Keuskupan Agung Semarang

Awal Mula Dimulainya Rumah Formasi OMI di Indonesia

Di Keuskupan Agung Semarang OMI mengelola dua rumah formasi , yaitu: Seminari OMI “Wisma de Mazenod (Condong Catur), dan Novisiat OMI “Beato Joseph Gerard” (Sleman). Berikut informasi singkat perihal kedua rumah formasi tersebut.

Para Oblat Delegasi Australia yang berkarya di Pulau Jawa sejak tahun 1971 melihat adanya peluang dan minat dari pa­ra pemuda asli Indonesia untuk menjadi Misionaris OMI. Tidak menyia-nyiakan kesem­patan dan atas restu dari Provinsial Australia, para Oblat Delegasi Australia di Pulau Jawa mulai mencoba mencari calon-calon Oblat asal Indonesia.

Pada tahun 1974, ada 2 pemuda yang bersimpati ingin menjadi OMI. Mereka adalah Thomas Sudiyono dan Cleophas Tintri Hadi Sumarto. Kedua pemuda ini mengenal OMI lewat Romo Patrick Moroney, OMI yang saat itu berkarya di Paroki St. Yosep, Purwokerto Timur. Mereka berdua kemudian belajar filsafat di Universitas Parahyangan dan tinggal di Seminari Tinggi Bandung sebelum masuk Novisiat.

Pada 15 Januari 1977 dibuka Novisiat OMI di Cilacap. Romo Petrus J. McLaughlin, OMI menjadi Magister Novis yang pertama, sedangkan Romo Carolus Burrows, OMI sebagai Socius. Dari 2 pemuda yang bersimpati dengan OMI, hanya 1 yang melanjutkan menjadi Novis yaitu Cleophas Tintri Hadi Sumarto. Novis pertama ini pun hanya bertahan 5 bulan karena keadaan tempat pendidikan yang tidak memungkinkan. Sejak pertengahan 1977 hingga 1980 vakum, tidak ada calon-calon Oblat asal Indonesia lagi.

I. SKOLASTIKAT OMI: “WISMA DE MAZENOD”

Pada tahun 1980, ada 8 pemuda Indonesia yang mencatatkan diri sebagai calon Oblat. Mereka tinggal dan belajar filsafat di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Di antara 8 calon Oblat ini, 4 di antaranya dapat terus melaju hingga tahbisan imamat. Mereka adalah: Romo G. Basir Karimanto, OMI (Oblat Putera Indonesia Pertama yang ditahbiskan 27 Februari 1987), Romo F.X. Rumiyanto G.S. (ditahbiskan 02 Maret 1988, di kemudian hari mengundurkan diri), Romo F.X. Sudirman, OMI (ditahbiskan 22 Februari 1990), dan Romo Nicolas Setia Widjaja, OMI (ditahbiskan 11 Februari 1991).

Delapan calon Oblat tersebut tinggal dan belajar di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta, dikarenakan para Oblat belum memiliki Rumah Formasi sen­diri. Mereka belajar filsafat sebelum menjadi Novis. Setelah menyelesaikan studi filsafat di Institut Filsafat Teologi, Kentungan, Yog­yakarta, Gregorius Basir Karimanto dan Yosef Nugroho menjalani masa Novisiat me­reka di Filipina (Mei 1981–Mei 1982).

Pendidikan calon Oblat dalam komunitas Imam Praja kiranya tidaklah menguntung­kan dikarenakan satu dan lain hal. Maka pada tahun 1981 dicapai kesepakatan untuk men­dirikan sebuah rumah formasi bagi para calon Oblat di Indonesia dan dipilihlah kota Yogyakarta. Dengan bantuan umat, di­peroleh tanah seluas 600 m2 di Desa Dero, Kelurahan Condong Catur. Pembangunan ru­mah pendidikan dimulai dengan peletakan batu pertama pada bulan Januari 1982. Dalam proses pembangunan tahap awal, diprioritaskan pada adanya bangunan pokok seperti kamar-kamar, dapur dan ruang cuci.

