BUNDA MARIA

Sebuah Pengantar Singkat Tentang Maria

Lukisan Bunda Maria menyimpan segala perkara
dalam hatinya, karya Howard Lyon.

Apakah umat Katolik menyembah Bunda Maria?

Penyembahan hanya ditujukan kepada Tuhan, hal ini disebut Latria. Berdasarkan tradisi iman para Santo-Santa, kita memberikan porsi penghormatan kepada Maria seperti Allah memilih Maria sebagai Ibu dari Anak Allah. Penghormatan para kudus yang menjadi patron kekudusan disebut dulia.
Penghormatan yang diberikan kepada seseorang melebihi ciptaan lain adalah hyperdulia, ini hanya diberikan kepada Bunda Maria karena tiga alasan. (1) Hanya Bunda Maria yang penuh dengan Rahmat. Lukas 1:26-38 menarasikan tentang malaikat Tuhan memberi pesan kepada Maria bahwa Tuhan memberikan rahmat kepada Maria. (2) Hanya Maria yang berkaitan secara langsung dengan persatuan kodrat manusia dan Allah (hypostatic), yaitu persatuan dengan Yesus Kristus. Dalam buah rahim Perawan Maria, kita akan menemukan sukacita dan keselamatan. (3) Maria mempunyai Fiat yang konstan terhadap kehendak Allah. “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Lukas 1:38), adalah pernyataan dirinya sebagai hamba Allah, ketaatan total kepada kehendak Allah.
Bunda Maria mempunyai tempat istimewa dalam iman Gereja Katolik dan mempunyai 4 dogma, walaupun narasi Kitab Suci tidak menceritakan banyak tentang Bunda Maria. Begitu juga perumusan dogma Maria mempunyai rentang waktu perumusan yang cukup panjang, karena yang ingin ditonjolkan adalah Yesus Kristus. Dogma-dogma tersebut sudah diimani oleh Gereja Perdana dan Umat Allah sebelum adanya diresmikan. 4 dogma yang diberikan oleh Bunda Maria adalah:

  1. Maria Bunda Allah (Theotokos) dinyatakan pada Konsili Efesus tahun 431
  2. Maria Perawan Abadi dinyatakan pada konsili Lateran tahun 649
  3. Maria Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa (Imakulata) dinyatakan dalam Konstitusi Apostolik “Ineffabilis Deus” oleh Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1854.
  4. Maria diangkat ke surga (Assumpta) dinyatakan dalam Ensiklik Munificentissimus Deus oleh Paus Pius XII tanggal 1 November 1950.

Apa Peran Bunda Maria hingga saat ini?

Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru karena membawa Yesus dalam rahimnya, melahirkan Penyelamat, sekaligus menemani Yesus dalam karya keselamatan Allah. Sejak Yesus berkata, “Ibu inilah anakmu!…dan kepada Yohanes, “Inilah Ibumu!”, maka Bunda Maria memiliki peran yang lebih besar bagi umat manusia dalam karya keselamatan Allah. Karya keselamatan tersebut sedang berlangsung hingga saat ini yang ditandai dengan pemahaman iman Umat Allah, pemahaman yang terus berkembang seperti dogma-dogma di atas. Beberapa contoh peran Bunda Maria sebagai rekan kerja Sang Penyelamat adalah sebagai berikut:

St. Dominikus dan Rosario

Ilustrasi St. Dominikus yang menerima pesan dari Bunda Maria
untuk mewartakan doa Rosario.

