Financial Sustainability Adalah Salah Satu Misi Para Oblat

Para Oblat Muda yang mengikuti Workshop Financial Sustainability


Pengelolaan keuangan menjadi hal yang sangat penting demi terlaksananya misi Oblat. Dengan keuangan yang ada misi dapat dijalankan. Dengan keuangan yang ada para oblat dapat melayani yang tak terlayani. Hal ini ditegaskan lagi dalam dokumen kapitel umum ke-36, khususnya pada bagian VI: Mission and Finance. Secara spesifik hal itu dipaparkan dalam dokumen no. 85, yang mengatakan bahwa finansial merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan karya kita sebagai seorang Oblat. Kita semua sebagai Oblat diajak untuk menyadari hal ini, dan memeriksa sejauh mana kita bisa menangani berbagai sumber daya yang kita miliki demi kebaikan misi kita bersama.

Dengan alasan itu, workshop financial sustainability pun diadakan di Rumah Retret Maria Imakulata, Kaliori, Banyumas mulai tanggal 15 sampai 17 Juli 2020. Pemberi materi dalam workshop ini adalah Rm. Yohanes Damianus, OMI selaku bendahara OMI Provinsi Indonesia, serta diikuti oleh para frater dan bruder dari skolastikat OMI, Yogyakarta. Dalam workshop ini hadir juga Rm. Antonius Widiatmoko, OMI selaku rektor skolastikat, Rm. Aloysius Wahyu Nugroho, OMI dan Rm. Bernardus Agus Rukmono, OMI.

Tujuan dari diadakannya workshop ini adalah untuk menyiapkan para skolastik dan bruder sebagai masa depan kongregasi dalam mengenal berbagai karya yang ada serta menumbuhkan sense of belonging dan sense of responsibility terhadap karya OMI sebagai karya bersama. Para frater dan bruder diajak untuk menyadari karya OMI yang begitu besar demi melayani orang-orang miskin. Tentunya, karya-karya itu tidak ditujukan semata-mata demi mendapatkan uang, tetapi diarahkan kepada tujuan yang lebih mulia, yaitu demi pelayanan. Itulah yang terus menerus ditekankan oleh Rm. Damianus selama workshop ini berlangsung.

Dengan adanya workshop ini pula, para frater dan bruder diajak untuk menyadari perutusannya selama ini, baik itu dalam bidang studi maupun divisi-divisi yang ada di skolastikat. Semua itu bertujuan untuk menyiapkan mereka menjadi penerus OMI provinsi Indonesia yang hebat dalam menangani provinsi. Maka, sudah seharusnya perutusan-perutusan itu dijalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Demi mencapai tujuan-tujuan itu, dalam workshop ini para frater dan bruder dibagi ke dalam kelompok-kelompok karya. Ada empat kelompok yang ada, yaitu kelompok peternakan, kelompok Gua Maria, kelompok rumah retret, serta kelompok pendidikan. Tugas dari kelompok-kelompok ini adalah menganalisa setiap karya yang menjadi fokusnya dengan metode analisa SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats). Setelah menganalisa, masing-masing kelompok diminta untuk membuat perencanaan pengembangan karya-karya yang ada beserta financial planning-nya.  

Demikianlah workshop ini berlangsung selama tiga hari dengan segala dinamikanya. Tentu harapan yang terkandung dalam tujuan-tujuan diadakannya workshop ini harus terus digaungkan dan dijadikan harapan bersama. Kita semua berharap OMI provinsi Indonesia dapat terus berkarya di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, demi tujuan mulia pelayanan-pelayanan kepada mereka yang paling miskin dan tak terlayani. Dengan itu nama Allah semakin dimuliakan, kebaikan Gereja semakin dijunjung, serta keselamatan jiwa-jiwa semakin diutamakan.

LJC et MI.