Pada Mei 1982 hingga 1983, calon Oblat Fransiskus Asisi Rumiyanto Goa Seputra dikirim ke Filipina untuk menjalani tahun novisiatnya. Sedangkan Estu Pratomo setelah menyelesaikan studi filsafatnya, kemudian menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Trinitas, Cengkareng.

Tanggal 29 Juli 1982 merupakan tonggak sejarah bagi Rumah Pendidikan OMI. Pada waktu itu terjadilah masa transisi bagi para calon Oblat Indonesia. 8 calon Oblat pindah dari Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta, begitu juga dengan 4 calon ba­ru dari Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Romo Yohanes Kevin Casey, OMI berpindah karya dari Paroki St. Yosef, Purwo­kerto Timur, untuk selanjutnya menjadi Rektor Seminari Tinggi OMI yang pertama. Juga terjadi pengangkutan berbagai perlengkapan rumah formasi, seperti misalnya sepeda, dari Cilacap ke Yogyakarta.

Pada waktu itu kapel, ruang makan dan garasi sepeda belum selesai sehingga 2 kamar digunakan sebagai ruang makan dan kapel. Sepeda disimpan di dalam kamar masing-masing, bahkan selama beberapa hari mereka harus mandi di sungai di belakang rumah pendidikan yang baru ditempati itu. Setelah kapel selesai di bangun, ruangan kapel pun dipakai multiguna, yaitu juga sebagai perpustakaan dan ruang kelas untuk belajar.

Pada tahun 1983, beberapa unit ba­ngunan penunjang lainnya telah selesai dikerjakan. Rumah Pendidikan OMI ini kemudian diberi nama ”Wisma de Mazenod” dan diberkati bertepatan dengan Pesta St. Laurentius Martir, 10 Agustus 1983, oleh Romo Austin Cooper, OMI, Provinsial OMI Australia saat itu.

Inilah para calon Oblat yang pertama kali menempati Wisma De Mazenod:

  1. Gregorius Basir Karimanto
  2. Yosep Nugroho
  3. Fransiskus Asisi Rumiyanto Goa Seputra
  4. Estu Pratomo
  5. Fransiskus Xaverius Sudirman
  6. Dominicus Dawi (Calon dari Delegasi Italia)
  7. Albertus Edi Warsadi
  8. Nicolaus Setija Widjaja
  9. Damianus Mulargono
  10. Wahyu Widodo
  11. Trias Dwi Nugroho
  12. Kuswondo

Seiring dengan perjalanan waktu, peng­huni Wisma de Mazenod terus bertambah. Tercatat di bulan Juli 1983 terdapat 8 calon OMI yang bergabung, begitu juga di bulan Juli 1984 ada penambahan 9 calon OMI lagi dengan 2 di antara calon-calon tersebut merupakan calon dari para Oblat Delegasi Italia yang berkarya di Kalimantan Timur. Para calon ini masuk program Pra-Novisiat selama 1 tahun dengan dibimbing oleh Romo Peter K. Subagyo, OMI yang baru tiba dari Australia di bulan Juni 1983. Para calon ini juga mengikuti kuliah di Institut Filsafat Teologi, Kentungan, hanya sebagai pendengar dengan mengambil beberapa mata kuliah saja.

Melihat perkembangan jumlah calon Oblat yang cukup baik, maka sejumlah pe­nambahan fasilitas penunjang pendidikan diadakan. Pada akhir tahun 1984, dibangun gedung pastoran sehingga Wisma de Mazenod membentuk komunitas sendiri yang disebut ”Komunitas Rumah Formasi”.

Romo Yohanes Casey, OMI yang menjadi Rektor pertama di Wisma de Mazenod kembali berkarya di Paroki Cilacap setelah 2 tahun bertugas di Yogyakarta. Pada Juli 1984, Romo Petrus J. McLaughlin, OMI menjadi Rektor kedua. Romo Paul Gwynne, OMI datang dari Australia dan masuk dalam Tim Formator Wisma de Mazenod, 1984-1986.

Setelah bangunan untuk Seminari Tinggi OMI mulai dipergunakan, maka di tahun 1985 didirikan di kompleks tersebut bangunan yang terletak di bagian sisi kiri sebelah utara Skolastikat OMI yang sekarang dikenal dengan sebutan Unit C untuk dijadikan Novisiat OMI.