Tahun 1214, Dominikus berada dalam dosa berat karena bidaah dari kaum Albigensia dan menjadi contoh yang buruk kepada Umat Allah. Dia menangis selama tiga hari sambil memukuli dirinya sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosanya. Tindakan mortifikasi Dominikus menyebabkan dirinya jatuh koma. Ketika koma, Dominikus melihat Maria. Maria yang hadir dengan tiga malaikat bertanya, “Dominikus yang terkasih! Tahukah engkau senjata ampuh yang dipakai Tritunggal Mahakudus untuk membaharui dunia ini?…. Kalau engkau mau memenangkan jiwa-jiwa kaum beriman yang bersikap keras, dan memenangkan jiwa-jiwa mereka bagi Allah, maka wartakanlah Mazmur Malaikat.” Mazmur itu disebut sebagai Rosario, doa Salam Maria yang diulang-ulang. Setelah bangun dari koma, Dominikus mengajari doa Rosario kepada kaum Albigensia yang belum bertobat. Doa Rosario dikenal sejak saat itu dan tetap berlangsung hingga saat ini. Doa Rosario adalah doa yang kuat karena peran Bunda Maria yang ingin melindungi anak-anaknya yang masih di dunia.
Ada banyak peran Bunda Maria yang dapat kita temukan sejak kenaikan Yesus Kristus, termasuk menemani Para Rasul untuk berdoa sehingga hadir Roh Kudus turun pada hari Pentakosta. Melalui Maria, Yesus memasuki dunia pertama kalinya, dan melalui cara yang sama, Yesus akan datang kedua kalinya (St. Louis de Monfort). Inilah peran penting yang sedang dilaksanakan oleh Bunda Maria hingga saat ini, yaitu mempersiapkan Umat Allah yang masih dalam peziarahan di bumi agar kita umatNya pantas menyambut kehadiran Yesus. Kita dapat menemukan banyak peran Maria di dunia yang sudah dan sedang berlangsung hingga saat, melalui berbagai penampakan, melalui pesan-pesan penguatan, pertobatan, agar hidup dalam doa, bahkan memberi ramalan seperti yang dialami oleh Lucia di Fatima, Bernadette Soubirous dari Lourdes, dll. Maka, banya para kudus yang mengajak Umat Allah untuk berdevosi kepada Bunda Maria (melalui Rosario, Novena Salam Maria, dll) agar Bunda Maria menolong kita dalam hidup beriman kepada Yesus.

Penampakan di Guadalupe

Gambaran penampakan Maria
kepada Juan Diego

9 Desember 1531, Juan Diego melihat penampakan perempuan muda di lembah Tepeyac dekat Meksiko. Perempuan tersebut meminta untuk didirikan gereja di tempat tersebut. Juan Diego kemudian menyadari bahwa perempuan tersebut adalah Bunda Maria. Tanda yang diberikan kepada Juan dari Sang Perawan adalah kesembuhan paman Juan Diego.
12 Desember, Juan Diego mendaki bukit yang tandus, tetapi di puncak banyak mawar segar berembun dan wangi. Bunda Maria memberikan mawar-mawar ini kepada Diego untuk menjadi bukti penampakan Bunda Maria bagi Uskup Juan de Zumarraga. Diego membawa mawar-mawar itu di hadapan Uskup dan mawar-mawar itu berjatuhan ke lantai dan membentuk lukisan Bunda Maria. Gua Maria Guadalupe adalah salah satu tempat ziarah Katolik yang paling banyak dikunjungi di dunia. Perawan Maria dari Guadalupe juga dikenal sebagai “Patroness of the Americas”, “Empress of Latin America”, dan “Protectress of Unborn Children”.

Perawan Maria dari Fatima

Suster Lucia bersama Paus Yohanes Paulus II

13 Mei 1917, Lucia Santos (10 tahun) bersama Jacinta dan Francisco Marto sedang menggembalakan domba di Cova da Iria dekat desa Fatima, Portugal. Lucia mendeskripsikan penampakan sebagai, “perempuan lebih terang dari cahaya matahari”. Sang Bunda yang memegang Rosario berkata, “Jangan takut, aku tidak akan melukaimu.” Lalu mereka bertanya, “Dari mana asalmu?”. Bunda Maria menjawab, “Aku datang dari surga.”, sambil menunjuk ke arah langit.
Dalam percakapan di antara mereka, Bunda Maria berpesan untuk mendaraskan doa Rosario demi perdamaian dunia dan demi berakhirnya perang. Selain ilustrasi di atas, masih banyak sejarah santo-santa dari berbagai penjuru dunia yang mengungkapkan peran Bunda Maria.

