agustus 1979, wilayah pelayanan Dangkan Silat berdiri menjadi Paroki tersendiri. Nama Pelindung Paroki ini adalah St.Yohanes Penginjil. Se­jak tahun 1979 sampai hari ini, Paroki St. Yohanes Penginjil Dangkan Silat dilayani dan digembalakan oleh para Pastor Misionaris Oblat Maria Imakulata. Berikut ini adalah para pastor yang pernah berkarya sampai dengan 1993 di Paroki St. Yohanes Penginjil Dangkan Silat

PERIODE 1993- 2012

Dalam mengembangkan karya pastoral di wilayah Dangkan Silat, para Misionaris OMI dibantu oleh beberapa katekis. Mereka yang pernah pernah mendukung karya pastoral di paroki ini adalah Katekis Yakub, Katekis Kusai, Katekis Fransikus Gah, Katekis Lambertus Lagao, Katekis Yokinson, Katekis Alex Dombut, Katekis Jumadin, Katekis Jampang, Katekis Linus Kuya dan Katekis Hendrikus Afo. Dua katekis yang disebut terakhir sampai saat ini masih berkarya di Paroki St.Yohanes Penginjil Dangkan Silat.

Wilayah Paroki St.Yohanes Penginjil Dangkan Silat meliputi 2 kecamatan yai­tu Kecamatan Silat Hulu dan Silat Hilir, Ka­bupaten Kapuas Hulu. Berdasarkan data Paroki Dangkan Silat Desember 2010, jumlah umat paroki ini sebanyak 8.815 jiwa, dengan rincian: Umat yang sudah dibaptis di paroki ini sebanyak 7.132 orang; Katekumen sebanyak 980 orang dan simpatisan berjumlah 703 orang. Umat yang telah menerima sakramen krisma di paroki ini sebanyak 2.918 orang. Pasangan suami istri yang telah menerima sakramen atau pemberkatan perkawinan secara katolik di paroki ini berjumlah 1.699 pasang. Mereka menetap di kampung-kam­pung yang tercakup dalam 49 stasi dan 2 Komunitas Katolik.

Stasi yang berada di wilayah Kecamatan Silat Hulu berjumlah 19 stasi (Stasi St. Petrus Riam Tapang, Stasi St. Eugenius de Mazenod Bangan Baru, Stasi St. Maria Imakulata Selangkai, Stasi St. Yoseph Landau Rantau, Stasi St. Dominikus Ng Suang, Stasi St. Lazarus Gedabang, Stasi Gembala Baik Perjuk. Stasi St. Yohanes Penginjil Pengga Putih, Stasi St. Theresia Inggut, Stasi St. Paulus Ng Pengga, Stasi St. Damianus Selimu, Stasi St. Lukas Ng Lungu, Stasi St. Antonius Pelanjau, Stasi St. Fransiskus Asisi Belimbing, Stasi St. Maria Panggung, Stasi St. Klara Kenual, Stasi St. Ignatius Loyola Lebak Tapang, Stasi St. Yohanes Penginjil Entibab, Komunitas Katolik Merambang (7 kk).
Stasi yang berada di wilayah Kecamatan Silat Hilir berjumlah 30 stasi. Ketigapuluh stasi tersebut antara lain adalah Stasi St. Anna Sauk Atas, Stasi St. Yoseph Semeluang/kempapak, Stasi St. Petrus Keranjik, Stasi St. Yakobus Rombeh, Stasi St.Lukas Bongkong, Stasi St.Yusuf Lubuk Resam, Stasi St. Matius Sungai Mali, Stasi St. Matias Seberu, Stasi St.Heribertus Sungai Jauh, Stasi Maria Mag­dalena Sungai Canggai, Stasi St Anna Sungai Sena, Stasi St. Thomas Aquinas Sungai Ringin, Stasi Keluarga Kudus Setunggul, Stasi Sang Penebus Miau Merah, Stasi St. Damian SP III Miau, Stasi Hatu Kudus Yesus SP IV Miau, Stasi Salib Suci SP V dan VI Miau, Stasi St. Agustinus Jelemuk, Stasi St. Veronika Engkaras, St. St. Thomas Rasul Ng Silat, Stasi St. Monika Salat, Stasi St. Petrus Kanisius Sentabai, Stasi St. Markus Jentu, Stasi Maria Bunda Allah Sungai Putat, Stasi Maria Imakulata PB Penai, Stasi St. Teresia Kecil Beran, Stasi St. Tadeus Keliling, St. St. Rafael Sungai Kuncit, Stasi Keluarga Kudus Tekalong jaya, dan Komunitas Katolik di dalam lahan sawit, Sungai Pengga (9 kk).