Romo John O’Doherty, OMI yang sudah berpengalaman selama 9 tahun menjadi Ma­gister Novis di Australia mempersiapkan Novisiat OMI di Indonesia. Pada 15 Juli 1985, Komunitas Novisiat OMI yang bernaung di bawah perlindungan Beato Joseph Gerard mulai beroperasi dengan 12 Novis.

Karena kesehatan yang tak mengizinkan, Romo Paul Costello, OMI, salah seorang Tim Formator OMI yang bergabung pada tahun 1985, terpaksa harus kembali ke Australia. Beliau digantikan oleh Romo John O’Regan, OMI yang tiba di bulan Maret 1987.

Pada tahun 1988, datang Romo Jean Subra, OMI, salah seorang Oblat Delegasi Sintang yang berkarya di Kalimantan Barat. Hingga tahun 1992 Romo Subra menjadi Asisten Magister Novis. Kemudian Romo G. Basir Karimanto, OMI yang telah dipersiapkan untuk memperkuat Tim Formator OMI dengan mengikuti Kursus Pembinaan di Filipina menyusul masuk ke dalam jajaran Tim Formator OMI.

II. NOVISIAT BEATO YOSEPH GERARD (sejak 1990)

Pada tahun-tahun berikutnya direnca­nakan untuk memindahkan Komunitas Novisiat OMI di suatu tempat tersendiri, terpisah dari Komunitas Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod”. Maka sejak tahun 1990 mulailah dirintis pembangunan gedung baru untuk Novisiat OMI di daerah Dusun Blotan, Ngemplak, Wedomartani, Sleman, Yogyakarta – sekitar 2 km di sebelah utara dari Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod”.

Pada tanggal 25 Juli 1990, terjadi sejarah baru Komunitas Formasi OMI di Indonesia, yaitu dengan berpindahnya Novisiat dari kompleks Seminari Tinggi OMI untuk me­nempati bangunan khusus yang baru di Blotan. Pemberkatan Novisiat yang diberi nama Novisiat “Beato Joseph Gerard” ini dilakukan pada 06 September 1990 oleh para Superior Delegasi OMI yang ada di Indonesia saat itu, yaitu Delegasi Australia yang ber­karya di Pulau Jawa, Delegasi Perancis yang berkarya di Kalimantan Barat, dan Delegasi Italia yang berkarya di Kalimantan Timur. Sejak saat itu, keberadaan OMI di bumi Indonesia dapat dikatakan lengkap; proses pendidikan dilaksanakan sendiri dengan fasilitas baik infrastruktur maupun personel yang memadai.

A. GAMBARAN UMUM PROGRAM FORMASI DI NOVISIAT OMI “BEATO JOSEPH GERARD”

“Novisiat merupakan masa kandidat dibimbing ke dalam hidup religius sebagai Oblat, diarahkan menuju pembuktian diri secara umum di dalam Lembaga Hidup Bakti. Provinsial menerima pada kandidat masuk ke novisiat. Di bawah bimbingan Magister Novis, para novis berusaha memahami makna hidup yang dikuduskan. Dengan demikian mereka dapat melihat dengan lebih jelas panggilan Tuhan dan, dalam doa, mempersiapkan diri untuk menjawab panggilan itu.” (Konsitusi OMI No. 55)

Biasanya, para pemuda yang tertarik untuk menjadi calon Oblat akan memperda­lam pengenalannya dengan berkontak lang­sung pada Promotor Panggilan OMI baik lewat telepon, email, SMS, atau berjumpa. Ada juga program “Come and See” yang di­selenggarakan di Seminari Tinggi OMI, Con­dongcatur, Yogyakarta di setiap akhir tahun yang bertujuan memperkenalkan OMI dan karya misionarisnya. Masa perkenalan ini dilanjutkan dengan seleksi calon atau soli­sitasi yang meliputi: tes kepribadian dan kemampuan belajar, check-up kesehatan, serta wawancara dengan para Oblat dan pasangan suami istri terpilih. Kemudian calon yang terima akan dipanggil oleh Romo Provinsial untuk menjalani tahap berikutnya, yakni Novisiat I yang bertempat di Novisiat Beato Joseph Gerard di Blotan, Yogyakarta.