Dinamika dalam workshop

Kesan Pesan dari para Skolastik:

Fr. Agung, OMI: Kehidupan yang realistis jangan sampai menghalangi untuk bermimpi dan bervisi besar. Kebutuhan anggaran OMI Indonesia sangat besar, tetapi jangan takut untuk berinvestasi demi masa depan yang lebih baik.

Fr. Togar, OMI: Workshop dikemas dengan data real lapangan, menggambarkan dinamika karya provinsi OMI Indonesia walau sebagian kecil saja. Semoga workshop seperti ini bisa diselenggarakan kembali. Terima kasih kepada Rm. Damianus atas materii dan nilai-nilai yang diberikan.

Fr. Wendi, OMI: Saya terbuka terhadap wawasan pengeloloaan keuangan kongregasi OMI. Butuh kerja sama masing-masing unit dan semua para Oblat untuk saling mendukung visi misi OMI. Pengelolaan keuangan adalah salah satu misi yang harus dijalankan setiap oblat, tidak bisa dipisahkan.

Fr. Paiman, OMI: Saya merasa senang, sukacita karena diajak untuk bertumbuh dalam wawasan. Saya ditantang untuk menjadi pribadi yang produktif bagi orang lain, khususnya bagi kongregasi walaupun masih di tahap formasi.

Fr. Markus, OMI: Workshop Financial Sustainabilitymembantu sayamelihat beberapa karya OMI dengan managemennya. Workshop ini membekali saya untuk menghadapi karya misi. Hal terpenting yang saya dapat adalah segala misi dan karya OMI didasari oleh semangat pelayanan, bukan oleh karena lain.

Fr. Bene, OMI: Saya mendapatkan pola pikir yang baru, tetapi tidak semudah membalik telapak tangan. Saya terdorong untuk berusaha keras untuk berfikir kreatif dalam menjalankan ketaatan, dalam bermisi, dalam berjalan bersama kongregasi. Saya harus menemukan cara-cara terkini, pada saat ini, demi menyongsong masa depan yang lebih baik, walau dalam tahap formasi.

Fr. Evan, OMI: Workshop Financial Sustainability sungguh menarik. Saya semakin dekat dan tahu akan karya Oblat yang sesungguhnya. Menjadi oblat harus bisa merancang Financial Sustainability, strategic planning dengan analisisSWOT dan financial planning dalam bermisi. Saya semakin tertantang untuk menjadi Oblat yang siap untuk menjalankan karya misi.  

Fr. Rico, OMI: Semoga workshop ini dapat dilaksanakan secara rutin agar saya juga merasa menjadi bagian dari Kongregasi. Saya terdorong untuk menemukan aset dalam diri saya (skill, leadership, talent, relationship, networking) agar lebih mudah menemukan aset di luar diri saya. Big dream, big effort, big result.

Fr. Thomas, OMI: Workshop Financial Sustainability memberi gambaran baru melihat misi yang sudah dimulai di Seminari Tinggi OMI. Tantangan bukan menjadi halangan, tetapi menjadi kesempatan (opportunities) demi mengembangkan misi demi orang miskin.

Fr. Frans, OMI: Romo Damianus, OMI memberikan pengalamannya dengan sangat baik sehingga membantu saya mengenal kongregasi, hal ini sejalan dengan apa yang sedang berlangsung di komunitas. Workshop ini menjadi jalan untuk lebih mensyukuri segala karya yang sudah dilakukan oleh para oblat perintis misi Indonesia.

Fr. Natan, OMI: Workshop yang sangat menarik. Saya bisa mencicipi bagaimana komunitas Oblat mengelola karya dan bekerja sama, termasuk kesulitannya dalam menyusun financial planning. Terima kasih.

Fr. Prasojo, OMI: Sangat bermanfaat demi persiapan menjalani misi yang sesungguhnya.

Fr. Suni, OMI:Ada banyak karya menanti dan perlu ditangani dengan professional demi melayani yang tak terlayani.

Beberapa para Oblat yang mencermati karya Oblat dengan metode SWOT