Wilayah yang sangat luas l.k. 2.240 km2 (l.ebih kurang seluas wilayah Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta) dan jumlah umat yang banyak (12.000 umat Katolik dari 32.000 warga 2 kecamatan) – bandingkan dengan data dari P. Jacques – dan tersebar tersebut , selama ini dalam setiap ”waktu karya pelayanan” hanya dilayani oleh 2 orang pastor dan 2 orang katekis part-time. Dengan demikian, Pelayanan Pastoral Paroki St. Yohanes Penginjil Dangkan Silat menghadapi beberapa tantangan: bagaimana mendorong dan menguatkan umat agar mereka dapat 1) mencapai kedewasaan iman dalam masing-masing jenjang hidup (anak-anak, remaja, dewasa dan keluarga, 2) mengembangkan inkulturasi iman katolik dalam budaya se­tempat; 3) menguatkan kemandirian da­lam tenaga dan finasial, dan 4) memiliki ke­sadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan hidup (akibat pengaruh keha­diran perusahaan kayu dan perkebunan sawit dan penambangan emas; 5) memilih dan menggunakan secara bijaksana hasil-hasil kemajuan teknologi masa kini (a.l. alat komunikasi). Kemudahan untuk mengakses informasi dan hiburan melalui media komu­niksi elektronik telah membawa budaya konsumtif di kalangan umat dan masyarakat. Hal merupakan masalah yang harus ditangani secara serius karena situasi baru ini bisa melahirkan masalah-masalah sosial yang lain.

Para pastor, pengurus dewan paroki St. Yohanes Penginjil Dangkan Silat dan para aktivis lainnya berusaha melakukan berbagai langkah pastoral untuk menanggapi tantangan-tantangan itu. Langkah pastoral yang dilakukan antara lain adalah turne ( turne adalah kegiatan rutin Pastor mengunjungi stasi-stasi. Perjalanan ini bisa berlangsung hingga 15 hari lamanya. Pastor berkunjung ke stasi-stasi untuk merayakan misa dan menjalankan tugas penggembalaan. Pastor bermalam di sebuah stasi, bisa semalam ataupun lebih tergantung pada kondisi cuaca dan kepentingannya. Perjalanan ditempuh secara estafet, baik dengan bersepedamotor, dengan perahu maupun berjalan kaki. Pastor biasa menyusun jadwal kunjungan ini untuk 2 bulan ke depan. Dengan cara ini umat bisa menyiapkan diri menyambut kedatangan gembala mereka).

Untuk meningkatkan kualitas SDM umat, paroki menyelenggarakan asrama putera dan puteri tingkat SMP dan sebagian kecil SMA (di Ng. Dangkan dan Ng.Silat), pelatihan, kursus, seminar dan penyadaran.
Pelatihan, kursus, seminar dan penya­daran yang diselenggarakan di Paroki St. Yohanes Penginjil Dangkan Silat antara lain adalah kursus liturgi dan musik liturgi ba­gi pemimpin ibadat untuk mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan pemimpin ibadat dalam memimpin ibadat di stasi-stasi; Kursus persiapan baptis bagi para pembina katekumen untuk mempersiapkan tenaga pengajar bagi para katekumen di stasi-stasi; Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) bagi para calon pasutri maupun mereka yang sudah menikah secara adat, guna mempersiapkan para calon pa­sutri agar mereka benar-benar siap menikah dan mem­bangun keluarga kristiani sejati dan memberikan peng­ayaan bagi yang sudah sekian lama menikah secara adat.

Paroki St. Yohanes Pe­ng­­injil Dangkan Silat ju­ga mengadakan kursus pen­­dam­­pingan iman anak ba­gi para pembina sekolah ming­­gu dan temu raya PIA untuk mempersiapkan dan me­ningkatkan kemampuan pen­damping PIA dalam pe­la­yanannya; Kursus oku­lasi karet unggul untuk me­ningkatkan kesejahteraan eko­nomi umat; Seminar ten­tang kelestari­an lingkungan hidup bersama WALHI dan Ko­misi KPKC keuskupan Sintang untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian umat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan hak-haknya sebagai ma­syarakat adat; Seminar Adat dan Gereja untuk menciptakan keselarasan dan kerjasama tim­bal balik antara para pengurus adat dan ge­reja dalam memelihara adat istiadat yang selaras dengan iman dan ajaran Gereja Katolik. GABURAKAT (Gawai Bujang Dara Katolik) OMK Dangkan Silat, Camping Rohani OMK dan Kaderisasi OMK untuk menyatukan visi dan misi OMK separoki, dan menanamkan jiwa kepemimpinan dalam diri OMK.

Akhir kata, kami sangat berharap pada Yang Empu­nya kebun dan ladang agar be­nih yang telah ditaburkan dan jatuh di tanah yang su­bur, akan tumbuh dan ber­kembang serta berbuah da­lam kehidupan Gereja di sepanjang sungai Silat dan anak-anak sungainya serta di sebagian Kapuas, dari bagian hulu dari Ng. Ketungau hingga sebelah hilir Seberuang.