St. Eugenius Bersama Bunda Maria

Marie Rose Joannis (ibu St. Eugenius) mempunyai doa favorit, yaitu devosi kepada Bunda Maria. Eugenius saat berusia 17 tahun berada di Palermo selama tahun 1799-1802, sudah mempunyai perspektif Bunda Maria berdasarkan Kitab Suci bahwa Maria selalu ada bagi Yesus dalam karya keselamatan. Tahun 1805, Eugenius mempertimbangkan bahwa pada hari “Maria diangkat ke surga” bukan hanya sekedar “pesta”, maka dia memulai harinya dengan menyanyikan Lauds (doa pagi) di gereja Notre-Dame, Paris. 12 Oktober 1808, St. Eugenius masuk ke Seminari St. Sulpice di Paris. Beliau mendapatkan peneguhan dari Spiritualitas St. Sulpice bahwa, “untuk menghormati Maria, berarti mengkontemplasikan hidup Yesus bersama Maria, seperti Yesus hidup dalam diri kita dan Bunda Maria”. Ekspresi yang tepat menggambarkan spiritulitas Maria yang Kristosentris adalah doa O Jesu vivens in Maria. Eugenius mendaraskan doa rosario setiap hari, mengawali latihan rohani dengan doa Veni Sancte dan Ave Maria, kemudian menutupnya dengan doa Sub tuum.
Selama retret dalam rangka persiapan tahbisan imamatnya, dia memahami bahwa Maria adalah model orang kudus yang harus dicontoh dalam mencintai Tuhan, contoh pemberian diri secara total. 21 Desember 1811, Eugenius menerima tahbisan imamat, Januari 1812 memulai tugas di Seminari St. Sulpice. Homili pada saat itu, beliau menjelaskan Maria sebagai Yang Tak Bernoda, Bunda Allah, dan memberikan sedikit penjelasan tentang Maria diangkat ke surga.

Bunda Maria dan Kongregasi OMI

Bunda Maria Imakulata ciri khas OMI

Eugenius pertama kali menggunakan nama “Missionaries of Provence” untuk Kongregasi yang didirikannya. Nama ini menjadi tidak relevan ketika Kongregasi mulai berkarya diluar perbatasan Provence. Eugenius mempersiapkan audensi di hadapan Paus untuk mengganti dengan nama Kongregasi Oblates of Saint Charles di tahun 1825. Beliau kemudian menambahkan petisi yang disiapkan tanggal 8 Desember dan diberikan kepada Paus Leo XII pada tanggal 20 Desember.
Roma menemukan bahwa nama St. Charles Borromeo sudah dipakai oleh kongregasi lain. Pilihan nama yang diberikan oleh Paus adalah “Missionary Oblates of MARY IMMACULATE”. Tidak ada motif apapun dalam diri Eugenius, tetapi nama tersebut mengekspresikan kodrat, isi dan fungsi dari Kongregasi yang ingin didirikan oleh St. Eugenius, mencerminkan kedekatan Eugenius dengan Bunda Maria, sekaligus mencerminkan spiritualitas Maria pada peristiwa yang dialami Gereja saat itu. Nama “Oblat Maria Imakulata” adalah pemberian istimewa dari surga, nama yang lahir untuk merespon kebutuhan Gereja di mana para anggotanya mengimitasi Maria Imakulata “untuk mempersembahkan diri” terhadap rencana penyelamatan Allah.