  1. TAHAP NOVISIAT I:
    “Kepada para kandidat yang menun­jukkan tanda-tanda panggilan, sebelum me­masuki novisiat, akan diberikan persiapan yang layak, atau di dalam komunitas atau elalui kontak-kontak teratur dengan para Oblat. Tujuan pengalaman ini ialah membantu mereka untuk memperoleh kematangan manusiawi dan Kristiani yang mutlak perlu agar novisiat menghasilkan buah, dan untuk membuktikan kesesuaian mereka bagi hidup sebagai Oblat.” (Konstitusi OMI No. 54).
    Pengenalan diri Who Am I? menjadi fokus utama. Para Novis Postulan akan dibantu untuk masuk dalam tradisi OMI dan Gereja, doa, refleksi dan praktek hidup berkomuni­tas. Mereka juga diutus untuk kembali ke “dunia” lewat masa probasi. Buahnya adalah kemantapan untuk memilih hidup religius. Kemantapan itu akan diwujudkan dalam Penerimaan dalam Novisiat II atau Novisiat Kanonik.
  2. TAHAP NOVISIAT II:
    “Dengan dibimbing oleh roh yang hi­dup dalam diri mereka, para novis tumbuh berkembang dalam persahabatan dengan Kristus dan secara tahap demi tahap, dengan berdoa dan beribadat, masuk ke dalam raha­sia keselamatan. Mereka membiasakan diri untuk mendengarkan Tuhan dalam Kitab Suci, menemuiNya dalam Ekaristi, mengenali-Nya dalam orang-orang dan peristiwa-peristiwa. Mereka juga menjadi biasa untuk memandang tindakan Allah dalam hidup dan perutusan pendiri, dalam sejarah dan tradisi Lembaga Hidup Bakti. Kesempatan-kesempatan untuk bekerja merasul di tengah-tengah lingkungan para Oblat memungkinkan mereka untuk memahami dengan lebih baik tuntutan-tuntutan panggilan sebagai misionaris dan kesatuan hidup religius apostolik.” (Konstitusi OMI No. 56)
    Dalam tahap ini, para Novis diajak masuk ke dalam pengenalan “Who Are We” dan “God I Community”. Para Novis didampingi untuk lebih mengenal dan mencintai Allah, Gereja, dan OMI, melatih keutamaan hidup berkomunitas, menggali sumber-sumber ro­hani dalam Ekaristi, doa hening, matiraga, dan refleksi dengan didampingi oleh pembimbing rohani. Semua itu dijalankan dalam waktu 15 bulan. Seluruh proses Novisiat II ini akan diakhiri dengan pengikraran Kaul Per­tama. Kemudian para frater calon imam akan meneruskan pengasahan dirinya di Skolastikat OMI, sedangkan para Bruder menempuh pendidikan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan Kongregasi.

B. GAMBARAN UMUM PROGRAM FORMASI DI SEMINARI TINGGI OMI “WISMA DE MAZENOD”

“Tahun-tahun skolastikat bertujuan mem­beri Oblat yang ingin menjadi imam pen­di­dikan intelektual dan persiapan umum yang diperlukan. Studi-studi mereka dida­sarkan pada pendidikan yang kokoh dalam bidang filsafat dan teologi. Para skolastik akan me­ngembangkan keahlian-keahlian mereka untuk mewartakan Sabda Allah secara efektif. Di ma­na pun para skolastik itu menjalankan studi­nya, sangatlah penting bahwa mereka hidup dalam komunitas Oblat dan mengembangkan semangat misioner. Mereka hendaknya juga dibimbing untuk menghargai kurnia imamat, karena melalui imamatlah mereka mengambil bagian secara istimewa dalam pelayanan Kristus sendiri sebagai imam, gembala, dan nabi.” (Konstitusi OMI # 66)

Setelah melewati tahap Perkenalan Awal, Novisiat I dan Novisiat II, seorang calon OMI yang disebut “Frater” akan melanjutkan pendidikan dan proses pembentukannya di dalam Skolastikat dengan tinggal di Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod”, Condong Catur, Yogyakarta. Para Frater akan kuliah di Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma.

