DOA NOVENA PANGGILAN OBLAT (HARI KEENAM-26 MEI)

“Keberanian yang Kreatif

https://parokicikarang.or.id/po-content/uploads/All_Post_Image/renungan_20_08_02_01.jpg

Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Santo Yohanes

(Yoh 6: 4-9)

Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?

Berapa kali kita menemukan diri kita dalam situasi ini? Pada Satu sisi ada “kerumunan besar” yang kelaparan, di sisi lain hanya ada “lima roti dan dua ikan “. Apa yang harus kita lakukan? Kita perlu keluar dari logika kuantitatif kita. Kita harus membiarkan diri kita tergerak dan merespon dengan berani dan kreatif. Dalam kata-kata Paus Fransiskus, “Situasi ini muncul secara khusus dalam langkah-langkah kita berhadapan dengan kesulitan,” seperti halnya tukang kayu di Nazaret, “Yang mampu mengubah masalah menjadi peluang dengan selalu percaya pada adanya Penyelenggaraan Ilahi”. Seperti anak laki-laki dalam Injil yang menawarkan sedikit yang dia miliki sehingga mungkin menjadi banyak bagi banyak orang, begitu juga St.Yusuf, pria yang menawarkan seluruh dirinya untuk berani merawat anak dan ibunya di awal kisah penebusan dan memberikan apa yang dia bisa.

http://orangmudakatolik.net/wp-content/uploads/2021/02/santo-Yusuf.jpg

Kita mungkin mengira tidak cukup mampu, tetapi sering, “Kesulitan menghadirkan sumber-daya sumber-daya yang kita pkir tidak kita miliki sebelumnya”. Mukjizat sehari-hari dapat terbukti apabila kita memikirkan sungguh-sungguh saat kita mengutarakan sebuah kata, dan megucapkannya dengan sikap penuh kasih, “Berilah Makanan” bagi jiwa-jiwa yang hadir di sekitar kita! Di salah satu bagian spesifik tentang kisah hidupnya, Yusuf dipanggil untuk menerima kehendak Tuhan, untuk merencanakan, bekerja, dan menemukan cara untuk menyimpan serta menjaga hartanya. Kita juga dengan keberanian, kreativitas,dan keberanian missioner, dapat mengambil apa yang kita miliki dan memberikannya demi keselamatan jiwa-jiwa yang lapar akan Yesus Kristus. Melihat keberanian Yusuf, kita menyadari bahwa itu adalah sebuah masalah dalam mempertimbangkan segala sesuatu, mencoba dan mencoba lagi, menemukan, dan menemukan kembali cara-cara untuk beradaptasi dengan orang baru, tempat-tempat tertentu, dengan sebuah kemendesakkan  dan bukan yang lain. Ini adalah pertanyaan tentang kesediaan untuk bertindak dalam rahmat ilahi, yang dapat melakukan segalanya jika memperoleh segalanya dari kita, bahkan jika itu tampak kecil bagi kita.

Karisma berbicara kepada kita:

Ini bukanlah suatu ekperimen untuk dicoba. Anda harus pergi ke sana dengan tekad teguh untuk mengatasi semua rintangan, pergilah ke sana untuk tinggal dan berakar di sana! Bagaimana bisa kamu ragu? Misi apa  yang lebih indah dari ini! […] Bawalah semua keberanianmu dalam tanganmu sendiri… hanya dengan demikian kamu akan membawa bagi dirimu berkat dari Tuhan.

Ini hanya masalah menggandakan semangat seseorang. Ingatlah kembali waktu itu, ketika kita baru berjumlah empat orang, demikianlah Kongregasi dimulai dan kita memberi kesan yang baik tentang diri kita sendiri. Sekarang giliran Anda untuk menunjukkan diri Anda sebagai orang yang murah hati dan giat. Seseorang tidak boleh mundur dari pekerjaan, jangan pernah terintimidasi. Tuhan yang baik selalu ada untuk menginspirasi kita dan Bunda kita yang terpuji hadir untuk membantu kita.

Di hari-hari Novena untuk Panggilan Oblat ini, kita berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Santo Yusuf agar dia dapat mengilhami hati banyak orang muda untuk ingin menjadi anak kecil dalam Injil, dalam sedikit roti dan ikan itu, dia membawanya , dan berani memilih untuk mempercayakan semua yang dia miliki ke tangan Yesus agar bisa diubah menjadi makanan bagi banyak orang.

Terjemahan oleh Yr. Marvinio Andhika (Yuniores Kelas 2)