Uskup Eugenius de Mazenod dan Pengesahan Dogma Maria Imakulata

Paus Pius IX mengesahkan dogma Maria Imakulata

Sebagai Uskup sekaligus Bapa Pendiri OMI, Mgr. Eugenius de Mazenod ikut berkontribusi mengembangkan spiritualitas Maria. Beliau adalah seorang yang sederhana, terbuka untuk kehendak surga dan percaya penuh pada Maria. Beliau adalah orang yang kokoh secara tradisi patristik dan biblis, seorang yang berani untuk melawan devosi Maria yang menyimpang.
Paus Pius mengeluarkan Ubi Primum tanggal 2 Februari 1849, dan Paus meminta informasi kepada Mgr. Eugenius tentang devosi, harapan imamat, kepercayaan dan perasaan pribadinya terhadap pemahaman Maria Imakulata. Mgr. Eugenius merespon dengan antusias, beliau hadir sebagai Uskup Marseilles sekaligus sebagai Pendiri Oblat Maria Imakulata untuk memberi kesaksian tradisi iman Gereja dalam proses pengesahan dogma Maria Imakulata.
Selama pertemuan para uskup di tahun 1854, Mgr. Eugenius mengeluarkan segala kemampuannya untuk meneliti agar dogma tersebut memang benar-benar sesuai tradisi. Pada hari pengesahan dogma Maria Imakulata, Mgr. Eugenius berdiri di samping Paus Pius IX. Pada ulang tahun pertama dogma Maria Imakulata, Mgr. Eugenius mengorganisir perayaan di Marseilles yang sebanding dengan perayaan di Roma, dan mendirikan monumen Maria Imakulata.

Gua Maria dan Kongregasi OMI

Gua Maria Kaliori

Dalam Surat Apostolik Pengesahan Konstitusi dan Aturan OMI tahun 1826, Paus Leo XII menyebutkan pentingnya pelayanan Gua Maria oleh OMI demi pembaruan Gereja selama masa revolusi. Bagi Mgr. Eugenius, pelayanan dan kehadiran OMI di Gua Maria mempunyai beberapa tujuan. Tujuan tersebut adalah menyediakan khotbah bagi umat beriman demi membangun semangat pertobatan, pengakuan dosa, pembaruan komitmen iman Katolik, pembaruan tempat ziarah yang terbengkalai selama masa revolusi, sekaligus Gua Maria menjadi tempat yang ramah untuk dikunjungi bagi Oblat untuk belajar, istirahat dan menimba rahmat Allah. Di mana pun para Oblat diutus, mereka akan mendirikan Paroki dengan Gua Maria, atau setidaknya mempromosikan devosi Maria.
Kongregasi Oblat Maria Imakulata telah mendapat banyak permintaan untuk melayani Gua Maria karena menyandang nama Maria. Seiring berjalannya waktu, para Oblat melihat kebutuhan untuk mengembangkan tempat ziarah di tempat-tempat tertentu karena kisah mukjizat, penyembuhan atau kisah iman, seperti peristiwa di San Juan, Texas, USA. Peristiwa yang sama juga terjadi di Notre-Dame de Laus, yang merupakan Gua Maria adalah tempat pertama para Oblat melayani.
Setelah kematian Bapa Pendiri pada 21 Mei 1861, para Oblat tetap setia pada semangat misionaris St. Eugenius dan tetap kreatif dalam pelayanan. Para Oblat diminta melayani di beberapa tempat suci Maria lainnya di Perancis : (1) Notre-Dame d`Arcachon, Gindore, (2) Notre-Dame de Neuvizy, Ardennes, (3) Notre-Dame de Benoit-Vaux, Meuse. Hingga saat ini, para Oblat masih melayani di (4) Notre-Dame de Pontmain, Mayenne, (5) Notre-Dame de Neunkirch, Bas-Rhin dan (6) Notre-Dame de Lourdes di mana Bunda Maria menampakkan diri pada St. Bernardette “Que soy era Immaculada Councepciou, I am the Immaculate Conception”, (7) dan lain-lain termasuk Gua Maria Kaliori di Indonesia yang diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.

Penulis: Fr. Rezerius Bintang Taruna, OMI