Ada 3 tahap formasi di Skolastikat yang dijalankan untuk mencapai tujuan sesuai yang diharapkan dalam Konstitusi OMI No. 66 yang disebutkan di atas:

  1. STUDI FILSAFAT
    Dalam masa ini para Frater akan belajar filsafat untuk melatih cara dan daya pikir yang jernih dan kokoh sehingga mampu melihat, memahami, menilai, dan menyikapi pengalaman dan kenyataan hidup yang dihadapi. Studi selama 4 tahun ini mencapai puncaknya dalam kelulusan S1 Filsafat dari Fakultas Teologi Wedabhakti , Universitas Sanata Drama.
  2. TAHUN ORIENTASI PASTORAL
    Masa ini menjadi kesempatan bagi para Frater untuk hidup secara lebih nyata di tengah-tengah karya di daerah ia ditempatkan. Di situlah ia akan belajar hidup berkomuni­tas dengan Oblat yang telah berkarya dan juga bekerjasama dengan orang-orang di sekitarnya. Lewat program ini diharapkan para Frater dapat memperkuat daya in­telektual, mempertajam daya kreasi da­lam berpastoral, dan memperkaya ser­ta memperdalam daya seni hidup ber­ko­muntas. Dengan bimbingan dan pendam­pingan yang memadai diharapkan para Frater akan semakin mantap dalam hidup panggilannya dan semakin terampil dalam kemampuan berpastoralnya. Kemudian biasanya setelah 1 tahun para Frater akan pulang kembali ke Skolastikat dan melanjutkan belajar lagi.
  3. STUDI TEOLOGI
    Dalam masa 2 tahun, para Frater akan belajar ilmu teologi se­cara intensif. Selain itu, ia akan didam­pingi untuk semakin mantap dan bulat dalam keputusan untuk hidup religius. Kebulatan tekad itu akan diungkapkan dalam pengikraran Kaul Kekal. Dengan kemantapan untuk hidup religius dan bekal intektual-pastoral yang telah dipe­lajari serta persetujuan dari Pemim­pin Tertinggi, maka seorang Frater akan me­nerima Tahbisan Diakon dan kemudian Tahbisan Imamat.

Selesailah masa pendidikan pertama. Kemudian, Oblat muda ini akan mulai ber­karya sebagai Imam. Ia akan tetap belajar dan terus belajar untuk pertumbuhan pribadi dan rohaninya. Proses pendidikan seumur hidup ini biasanya disebut “on going formation programme” program formasi berkelanjutan yang akan terus berlangsung dan tak akan pernah berhenti sampai yang bersangkutan dipanggil ke surga untuk berjumpa dengan Bunda Maria dan hidup bersatu dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus untuk selama-lamanya.

Di samping studi akademik, beberapa aktivitas/program/acara yang biasa dijalan­kan di Wisma de Mazenod diharapkan dapat memproses para formandi dalam membangun hidupnya sebagai seorang religius OMI:

