“Kehangatan”

Refleksi Pendakian Gunung Sindoro Part IV

Oleh: Fr. Henrikus Prasojo, OMI (Sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Menengah Yuniorat OMI Beato Mario Borzaga, Cilacap)

Saya lupa menceritakan suatu bagian yaitu tentang keramahan keluarga Pak Manto, tempat kami menitipkan mobil dan juga beristirahat sebelum kembali ke Cilacap. Jujur saja, perjalanan menuruni gunung bukan perkara yang mudah karena beban tubuh dan perlengkapan yang kami bawa mendorong lutut kaki untuk bekerja lebih keras. Saya tidak terlalu yakin untuk langsung menyetir pulang menuju Cilacap dengan keadaan lutut yang masih bergetar ini. Untuk itu sebelumnya kami sudah menghubungi keluarga Pak Manto di dekat basecamp Alang-Alang Sewu ini untuk sekedar mengistirahatkan kaki sebelum kembali ke Cilacap.

Keluarga Pak Manto adalah keluarga Katolik yang sederhana. Ia tinggal bersama istrinya dan anaknya yang bungsu bernama Angel. Anak sulung mereka yang bernama Pegi sedang bekerja di salah satu Rumah Sakit di Purwodadi sebagai perawat. Sejak hari pertama kedatangan kami, keluarga pak Manto sangat welcome dengan kami. Keluarga ini memang sudah seringkali menerima kedatangan para biarawan untuk menginap di rumah mereka. Yang cukup sering mengunjungi mereka adalah para frater dan bruder MSC mengingat paroki mereka dilayani oleh para imam SCJ.

Rombongan Bersama Keluarga Pak Manto

Saya pun mengenal keluarga ini dari sahabat baik saya Br. Thio Batmaro, MSC. Dalam bayangn kami, kami hanya ingin singgah untuk sekedar mengistirahatkan kaki setelah melakukan pendakian Gunung Sindoro. Keluarga ini tidak hanya memberikan tempat untuk singgah, tetapi juga meminjamkan kami tempat tidur dan juga selimut untuk kami beristirahat pada malam hari. Bahkan sang ibu memasakkan makanan yang sangat bergizi untuk kami berdelapan.

Saya sendiri bertanya-tanya dalam diri saya, apa yang mereka peroleh dari kemurahan hati mereka? Apa mereka tidak takut merugi karena harus menerima kami orang yang tidak mereka kenal ini? Dan di situlah saya teringat kembali pengalaman kemurahan hati umat pedalaman ketika saya menjalani masa pastoral di Paroki St. Yohanes Penginjil Dangkan Silat, Kalimantan Barat. Tidak ada satu umatpun yang perhitungan dengan apa yang telah mereka berikan bagi rombongan Pastor dan saya yang saat itu berkunjung ke stasi-stasi di pedalaman Kalimantan sana. Sesederhana apa pun keluarga mereka, mereka tetap berusaha memberikan pintu rumah mereka terbuka bagi para pekerja Injil yang datang ke stasi mereka.

Seringkali hidup sebagai seorang biarawan adalah hidup yang terjamin. Allah selalu menjamin kehidupan para biarawan dalam kesehariannya. Saya juga menemukan kemurahan hati Allah ini melalui keluarga pak Manto. Di satu sisi saya merasa amat bersyukur atas kemurahan hati keluarga ini, tetapi di sisi lain saya merasa sungkan juga dengan perlakuan yang kami terima. Untuk itu, pada sore hari setelah kami selesai mandi dan bersih-bersih diri, kami bersama keluarga pak Manto Ibadat Sabda bersama sebagai keluarga. Saya masih membawa beberapa keping Sakramen Maha Kudus yang saya bawa dari Cilacap. Kami bersama-sama mengadakan ibadat Sabda komuni, merenungkan Sabda Allah, berbagi sukacita dan permenungan selama perjalanan mendaki gunung, dan mendoakan keluarga serta umat stasi Taroangro ini.

kapel adorasi Taroangro

Saya tahu bahwa saya tidak bisa memberikan apa-apa bagi keluarga ini dalam rupa materi, namun saya bersyukur atas panggilan ini, sehingga saya bisa membawakan sesuatu yang mungkin tidak mereka setiap hari yaitu Sabda Allah dan juga peneguhan rohani bagi keluarga. Doa bersama keluarga ini menjadi momen yang istimewa juga bagi kami untuk bersama-sama merasakan “Kehangatan Kasih Tuhan” yang hadir di tengah-tengah kami. Adanya sukacita dalam perjumpaan dan juga sharing kisah kehidupan, menjadi tanda kehangatan Allah itu hadir di antara kami.

Saya tidak tahu bagaimana membalas budi seseorang dengan materi, tetapi secara spiritual dan hidup iman, ini adalah sebuah panggilan yang melekat dalam diri saya sebagai seorang yang terpanggil menjadi biarawan. Kemurahan hati yang kami terima tentu tidak untuk kami salah gunakan, tetapi menjadi sebuah pengalaman iman untuk semakin bersyukur kepada Allah sang sumber cinta, yang memberikan teladan cinta kasih yang luar biasa.

Pada malam hari, kami menyempatkan diri untuk berdoa di Taman Rohani Anggrung Gondok, Wonosobo yang dikelola oleh para misionaris MSC. Selain berdoa secara pribadi, rombongan kami juga mendengarkan sharing panggilan dari Br. Thio MSC dalam perjalanan menapaki panggilannya. Meskipun berbeda dalam kharisma, tetapi tetap dalam satu spiritualitas yaitu Yesus Kristus. Sharing dari bruder meneguhkan panggilan kami, di mana kami diajak untuk selalu terbuka terhadap bimbingan Tuhan yang memanggil kami.

Sharing Panggilan di Kapel Adorasi Taroangro bersama Br Thio MSC

Pagi menyingsing, kami mempersiapkan diri untuk pamit dari dataran tinggi Wonosobo ini, kembali ke Cilacap. Kami siap untuk pulang, dan sudah tidak sabar lagi untuk membagikan kisah sukacita kami dalam kebersamaan mendaki Gunung Sindoro. Terima kasih Tuhan untuk segala pengalaman rohani yang boleh kami terima selama perjalanan ini, perjumpaan kami dengan Engkau yang hadir dalam rupa keindahan alam dan keramahan hati umat-Mu. Semoga nama-Mu semakin dimuliakan dan berkat-Mu semakin kami sadari dalam kehidupan kami. Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata.

Taroangro, 14 April 2021

+Rabu Pekan II Paskah+

Fr. Henrikus Prasojo, OMI