DOA NOVENA PANGGILAN OBLAT (HARI KEDUA-22 MEI)

“Cinta Kasih”

injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Santo Lukas

(Lukas 10:21:24)

“Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Setiap panggilan muncul dari kasih Tuhan, setelah seseorang mengenal kasih Bapa yang luar biasa. Hanya dengan memandang kasih yang disediakan Tuhan bagi kita, kita dapat mencintai semua orang. Mungkin saja saat jauh kita bisa kembali kepadaNya, karena kita merasakan di dalam hati kita rasa kasih yang tidak terbatas dari cinta tersebut. Bisa jadi sepanjang hidup kita, kita telah mersakan kasih Tuhan melalui lingkungan tempat tinggal kita dan orang-orang yang dekat dengan kita. St. Yusuf dari Nazaret peduli pada Maria dan Yesus. Dia adalah teladan bagi sang Juruselamat. Dengan cinta, kelembutan, kerendahan hati, dan ketaatannya, dia peduli akan Yesus dan membuat hidupnya berkembang di tahun-tahun awal saat itu. Dalam keheningan St Yusuf menunjukkan betapa dia peduli dan ingin memastikan bahwa Yesus dapat bertumbuh dan pergi untuk membawa terang Allah bagi dunia. Di setiap kisah ada Bapa tercinta yang mengikuti teladan ini. Sama seperti St. Yusuf peduli akan Yesus bersama dengan Maria dalam kesederhanaan di Nazareth, demikianlah kita memohon kepada Tuhan yang Maha Baik agar kita juga diberikan kesederhanaan untuk dapat peduli kepada orang-orang yang di sekitar kita. Mungkin di dalam diri mereka ada tunas seperti ini, dan suatu hari nanti mungkin mereka akan mengingat kita sebagai Bapa yang terkasih, sama seperti St. Yusuf dikenang oleh orang banyak.

Karisma berbicara kepada kita:

Pendiri kita melihat di dalam diri Don Bartolo Zinelii ada sebuah sosok Bapa yang menjaganya selama masa pengungsian di Venesia. Untuk mengenang momen itu, St. Eugenius menulis:

“jika saya menghubungkan fakta-fakta ini, itu hanyalah untuk menghayati betapa banyak rahmat yang saya terima sejak masih anak-anak, dan seberapa dalam saya harus merendahkan diri hanya karena saya tidak memperoleh manfaat yang lebih besar darinya. Semenjak saat itulah saya menekuni panggilan saya untuk menjadi seorang klerus dan mungkin pada tempat yang lebih sempurna lagi.”

O Zinelli yang terberkati. Apa yang akan terjadi kepada saya apabila kamu tidak ada? Tidak ada yang bisa memahami kesan mendalam yang tersisa di hati saya karena tindakan kemurahaan hatinya yang membuat saya berhutang budi atas segala hal-hal baik yang saya terima hal itu menjadi sumber formasi pertamaku dan juga menjadi sebuah arahan yang membuat orang pilihan Tuhan ini memberikan semangat bagi saya dan juga jiwa muda saya .

Sumber: https://i0.wp.com/www.katedralpangkalpinang.com/wp-content/uploads/2020/12/prayer-in-honor-of-the-holy-family-1.jpg?resize=697%2C440&ssl=1

Marilah kita berdoa agar, seperti teladan Santo Yusuf, kita bisa menjadi peduli kepada orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga dengan bantuannya mereka dapat menjadi buah yang memperindah  Sang Pohon Kehidupan  yaitu Yesus.

Terjemahan oleh Yr. Fabio Ernesto (Yuniores Kelas 2)