  1. Ibadat Harian, Meditasi, Liturgi Kreatif dan Misa Komunitas sebagai wahana eks­presi berliturgi yang bertujuan un­tuk mengokohkan hidup doa dan me­latih daya kreatif dalam merayakan iman secara bersama. Doa bukan hanya urusan pribadi, tetapi demi Gereja, demi kebersamaan sehingga dapat membantu sesama agar dapat berdoa pula.
  2. Evaluasi Liturgi untuk melihat hal-hal yang telah terjadi dalam liturgi selama 1 minggu, menemukan hal-hal indah yang diekspresikan, serta membantu se­sama untuk semakin serius, efektif, dan bertanggungjawab dalam berliturgi. Pro­gram ini rutin dilaksanakan pada Minggu malam selama maksimal 45 menit.
  3. Konferensi Rektor rutin dilaksanakan se­tiap Rabu malam. Selain untuk berbicara hal-hal harian, secara khusus dibahas te­ma-tema terencana yang kiranya penting didalami di luar bangku kuliah di Fakul­tas Teologi Wedhabakti, Universitas Sanata Dharma. Biasanya Konferensi Rektor di­lak­sanakan dalam Bahasa Inggris.
  4. Colloquium yang wajib bagi setiap For­mandi, dilaksanakan minimal 3 kali setahun, meski ada Pembimbing Roha­ni yang menemani kemajuan hidup For­madi. Secara pribadi para Formandi me­nyampaikan perkembangan hidupnya, baik studi, hidup rohani, kemantapan pang­gilan atau hal-hal lain yang aktual – kemudian Formator mengarahkan de­ngan memberi masukan baik berupa dukungan maupun fokus untuk diperhatikan oleh Formandi. Colloquium adalah bentuk pen­­dampingan (companionship) dalam formasi. Yang dituntut adalah keterbu­kaan Formandi yang sebenarnya secara tidak langsung mengungkapkan kuali­tas relasi Formandi-Formator. Formator yang terampil dan dekat/diterima oleh Formandi akan dapat lebih leluasa dalam mewancarai Formandi dan tentu memberi rasa aman bagi Formandi untuk terbuka dan demikian pula sebaliknya.
  5. Peer Evaluation biasanya dilakukan 2 kali setahun pada akhir semester dalam evaluasi Komunitas. Peer Evaluation sangat efektif dan sahih untuk mendapatkan gambaran figur Formandi di mata rekan-rekannya. Data-data yang terkumpul da­pat dipakai untuk menunjukkan kepada Formandi baik itu kekuatan maupun kelemahannya. Komentar teman biasanya tidak akan jauh dari kenyataan.
  6. Surat Formator adalah surat personal yang ditulis oleh Formator untuk masing-masing Formandi yang harus dijawab oleh para Formandi. Ini adalah bagian dari pendampingan pribadi (personal com­panionship), mengingat situasi tiap-tiap Formadi memang berbeda-beda se­hingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Oleh sebab itu, jika ada kasus khusus yang membutuhkan perhatian intensif, Formator bisa mengirim surat lebih dari 2 kali dalam setahun.
  7. Sharing komunitas adalah sarana bagi Formandi untuk berinteraksi secara for­mal dengan rekan sekomunitas dan se-tingkat dalam suasana serius dan saling menghormati.
  8. Seni bercerita, drama, musik dan menya­nyi adalah program yang nyaris hilang karena sedikitnya anggota Komunitas. Tujuan program ini adalah untuk me­ngem­bangkan ketrampilan humaniora dan mengasah hati.
  9. Khotbah dan renungan singkat berbahasa Inggris yang dilakukan masing-masing 2 kali dalam sebulan. Tujuannya untuk meningkatkan ketrampilan berkotbah dan memberi renungan. .
  10. Oblatologi sebagai pendalaman spiritu­alitas keoblatan dilaksanakan 1 jam setiap Sabtu ketiga dan 4 jam setiap Sabtu kelima.
  11. Pastoral Teritorial Pastoral Aksidental dilaksanakan minimal 2 kali dalam se­bulan berupa “tour” ke beberapa Stasi terpencil, atau mengajar SD-SMP, bim­bingan belajar bagi Kelompok Swadaya Perempuan (KSP), dan Bina Iman Anak. Sedangkan Pastoral Aksidental berupa menjadi pembimbing rekoleksi, retret umat, aksi panggilan, dan lainnya. Se­mua ini diharapkan dapat membantu me­ngembangkan rasa kegembalaan di da­lam hati para Formandi.
  12. The Cycle of Life (CoL) adalah program yang dijalankan untuk menghubungkan antara sampah dapur, kandang kambing, rumah sayur, kolam ikan, ternak ayam, dan budaya gresek (daur ulang barang bekas). Program ini sengaja diadakan untuk melatih kepekaan dan cinta ter­hadap lingkungan serta tanggungjawab terhadap hidup bersama. Lemahnya rasa cinta lingkungan dan kuatnya budaya instan serta penolakan akan semua yang rutin-lama-kotor, menggerakkan kami untuk berbuat sesuatu.
  13. Publikasi Majalah Caraka, media komu­nikasi skolastikat OMI sebagai ajang kreatif para skolastik dan juga sebagai ajang persaudaraan antara komunitas WDM, Kaum Muda, Keluarga dekat OMI, Sahabat Seminari dan (semoga) Provinsi OMI Indonesia.
  14. Rekreasi adalah program rutin komuni­tas setiap malam Minggu kelima untuk me­ningkatkan keakraban di dalam ko­munitas. Dari sharing para imam muda diketahui bahwa keakraban selama masa formasi akan terbawa terus dan dirasa sangat menguatkan pada masa-masa sulit yang dihadapi di komunitas karya.
  15. Skill Training adalah program untuk meningkatkan kemampuan dalam ber­bagai ketrampilan yang berguna untuk hidup seperti Public Speaking, Manajemen, Workshop Pembina Retret, Pertanian, dan bidang lainnya. Program ini dilaksanakan pada saat libur kuliah.
  16. English Intensive Program untuk memacu penguasaan satu dari tiga bahasa resmi yang dipakai oleh Kongregasi OMI. Pro­gram ini ditindaklanjuti dengan mem­buat Misa Bahasa Inggris sebanyak 3 kali dalam seminggu, bacaan berbahasa Inggris di refter, juga penyelenggaraan English Oblatology dan English Rector Conference.
  17. The Missionary Zeal dilaksanakan dengan mengutus para skolastik ke tempat misi OMI baik yang berada di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa. Sepulang dari pengalaman misi itu, dibuat evaluasi dan sharing yang juga dikisahkan dalam Majalah Caraka.
  18. Days of Personality yakni pengolahan bu­daya asal, ciri pribadi, test kepribadian, dan ditutup dengan kolaborasi pribadi untuk membangun hidup berkomunitas yang saling mengenal, menerima, dan memperkembangkan satu sama lain. Hal ini dibuat karena makin beragamnya asal budaya dari para formandi yang sekarang ada di Skolastikat.

