DOA NOVENA PANGGILAN OBLAT (HARI KETIGA-23 MEI)

“Kelembutan”

Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Santo Lukas

(Lukas 15:11-14;17-24)

Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

https://assetsnffrgf-a.akamaihd.net/assets/m/1102014686/univ/art/1102014686_univ_lsr_xl.jpg

Kita dapat dengan mudah membayangkan bahwa yusuf menemukan dalam diri Tuhan seorang sosok “Bapa yang lembut terhadap anak-anaknya”. Untuk alasan ini, Yusuf terus berusaha mencari dalam hidupnya untuk mengantarkan kelembutan yang sama kepada Yesus, melalui perannya sebagai seorang ayah. Dengan kelembutan inilah Yesus memperhatikan yang miskin dan yang terabaikan, tanpa takut menyentuh mereka dalam kelembutan mereka, tanpa malu memandang kelemahan manusia hingga pada titik di mana Ia sampai mati di kayu salib.

Paus Fransiskus menulis: sejarah keselamatan dikerjakan “dalam harapan melawan pengharapan” (Rom 4:18) melalui kelemahan kita. Kita terlalu sering berfikir bahwa Tuhan bekerja hanya melalui kelakuan kita yang baik saja, namun sebagian besar rencana-Nya terwujud dalam keburukan dari kelemahan kita[..] karena ini adalah bagian dari keseluruhan kebutuhan keselamatan, kita harus belajar untuk melihat kelemahan kita dengan belas kasih yang lembut.[…] kelembutan adalah cara terbaik untuk menyentuh kelemahan dalam diri kita.”

Dalam panggilan mereka, orang-orang muda dapat melihat pribadi yusuf sebagai model yang meskipun memiliki keterbatasan, sejarah, dan peran sebagai ayah, ia terus mengandalkan rahmat Tuhan yang seperti kisah sang bapa dalam perumpamaan, yang dengan belas kasih dan kebenaran datang kepadanya, memulihkan martabatnya, dan membuatnya kembali berdiri. Seperti halnya Yusuf, pada zaman ini, Tuhan terus menggunakan diri kita untuk turut menorehkan goresan kehidupan di halaman sejarah keselamatan manusia.

Karisma berbicara kepada kita:

Ingatlah bahwa kamu dikirim bagi orang yang berdosa, dan bahkan ke orang yang sangat berdosa […] kita adalah para pelayan belas kasih Allah, dan karenanya marilah kita selalu memiliki kelembutan seorang ayah bagi semua orang; marilah kita dengan mudah melupakan penghinaan yang terkadang datang terhadap kita dalam menjalankan pelayanan kita karena Tuhan ingin melupakan pelanggaran yang terus-menerus terjadi terhadapnya. Ayah dari anak yang hilang tidak puas dengan mengenakan jubah terbaik dan cincin di jarinya, tapi dia juga menyembelih anak lembu yang gemuk itu. Dengan cara yang sama, kita tidak hanya harus mendamaikan orang-orang berdosa, tetapi dalam sudut pandang semua rahmat yang diberikan kepada mereka selama berjalannya misi, jaminan kesetiaan mereka untuk menanggapinya dan upaya yang harus mereka lakukan untuk semua ini, kita memasukan mereka ke dalam perjamuaan suci, kita akan memberi mereka makan roti kehidupan sehingga mereka dapat maju di jalan hidup baru yang harus mereka ikuti, dan dan pada saat yang sama dapat memenuhi tugas penting yang mendesak mereka.”

Mari kita berdoa semoga kita dapat mengikuti teladan Santo Yusuf, pelindung Kongregasi kita, selama tahun khusus yang di dedikasikan untuknya ini, agar orang-orang muda selalu menjadi saksi hidup akan kelembutan Bapa, yang menyambut dan mencintai saudara atau saudarinya yang mereka temui dalam perjalanan mereka.

Bapa Suci

Kami datang kepada Engkau karena Yesus meminta kita untuk berdoa agar Engkau mengirimkan para pekerja ke panenan mu. Oleh karena itu, kirimkanlah kami para pemuda yang murah hati, yang mengabdi kepada Yesus, bersedia membuat seluruh hidup mereka menjadi persembahan total kepada engkau, untuk menjadi dekat dengan yang paling miskin dan terabaikan, untuk mewartakan injil, semoga mereka semangat dalam api berkobar yang sama dengan santo Eugenius. Semoga juga mereka menjadi bagian dari keluarganya. Dan dengan semua oblat,semoga kiranya meraka melanjutkan penebusan, ibu Maria yang tak bernoda, yang pertama memberikan Yesus kepada dunia. Bersama dengan kita di saat kita berdoa.

Terjemahan oleh Yr. Fabio Ernesto (Yuniores Kelas 2)