DONOR DARAH WUJUD PEMBERIAN DIRI

Fr. Frans Yulianto dan para frater OMI lainnya

“Semangat merasul kita ditopang oleh pemberian seluruh hidup melalui Oblatio, sebuah persembahan diri yang terus-menerus diperbaharui dalam tuntutan-tuntutan perutusan kita.”

Konstitusi OMI no. 2

Untuk ke-5 kalinya selama masa pandemi covid-19 , komunitas Seminari Tinggi OMI melaksanakan donor darah. Para petugas Palang Merah Indonesia (PMI) datang ke Seminari. Beberapa waktu yang lalu ditandatangani Perjanjian Kerjasama antara Seminari Tinggi OMI ‘Wisma de Mazenod’ dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman, pada tanggal 19 September 2020, dengan Nomor MoU: 191/STOMI/IX/2020 dan 21/020503/PKS/IX/2020. Menurut keterangan PMI, Seminari Tinggi OMI adalah institusi keagamaan Katolik pertama di wilayah Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) yang mengambil inisiatif untuk membuat MoU dengan pihak PMI.

Kegiatan donor darah terbaru dilaksanakan pada tanggal 09 Januari 2021 dan diikuti oleh sebagian besar anggota komunitas yang terdiri dari para romo, frater, bruder, dan karyawan Seminari Tinggi OMI secara antusias. Turut bergabung juga dalam kegiatan ini para pranovis OMI. Tidak semua anggota komunitas dapat lolos tes donor darah karena berat badan kurang, Hb rendah, atau sedang minum obat. Namun jumlah yang tidak dapat donor darah lebih sedikit daripada yang dinyatakan lolos tes.

Fr. Suni sedang melaksanakan tes tekanan darah

Saat ditanya mengenai motivasi mengapa donor darah, Fr. Frans Yulianto OMI menjawab, “Ada orang yang hidup matinya tergantung pada ketersediaan darah, mereka yang menderita kelainan darah, mereka yang harus melakukan tindakan medis karena sakitnya, dan lain-lain. Dengan ikut donor darah saya, saya berharap dapat mendukung perjuangan hidup saudara-saudari yang tidak saya kenal itu…”.

Fr. Evan Pabubung, OMI saat ditanya apakah tidak khawatir dapat tertular covid selama proses donor darah ini, menjawab, “Saya tidak khawatir karena selama ini kita melaksanakannya dengan mengikuti protokol kesehatan secara ketat. Kita semua menggunakan masker, handsanitizer, dan saya lihat para tugas PMI yang datang juga disiplin dengan prokes tersebut. Sejauh ini aman-aman saja, dan ini sudah yang kesekian kalinya kita melaksanakan donor darah di masa pandemi covid-19. Semoga Tuhan melindungi kita semua, dan memberkati niat baik kita.” Pendapat pribadi kedua frater kiranya juga mewakili pendapat para anggota komunitas Seminari Tinggi OMI dan Pranovisiat OMI. Wajah-wajah syukur dan gembira menyertai proses donor darah.

Setiap dua bulan sekali PMI datang ke Seminari Tinggi OMI

Muncul pertanyaan, dari manakah asal dorongan/keberanian untuk donor darah ini? Saat banyak orang mungkin merasa cemas dan takut untuk keluar rumah karena covid, para Oblat muda ini justru mempersilahkan para petugas medis PMI untuk datang ke komunitas. Dorongan itu kiranya berasal dari dalam, mengalir dari pengalaman rohani komunitas.

Hampir setiap hari kami mendoakan kata-kata ini, “….Tuhan Yesus, Engkau memberikan hidupMu untuk kami semua dengan cinta yang tak terbatas dan tanpa syarat… Melalui kesedihan, kesepian, penderitaan dan kematian banyak orang di dunia ini [khususnya saat pandemi covid-19 ini], tunjukkanlah kepada kaum muda satu-satunya hal yang penting dan abadi, yaitu pemberian diri untuk melayani sesama, bukan ketenaran atau kekayaan ataupun kesuksesan…”.

Satu-satunya hal yang penting dan abadi adalah pemberian diri untuk melayani sesama…

Doa Panggilan bagi Kongregasi OMI

Demikianlah kira-kira yang ada dalam hati para Oblat muda ini, semangat pemberian diri, semangat Oblatio, semangat yang mengalir dari teladan pemberian diri Tuhan Yesus sendiri. Semoga menjadi berkat dan sukacita bagi banyak orang, terutama di masa pandemi ini.

Komsos Seminari Tinggi OMI