Ada pula beberapa kegiatan yang me­rupakan perintisan baru tetapi sekarang sudah berjalan rutin dengan baik sekali:

  • Pelayanan Kaum Muda
    untuk mem­praktekkan spiritualitas Bapa Pendiri yang begitu menaruh perhatian pada ka­um muda, Skolastikat kini telah memiliki kelompok anak muda yang tergabung dalam HMKK (Himpunan Mahasiswa Katolik Kalimantan). HMKK adalah wa­dah bagi para mahasiswa perantauan Kalimantan yang ada di Yogyakarta. Mereka bebas “berkeliaran” di Skolastikat untuk sekedar berkumpul, berolahraga, latihan koor, bahkan juga terlibat dalam kegiatan kami seperti relawan Merapi, koor kaul kekal, jalan salib bersama, dan juga aksi sosial bersama. Komitmen kami terhadap HMKK adalah biarlah WDM menjadi rumah mereka di Yogyakarta, tempat mereka merasa nyaman, bisa berkumpul dan berkembang sebagai kaum muda Kristiani. Secara rutin 2 Skolastik menjadi pendamping untuk pelayanan ini.
  • Keluarga Besar OMI Yogyakarta
    wa­dah bagi kaum awam dan keluarga-keluarga mantan umat Paroki-Paroki OMI yang kini telah pensiun dan berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya. Sejak ta­hun 2005 mereka berkumpul di WDM untuk Misa Kudus, perayaan-perayaan syukur yang diselenggarakan WDM dan untuk bernostalgia, saling berbagi dan menemani para anggota Komunitas Wisma de Mazenod. Sejak tahun 2013 diselanggarakan arisan keluarga besar OMI untuk menjadi wadah pengikat persaudaraan. Ketua Keluarga Besar OMI pertama adalah Bp. YB. Agus Sudibyo sampai sekarang.
  • Penginapan WDM
    Sejak 2009 aula, taman yang hijau dan luas, dan Unit A-B kerapkali dipakai untuk kepentingan kelompok lain untuk menyelenggarakan kursus perkawinan, reko­lek­si, retret, seminar, work­shop, rapat, penginapan zia­rah, outbond dan juga pelatihan. Pe­makainya ada­lah kelompok-kelompok pa­rokial, sekolah-sekolah, pe­r­usahaan, dan juga Gereja-Gereja Protestan. Visi awal dari kegiatan ini adalah “aggiornamento” – membuka diri seluas-luasnya agar ada udara baru yang masuk dan semakin banyak orang mengenal OMI. Hasilnya sungguh luarbiasa, di luar perkiraan dan seringnya terjadi penolakan pemesanan karena kamar-kamar yang hampir selalu terisi semua.penginapan ini juga menjadi sarana nyata para frater dan bruder melatih diri untuk melayani orang lain dengan memberikan yang terbaik bagi para tamu.

Target dari Rumah Formasi tertuang secara menyeluruh dalam Visi dan Misi Rumah Formasi, seperti yang tercantum di atas dalam rupa ”pernyataan Komunitas Wisma de Mazenod”. Semua yang tertulis dalam Visi-Misi tersebut memang diterapkan dalam proses formasi. Untuk mempermudah menggapai terpenuhinya Visi-Misi tersebut, maka di setiap tahun dibuatkan arah formasi yang kontekstual dan terfokus. Arah itu diwujudkan dalam kata pengantar yang selalu dibuat oleh staf formasi dan disosialisasikan kepada formandi pada awal tahun ajaran baru. Beberapa contoh fokus formasi dalam 4 tahun terakhir ini adalah sebagai berikut:

  • Tahun 2009
    Memfokuskan pada tahun imam, semangat misionaris (spiritualitas utusan), cinta lingkungan dan discernment akan gaya hidup religius.
  • Tahun 2010
    Memfokuskan pada pendalaman hidup religius dan hidup berkomunitas, sebagai penanda kuat Misionaris OMI.
  • Tahun 2011
    Memfokuskan diri pada pengenalan diri, pelayan berpribadi integral, dan tetap memperdalam hidup berkomunitas yang makin terancam oleh gaya hidup zaman ini.
  • Tahun 2012
    Memfokuskan pada pengembangan 5 pi­lar formasi: hidup doa, hidup pribadi, hidup studi, hidup komunitas, dan hidup pastoral sebagai fondasi panggilan dan pelayanan yang bahagia, kaya dan ber­makna bagi sesama.

Dengan upaya penentuan arah setiap tahunnya ini, diharapkan formasi dapat ber­jalan dengan efektif, terarah, dan terencana. Arah formasi ini ditegaskan dalam evaluasi komunitas, konferensi, rekoleksi, dan juga secara informal melalui renungan liturgis. Sejumlah program dibuat untuk mendukung tercapainya arah formasi tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir ini Tim Formasi baik di Novisiat maupun di Skolastikat selalu berjumlah dua-dua: dua orang di Novisiat dan dua orang di Skolastikat. Pada awal tahun 2011 terjadi perubahan setelah Romo John O’Doherty. OMI kembali ke Australia. Pernah terjadi seorang Diakon (Diakon Antonius Sussanto, OMI) tinggal di Novisiat untuk menyelesaikan studi S2 sam­bil mengisi masa diakonat di paroki setempat. Selain itu, Imam student (Rm. Aloysius Wahyu Nugroho, OMI) menyelesaikan studi S2 Teo­logi dan tinggal di Skolastikat.

Kebutuhan untuk menyiapkan forma­tor lapis dua tetaplah penting dan sangat mendesak. Provinsi memiliki kewajiban un­tuk menyiapkan calon formator untuk waktu-waktu mendatang. Penting juga diberlakukan secara disiplin masa pelayanan di formasi sesuai dengan Surat Keputusan sehingga seorang formator dapat melayani secara lebih efektif, terencana, dan gembira.

Pribadi para formator juga perlu menjadi pertimbangan tersendiri. Formator yang ditugaskan bukan hanya ditunjuk, tetapi juga dipersiapkan karena hanya dengan persiapan yang cukup maka seorang formator dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Pemilihan pribadi ”formator yang tepat pada tempat yang tepat” pula akan sangat menentukan dalam pelayanan di formasi sehingga dapat menghasilkan buah yang maksimal. Kata orang: “Sebelum memformat orang, dirinya harus diformat lebih dulu!”. Formasi adalah bagian yang sangat penting dari Provinsi, karena formasi menjadi penentu kualitas para Oblat masa mendatang. Masa depan yang baik bermula dari persiapan masa sekarang yang baik pula.